What an Indonesian hears when a German ask "Warum?":
"Vaghghum?"
What a German hears when an Indonesian ask "Warum?":
"Uaarrrrrum?"
Nürnberg, 1 Septermber 2012
Hidup di Bremen. My life in Bremen, Germany. Mein Leben in Bremen, Deutschland. Studi di Uni Bremen. My study in the University of Bremen. Ignatius Sapto Condro A.B. (iscab.saptocondro)
What an Indonesian hears when a German ask "Warum?":
"Vaghghum?"
What a German hears when an Indonesian ask "Warum?":
"Uaarrrrrum?"
Nürnberg, 1 Septermber 2012
Jaman dahulu, aku kuliah di Bremen. Di sini ada Bremens Brise atau Bremen's breeze, yang artinya angin sepoi-sepoi Bremen. Tingkat sepoi-sepoinya betul-betul sesuai dengan kenyamanan mesin pembangkit listrik, bukan kenyamanan manusia yang mudah masuk angin.
Seperti di kota-kota Jerman Utara lainnya, orang sini tidak menggemari payung. Pepatah "sedia payung sebelum hujan" tidak berlaku di sini. Jas hujan lebih berguna daripada payung 5 euro yang tak bakal berbentuk lagi kalau terkena angin dari Laut Utara.
Di negara bagian Bremen, terdapat dua kota: Bremen dan Bremerhaven. Orang yang senang dengan hujan dan angin, cocok tinggal di Bremerhaven. Orang yang senang naik sepeda di jalan yang relatif datar-datar saja cocok tinggal di kedua kota tersebut. Rem sepeda tidak terlalu dibutuhkan di kota Bremen, berdasarkan pengalamanku yang selalu punya sepeda murahan tanpa rem yang jelas.
Sungai Weser melalui kota Bremen hingga Bremerhaven di Laut Utara. Pelaut-pelaut hanseatik jaman dahulu melalui sungai ini dengan Hansa Cog ketika mereka berlabuh di Bremen. Dengan kapal yang lebih besar dari Hansa Kogge, mereka membawa tembakau dari seluruh dunia untuk diperdagangkan di Tabak Börse (bursa tembakau Eropa) di Bremen.
Di Bremen dan Bremerhaven ada mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang membentuk PPI Bremen dan KKOB. PPI Bremen itu singkatan dari Perhimpunan Pelajar Indonesia di Bremen, bagian dari PPI Jerman. KKOB itu Kita-kita Orang Bremen, yang kerjaannya ngumpul buat masak-masak, makan-makan, nonton film, dan membantu menghabiskan makanan kalau ada kegiatan orang Indonesia di Bremen. Semboyan KKOB adalah "Hajar dan Habisi!" (kalau ketemu makanan).
Universitas apa saja yang ada di Bremen-Bremerhaven?
Kampusnya kaga sebanyak kampus di kota Bandung, apalagi Jakarta. Tapi aliran dana penelitiannya kencang. Uni Bremen selalu masuk 5 besar dalam menyerap dana penelitian dari Pemerintah Jerman.
Kuliah di perguruan tinggi negeri di sini tidak dipungut uang kuliah 500 euro (tuition) kalau belum lewat batas 7 tahun kuliah dan kalau kamu putra daerah (Landeskinder). Putra daerah maksudnya orang yang tinggal dan terdaftar (angemeldet) di Bremen. Jadi kalau mau kuliah gratis, jangan tinggal melewati perbatasan kota Bremen atau Bremerhaven. Jangan terima apartemen di Delmenhorst karena itu udah negara bagian Niedersachsen (Lower Saxony), sudah bukan Freie Hansestadt Bremen.
Walau tidak ada uang kuliah, tapi tiap semester ada biaya sekitar 200 euro untuk status mahasiswa, administrasi, perpustakaan, fasilitas olahraga murah, dan yang paling penting buat jalan-jalan: Semesterticket. Dengan tiket ini, mahasiswa-mahasiswi Bremen bisa "studi banding" ke Hannover, Hamburg, Osnabrück, Cuxhaven, Emden, dll.
Orang Indonesia jaman Orde Soeharto senang mengambil jurusan teknik, kelautan, dan ilmu alam di Bremen. Kalau mengambil jurusan ekonomi, politik, dan sosial, bisa dicurigai sebagai komunis karena Uni Bremen adalah kampus kiri (Linke). Tapi jaman sekarang beda. Orang Indonesia kini banyak mengambil International Studies of Global Management (ISGM) di HS Bremen, supaya bisa ikut pertukaran pelajar ke Jogja atau Bandung.
Kalau ingin kuliah di 4 kampus sekaligus di Bremen, bisa memilih jurusan Digital Media, baik bachelor maupun master. Jurusan ini kerja sama kampus Uni Bremen, HS Bremen, HS Bremerhaven, dan HfK Bremen. Kalau ingin meneliti laut di Indonesia bisa mengambil S3 di Uni Bremen dan berkantor di Leibniz-Zentrum für Marine Tropenökologie (ZMT) kalau suka sosio-ekologi tropis atau Max Planck Institute (MPI) kalau suka mikrobiologi laut. Bisa dimulai dari jurusan master International Studies in Aquatic Tropical Ecology (ISATEC), yang di atas 90% mahasiswanya didanai oleh DAAD.
Apa kegiatan mahasiswa-mahasiswi Indonesia di Bremen?
Nürnberg, 26 Mei 2012
Selain tentang biaya hidupku tahun 2011 di Bremen, aku ingin menulis tentang biaya hidup seorang dukun di Bremen. Baca tulisan sampai bawah kalau ingin tahu dukun ini lebih lanjut.
***
Biaya bulanan
TOTAL bulanan = 165 EUR
***
Biaya Semester
Biaya semester dibagi 6 = 32,5 EUR
Jadi tiap bulan dia butuh 197,5 EUR.
Ditambah biaya darurat 25% (49,38 EUR) menjadi 246,88 EUR per bulan.
***
Biaya di atas hanyalah ramalan alias prediksi dari dukun lain di Bremen yang pindah ke Nürnberg. Penjelasannya sebagai berikut.
***
Dukun ini disebutkan dalam kisahku di Bremen ketika makan-makan bersama Mba Rina dan legenda Bremen. Tempat tinggal dukun kuncen ini, yaitu Kuburan 24, pernah kuceritakan ketika meninggalkan Bremen. Dukun ini sangat sakti. Dia pernah kuliah di kampus Gajah Tapa di Bandung. Seperti logo kampus perguruan tinggi negeri di Bandung tersebut yang duduk di atas buku, dukun ini pernah tidur di atas puluhan buku yang dipinjam dari Uni Bremen dan HS Bremen.
Cerita ini kudapat dari teman kosnya di Kuburan 24. Puluhan buku ditumpuk rapi, lalu di atasnya ditumpuk pakaian-pakaian kemudian sprei. Tidurlah dukun ini dengan tenang di atas buku-buku tersebut.
Ketika dukun kuