Sunday, March 9, 2014

Evolusi Logo PPI Bremen

PPI Bremen sebagai organisasi yang hidup berevolusi seiring dengan pergantian generasi dari waktu ke waktu. Sebagian sifat dari generasi sebelumnya berubah ketika diturunkan pada generasi berikutnya. Hanya sifat yang sesuai kondisi zaman  yang sintas (survival of the fittest). Salah satu pertanda evolusi pada PPI Bremen adalah evolusi pada logo. Jadi tulisanku kali ini adalah tentang logo.

Logo suatu organisasi menggambarkan semangat yang diperjuangkan para anggotanya. Dari logo, kita bisa merasakan gairah penciptanya. Logo menyimbolkan ciri khas suatu organisasi berdasarkan identitas anggota, kondisi geografis tempat organisasi berada dan semangat zaman (Zeitgeist). Pergantian logo menggambarkan perubahan generasi.

Mari kita lihat perkembangan logo PPI Bremen.

***

Logo PPI Bremen, sejak 2014

Logo PPI Bremen, karya Rizal Fadillah, 2014


Sejak 2014, PPI Bremen menggunakan logo dengan tulisan "PPI" berwarna hitam dan "Bremen" berwarna hijau, dengan latar belakang putih. Warna hijau dan putih adalah juga warna tim sepakbola Werder Bremen (wiki: en,de,id). Sejak 2003, ada lagu "Lebenslang Grün-Weiss" untuk Werder Bremen, yang artinya "Selamanya Hijau dan Putih". Selain tulisan, ada gambar siluet 4 hewan yang bernama "Die Bremer Stadtmusikanten" atau "The Town Musician of Bremen" (wiki: de,en). Keempat hewan adalah keledai, anjing, kucing dan ayam jantan. Di Bremen, patung keempat hewan berada tepat di sebelah Alte Rathaus (Balai Kota Lama). Logo PPI Bremen ini karya Rizal Fadillah (fb,tw,tumblr).

Video "Weder Bremen, Lebenslang Grün-Weiss" bisa dilihat di youtube.
Entah kenapa, screenshot videonya dipilih yang menit segitu.

***

Logo PPI Bremen, tahun 2007 s.d. 2013

Logo PPI Bremen, Tim Designer, 2007


Antara tahun 2007 dan 2013, logo PPI Bremen menggunakan tulisan "PPI" berwarna bendera Jerman (Hitam, Merah dan Emas) dan tulisan "Bremen" berwarna biru. Gambar siluet "Die Bremer Stadtmusikanten" ditaruh di huruf 'I' pada "PPI". Huruf 'P' yang merah dan latar belakang berwarna putih juga melambangkan bendera Merah Putih Indonesia. Aku lupa, logo ini dibuat oleh siapa. Aku duga dibuat oleh Vita Amanda (fb,) dan Ilham Nirwan alias Coy (fb,wiki: id). Yang jelas, Ilham berkata bahwa logo PPI Bremen selalu dibuat oleh tim.

Menurut teori evolusi, karakteristik yang diturunkan dari logo 2007 ke logo 2014 adalah tulisan "PPI Bremen" dan siluet "Die Bremer Stadtmusikanten", sedangkan warna, ukuran huruf, letak komponen, dll mengalami mutasi. Warna bendera Jerman bermutasi menjadi warna Werder Bremen. Sesuatu nilai yang bersifat nasional menjadi lebih lokal. Semangat kedaerahan muncul, ketika jumlah pelajar Indonesia di Bremen semakin meningkat. PPI Bremen semakin bisa melakukan kegiatan secara mandiri dan tidak bergantung dengan PPI Jerman dan PPI tetangga.

***

Logo PPI Bremen sebelum 2007

Logo PPI Bremen, Dendy Asrari dan Ilham Nirwan,  2005


Sebelum Oktober 2006, PPI Bremen belum ada. Yang ada itu milis PPI Bremen. Sebelum ada milis, ada juga istilah "Rukun Tetangga (RT) Bremen". Intinya sih, makan gak makan asal ngumpul. PPI Bremen dirintis oleh anggota milis yang kopi darat juga sambil makan-makan.

Logo PPI Bremen, tahun 2005, menggunakan tulisan "Bremen" berwarna hitam, tulisan "PPi" yang mengandung unsur bendera Jerman (Hitam, Merah, Emas) dengan urutan yang tidak pas dan logo PPI Jerman sebelah kiri. Huruf "i" yang merah dengan latar belakang putih juga melambangkan Bendera Merah Putih Indonesia.

Logo ini dibuat oleh Dendy Asrari (fb), mulai tahun 2005, dibantu teman-kos-nya: Ilham Nirwan. Logo ini sudah melalui tahap peer-review di milis PPI Bremen, nyaris 2 tahun. Paper ilmiah IEEE Transaction dan Elsevier memilki tahap peer-review dengan rata-rata 6 bulan. Akan tetapi, logo ini butuh 2 tahun, jadi logo ini sungguh teruji. OK, lebih tepatnya, anggota milis PPI Bremen pada komat-kamit dalam menentukan lokasi gambar, warna yang dipilih, ukuran font dan gambar, dll.

Berdasarkan teori evolusi, yang diturunkan dari logo 2005 kepada 2007 adalah unsur warna bendera Jerman dan Indonesia serta tulisan "Bremen" dan "PPI" atau "PPi". Huruf 'i' bermutasi menjadi 'I'. Ukuran dan bentuk font juga mengalami mutasi. Logo PPI Jerman tidak sintas (survive) diturunkan kepada generasi selanjutnya. Logo ini digantikan dengan "Die Bremer Stadtmusikanten". Unsur kemahasiswaan PPI Jerman, yang melambangkan hubungan internasional Jerman-Indonesia digantikan unsur lokal Bremen, yaitu keempat hewan. Jerman dan Indonesia hanya digambarkan dengan warna dan tulisan "PPI" pada logo 2007. Pendiri PPI Bremen adalah tokoh-tokoh yang menginginkan independensi dari PPI Jerman, yang waktu itu redup. Semangat zaman (Zeitgeist) saat itu adalah otonomi PPI lokal dan bukan kontrol dari PPI Jerman yang terpusat.

***

Berikut ini, logo PPI Jerman yang mendasari logo PPI Bremen 2005. PPI Jerman adalah akar dari PPI Bremen.

Logo PPI Jerman

Pada gambar di atas, terdapat warna Hitam-Merah-Emas pada Bendera Jerman serta Merah Putih pada Bendera Indonesia. Sebelah kiri, ada logo PPI Jerman. Huruf "P" pada logo dibuat simetris dan huruf "I" dibuat dengan gambar obor. Aku tidak tahu penjelasan resminya. Akan tetapi, obor biasanya menggambarkan semangat yang berkobar atau terang ilmu pengetahuan.

Logo PPI Jerman, 2013


Di tahun 2006, logo PPI Jerman dianggap tidak senonoh atau berbau pornografi, jadinya ada usul untuk diubah. Akan tetapi hingga kini, PPI Jerman tetap menggunakan logonya. Beberapa PPI lokal, seperti PPI Bremen, menghilangkan logo PPI Jerman dan mendesain logo sendiri sesuai identitas lokal. PPI Jerman tidak memiliki kontrol atas PPI kota di bawahnya.

Tahun 2005, PPI Jerman meredup. Milis PPI Jerman ada. Akan tetapi pengurusnya tidak ada, sehingga harus direvitalisasi di akhir tahun 2006. Sulit untuk membuat PPI Jerman seperti tahun 70-an dan 80-an. Serangkaian kasus penyalahgunaan kekuasaan pengurus dan pelarian uang organisasi di tahun 90-an membuat PPI Jerman ditinggalkan. PPI lokal lebih menarik, walaupun beberapa PPI lokal  di Jerman juga menyalahgunakan uang dan kekuasaan.

Lalu krisis Indonesia tahun 1998  dan perubahan sistem pendidikan tinggi di Jerman dari tahun 1999 hingga 2010 membuat kultur mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang berbeda. Kelahiran Friendster (2002) dan Facebook (2004) serta media sosial lain juga membuat organisasi pelajar di Indonesia bergerak dengan cara yang baru. Di zaman sekarang, smartphone dengan aplikasinya membuat anggota PPI berkomunikasi dengan cara lain.

Sistem organisasi pelajar di Jerman saat ini masih mampu mengelola event kesenian dan olahraga dalam bentuk yang massal dan lancar. Namun ketika berhadapan dengan kegiatan konferensi ilmiah dan kegiatan politik Jerman-Indonesia serta perlindungan hak pelajar Indonesia, organisasi pelajar di Jerman saat ini masih gagap. Zaman Habibie masih jadi mahasiswa di Jerman dan  zaman sekarang memiliki tantangan berbeda.

Apa pun yang terjadi, semoga organisasi seperti PPI Bremen maupun PPI Jerman bisa menjawab tantangan zaman. Sesuai teori evolusi Darwinian, hanya mereka yang sesuai (fit) dengan keadaan lingkungannya yang akan sintas dalam seleksi alam.


Bremen, 9 Maret 2014

Monday, December 23, 2013

Setahun di Bremen 2.0

Ternyata sudah setahun aku berada di Bremen 2.0. Kusebut versi 2.0, karena dulu aku pernah hidup dan kuliah di Bremen untuk kemudian bekerja sejenak di Bayern. Aku mulai bekerja di Bremen 17 Desember 2012 dan berhenti di akhir Mei 2013. Lalu menjalani masa-masa pencarian kerja (baca: pengangguran), hingga awal September 2013, aku mulai mengerjakan kegiatan doktoral di kota tetangga Bremen, yaitu Oldenburg.



Di Bremen ini pula, aku telah menyelesaikan pelaporan pajak, seperti yang kurencanakan tahun lalu. Laporan pajak ini cukup rumit karena harus melengkapi dokumen ini-itu dari berbagai instansi. Aku menggunakan konsultan pajak (Steuerberater) dari Arbeitnehmerkammer Bremen. Aku membayar 10 EUR untuk laporan pajak tahun 2011 dan 10 EUR lagi untuk 2012. Jadi total biaya konsultasi 20 EUR. Untuk tahun depan, aku masih bisa menggunakan jasa Arbeitnehmerkammer Bremen untuk laporan pajak 2013. Sesudah itu, aku harus melaporkan pajak sendiri tanpa konsultan. Aku akan menggunakan Elster untuk urusan ini.



Di Bremen 2.0, aku juga gagal bersosialisasi. Masing-masing memiliki kesibukan berbeda. Sulit juga mengharmoniskan jadwal bertemu dengan kawan-kawan lama di Bremen. Akibatnya ketika aku pindahan, tiada kawan yang membantu walau tangan berdarah-darah. Banyak orang baru di Bremen dan karena aku introvert, aku sulit berkenalan dengan mereka. Selain itu, aku sudah tua dan mereka rata-rata masih muda. Orang-orang yang bisa menjembataniku dengan kaum muda sulit kutemui. Kegiatan PPI Bremen juga sepertinya mati tahun ini. Pengurus PPI Bremen sama sekali tidak bisa mengakses kaum muda dan acaranya. Aku lumayan terisolasi tahun ini dan sulit berkenalan dengan orang baru.

Tahun ini juga di Bremen, bukan waktu dan tempat yang cocok untuk mencari jodoh. Aku masih sibuk dengan urusan kerja (dan karir). Aku belum punya karir. Jadi kalau ada yang bilang kalau aku sudah mapan, rasanya aku ingin menonjoknya. Apalagi kalau bilang, kalau aku mapan dan saatnya mencari jodoh, aku ingin menonjoknya lalu menendangnya. Intinya aku sedang disibukkan dengan pencarian jati diri. Aku masih meraba-raba di mana tempatku di dunia kerja dan ingin jadi apa aku. Aku tidak mau melibatkan diri dalam kompetisi pencarian jodoh yang melelahkan. Dulu aku harus berkompetisi tingkat tinggi untuk mendapatkan mantanku yang cantik. (Suruh siapa cari jodoh harus cantik, ya?)

Aku tidak dapat kerja, karir, dan cinta di Bremen. Kini aku menjadi mahasiswa doktoral di Oldenburg. Mungkin kota ini lebih menjanjikan? Aku tak tahu. Sekarang aku tinggal di Bremen dan berkarya di Oldenburg. Aku menjadi komuter antara kedua kota ini. Aku juga belum tahu apakah tahun depan, aku akan pindah ke Oldenburg. Beberapa rekan kerja dan rekan studi tinggal juga berkomuter antara dua kota ini. Kemungkinan besar aku akan tetap tinggal di Bremen selama 3 tahun. Aku malas pindahan.

Aku ingin bersyukur atas satu tahun di Bremen ini. Semoga angin Bremen membawaku ke taman harapan. Di sana aku akan menari dan bernyanyi dalam alunan puji syukur kepada Sang Pencipta.


Bremen, 23 Desember 2013

iscab.saptocondro

Monday, November 18, 2013

Akhir pekan di pertengahan November 2013

Akhir pekan lalu di Bremen, aku ingin pergi ke gereja St. Johann di Bremen lalu makan-makan bersama kawan-kawan Perki Bremen. Akan tetapi bukan itu yang terjadi di akhir pekan lalu.

Selain ingin makan enak di Perki Bremen di hari Minggu, aku juga ingin ikut rapat Natal Perki Bremen. Aku kebagian seksi konsumsi. Akan tetapi bukan itu yang terjadi di akhir pekan lalu.

Pada hari Sabtu, aku ingin makan-makan bersama  beberapa mahasiswi doktoral. Aku ingin merasakan menu all-you-can-eat, di suatu warung bakso di Bremen. Sekalian berkenalan dan berdiskusi. Akan tetapi bukan itu yang terjadi di akhir pekan lalu.

Pada hari Jumat malam, aku pergi ke acara Indian Culture Night di ESG Bremen. Makanannya enak, bahkan sampai nambah. Aku berkenalan dengan mahasiswi cantik tinggi dari Toulouse Perancis yang belajar ekologi dan mahasiswi cantik keriting Bremen yang belajar psikologi. Ingin bisa melanjutkan party bersama salah satu dari mereka. Good boys go to heaven but I wanna be taken anywhere. Akan tetapi bukan itu yang terjadi di akhir pekan lalu.

Pada acara kebudayaan India tersebut, seperti biasa di akhir acara ada World Party. Lagu-lagu dugem Punjabi yang memiliki "beat" yang sesuai jiwaku. Loncat-loncat, tarian Bangra, dll. Aku pun bergembira bersama mahasiswa-mahasiswi India. Beberapa mahasiswi India bergoyang dengan temperamen energik. Sebagai  seorang "dance aficionado", aku suka klepek-klepek sama cewek yang menari energik dan sporty. Buatku tarian Punjabi, Afrika, maupun Amerika Latin memiliki temperamen yang asyik dan penuh gairah. Aku berharap bisa dugem lama bersama mereka, menikmati musik Punjabi. Akan tetapi bukan itu yang terjadi di akhir pekan lalu.

Yang terjadi di akhir pekan lalu adalah seorang Dukun Kuncen kehilangan kuncinya. Akhir pekan yang indah, dan penuh rencana, menjadi rusak. Ketika aku merogoh isi celanaku, bukan dalam rangka hal-hal mesum dan maksiat, aku menemukan sesuatu yang hampa atau nihil. Inilah awal dari kisah Dukun Kuncen kehilangan kunci.


Bremen, 18 November 2013

iscab.saptocondro

Padamnya KJRI Hamburg

Bulan ini, aku berusaha memiliki paspor baru. Aku berusaha mencari info: persyaratan dan formulir yang penting. Aku tahu tempat terdekat untuk mengurus paspor adalah Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Hamburg. Ketika aku mengutak-atik upil dan internet, kutemukan website KJRI Hamburg, seperti di bawah ini.

Laman KJRI Hamburg, 8 November 2013


Ternyata laman ini lagi turun (down) karena belum bayar hosting. Sempat panik, kalau ini ulah Anonymous Australia. Ternyata cuma belum lunas.



Sepuluh hari berlalu. Aku pun membuka lagi laman tersebut. Kini sudah bisa dibuka. Formulir sudah kuunduh dan syarat-syarat penting pun kukumpulkan. Sekarang saatnya merencanakan perjalanan ke Hamburg. Semoga paspor bisa lekas kudapat dan tahun depan aku memiliki status, yang tidak seperti lagu Vidi Aldiano.



Sesungguhnya status pada visaku masih belum jelas. Semoga tahun depan, aku bisa mendapat visa Student dengan paspor baru.


Bremen, 18 November 2013

iscab.saptocondro

Dukun Kuncen kehilangan kunci

Di hari Jumat Pon menjelang tengah malam, yang berarti Malam Sabtu Wage, seorang Dukun Kuncen kehilangan kunci-kuncinya. Ini bukan teknik kuncian ketika memiting orang dalam bela diri. Ini juga bukan kunci dalam bermain gitar, baik kunci "Key" maupun kunci "Chord". Ini betul kunci sekunci-kuncinya.

Dukun Kuncen yang biasa memegang kunci pusaka yang menghubungkan dua dunia, bisa kehilangan kunci rumahnya. Bagaimana bisa? Sungguh memalukan! Ini adalah bentuk malpraktek Dukun Kuncen.

Dukun Kuncen ini pun merapal mantra dan berdevosi kepada St. Antonius dari Padua, Italia, sambil mengayuh sepedanya melewati jalan-jalan yang ia lalui sebelumnya. Dimulai dari tempat pesta di dunia gemerlap, hingga rumahnya. Kenikmatan duniawi tidak bisa dirasakan dukun ini, malah ia harus menunggu pesta usai untuk mencari kunci sekaligus membantu membersihkan tempat dunia kelap-kelip. Padahal sudah kenalan dengan beberapa cewek cantik dan banyak cewek seksi yang pandai bergoyang. Ya, nasib! Ya, nasib!

Dukun Kuncen ini pun harus menelpon teman kosnya untuk membukakan pintu, dengan smartphone yang "low bat". Betapa sialnya, dukun ini. Teman kosnya pun mandi tanpa kembang lewat tengah malam untuk mempersilakan Dukun Kuncen ini bisa masuk kembali ke rumahnya.

Dalam menarik kekuatan gaib untuk menuntaskan masalah kunci ini, Dukun Kuncen membuka buku mantra Haftpflichtversicherung. Dukun ini pun kaget dan "shock" (Apa bedanya, yah?).

Ternyata mantra Schlüsselversicherung tidak ada di dalamnya. Kitab mantra ini tidak sesakti kitab premium, ini baru mantra dasar. Ia pun panik. Rencana berburu serigala Jack Wolfskin untuk dijadikan jaket musim dingin buyar sudah. Ia akan mengeluarkan banyak kepeng Eropa demi masalah kunci ini.

Tiga hari, Dukun Kuncen ini pun berpantang, yang tidak ada hubungannya dengan diet OCD yang lagi trendy. Ia pantang keluar rumah sebelum masalah kehilangan kunci ini beres. Ia mengontak ibu kosnya untuk menyelesaikan bersama-sama. Mungkin akibat mantra kepada St. Antonius dari Padua dan mantra Lingkaran Sakti Mawar Bunda Maria, ibu kos luluh dan hanya menyuruh Sang Dukun Kuncen pergi ke Schlüsseldienst. Di sana, dia akan bertemu Nymph Kuncen bernama Suzi Schlüsselschmied.

Sesampainya di perempatan sakti, tempat kakak beradik Sam dan Dean Winchester bertemu "crossroads demon" di film seri Supernatural, Si Dukun mencari Nymph tersebut. Dukun pun menemukan gerbang yang tertutup menuju alam nymph. Untuk melakukan mantra "Nymph Summoning", ia membaca tulisan pada gerbang tersebut: "Opening Hour bla bla bla". Oh, bukanya satu jam lagi.

Sang Dukun Kuncen pun meresapi mantra tersebut. Ia mengingat bahwa untuk mendapatkan sesuatu, seseorang harus berpuasa dan berpantang. Sang Dukun teringat diet OCD, sebagai metode puasa. Oleh karena itu, pergilah ia ke warung kebab Ali Baba dan makan Dürüm Kambing terlezat dan terempuk sambil membayangkan dirinya sedang diet OCD.

Ternyata teknik ini berhasil menciptakan ilusi mengenai waktu. Tidak sehebat dilatasi waktu pada Teori Relativitas Khusus, tapi perspektif mengenai waktu bisa bergeser. Satu jam menunggu di warung kebab masih lebih baik daripada menunggu di depan pintu Schlüsseldienst.

Sang Dukun Kuncen bisa bertemu Suzi Schlüsselschmied. Nymph ini memberi Ngraga Sukma Kunci, suatu teknik duplikasi kunci. Untuk ini, dukun harus bersepeda bolak-balik dari rumah dan tempat nymph ini. Semua karena satu kunci tidak pas dengan lubangnya. Semua perjuangan kunci ini usai sudah.

Teman kos yang mandi tanpa kembang lewat tengah malam


Demi kunci yang hilang, ia kehilangan Sabtu Diet OCD Impian bersama kawan-kawan di tukang bakso.
Demi kunci yang hilang, ia kehilangan Minggu Diet OCD Impian bersama kawan-kawan di perjamuan kudus plus-plus.
Demi kunci yang hilang, ia kehilangan Senin Thesis dan harus ke tukang kebab membayangkan dirinya melakukan diet OCD.

Ternyata Dukun Kuncen ini tidak semandra-guna Dukun Teguh yang kesaktiannya bisa membuat gunung Eyjafjallajökull di Islandia meletus ketika ia mencabut kuncinya di Eropa. Dukun Kuncen baru ini masih dalam masa percobaan menjadi dukun. Memang lebih mudah menjadi dukun cabul daripada dukun kuncen.

Bremen, 18 November 2013


Doa Kepada St. Antonius dari Padua, kalau kehilangan barang (wiki: en,de,id).


Wednesday, November 13, 2013

Nasi Manis Wangi

Senin kemarin, aku berinovasi memasak Nasi Manis Wangi. Seperti biasa, aliran seni memasak yang kumiliki adalah aliran ekperimentalis. Aku selalu kritis terhadap dogma-dogma yang bernama resep masakan. Inovasi harus ada dalam memasak, bukan hanya dalam penelitian. Aku mencoba memasak nasi dengan aroma yang wangi.

Bagaimana cara membuat resep Nasi Manis Wangi?

Beginilah caranya.

Pertama, bangunlah pagi dalam keadaan mengantuk.

Kedua, berencanalah memasak Nasi Kuning. Sebetulnya lebih tepat disebut nasi berwarna kuning, karena tidak menggunakan santan dan bumbu-bumbu itu.

Ketiga, rencanakan memasukkan bubuk kunyit. Walau rencana tinggallah rencana.

Keempat, sadarilah bahwa ternyata tidak punya bubuk kunyit dan yang tadi dimasukkan adalah bubuk kayu manis. Makanya kalau ngantuk jangan masak!

Kelima, terimalah nasi yang bercampur kayu manis tadi dan berilah ia nama "Nasi Manis Wangi". Karena kali ini, nasi tidak menjadi bubur, melainkan menjadi wangi.

Begitulah resep membuat Nasi Manis Wangi.

***

OK, keesokan harinya, aku membeli bumbu yang benar. Supaya masak makanan kaga hancur lagi. Teman kosku yang cantik pun kaga sudi makan Nasi Manis Wangi hasil seni masak eksperimentalisme dariku.

***

Nampaknya aku harus mengikuti workshop memasak lagi di Bremen. Aku harus menyatukan Bremen dalam memasak, sehingga masakanku yang Chaotic bisa lebih terkendali oleh suatu Order. Workshop yang pernah kuikuti adalah sebagai berikut



Inovasi berikutnya adalah Siomay Janda Kembang. Tunggu tanggal mainnya eh masaknya.


Oldenburg, 13 November 2013

iscab.saptocondro

Tuesday, August 13, 2013

Bencana Toilet

Hari ini, aku mengalami bencana di toilet. Berbeda dengan ketika di Nürnberg, Bayern dulu, ketika aku harus menangani alat guyur (flush) yang jebol di hari pertama aku tinggal. Selain itu, pipa pembuangan yang didesain tidak benar mengakibatkan aku tidak boleh membuang banyak sesuatu ke toilet. Aku harus membuang sedikit sesuatu, lalu guyur, lalu sedikit lagi sesuatu, lalu guyur. Sesuatu itu termasuk juga toilet paper, bukan hanya tahi. Jadinya boros air, sih. Tapi demi kelancaran mengguyur, mau tak mau harus begitu.

Kali ini, di Bremen, toiletku lebih menyenangkan. Desain pipa pembuangan benar, jadi aliran air lancar. Sayangnya dudukan toilet tidak terpasang dengan benar. Untuk orang dengan berat badan ekstra seperti diriku, dudukannya sering goyah. Jadinya aku harus duduk dengan hati-hati supaya tidak tiba-tiba miring. Kemiringannya masih dalam tahap tidak mengganggu kelancaran bidikan antara lubang toilet dengan lubang lainnya pada manusia. Tapi kalau tiba-tiba miring, efeknya bisa mengagetkan.

Ternyata hari ini, bukan hanya efek yang mengagetkan, melainkan membencanakan. Ketika aku sedang bersih diri, tiba-tiba gubrakkk. Dudukan toilet mendadak miring ke kiri. Bukan hanya kaget, ada hal lain yang bikin repot. Kerepotan ini terjadi karena tissue atau toilet paper untuk bersih diri tiba-tiba masuk ke lubang anusku. Aku pun kebingungan memikirkan bagaimana mengeluarkan tissue dari anus. Kucoba mengeden, ternyata susah. Mau tidak mau, tissue harus kutarik dari lubang anus. Akhirnya bisa kukeluarkan dengan sempurna.

Bencana toilet hari ini mengingatkanku akan indahnya Indonesia. Di sana, aku tak perlu kertas untuk bersih diri. Aku cukup menggunakan sabun dan air. Aku tak perlu kena musibah tissue masuk ke dalam lubang anus. Musibah hari ini, membuatku merasa bahwa aku disodomi secara nista oleh kertas toilet setelah dijebak oleh dudukan toilet. Hari ini, akibat musibah ini, suara kentutku tidak berbunyi "tut... tut... tut...", tetapi "hah... hah... hah...".

Hari ini, aku harus belajar banyak untuk lebih berhati-hati dengan dudukan toilet. Aku pun menulis di blog ini karena kalau diceritakan secara lisan, aku merasa diriku sungguh nista dan tidak dipercaya di hadapan kawan-kawanku.


Bremen, 13 Agustus 2013

iscab.saptocondro

P.S. "Bersih diri" artinya cebok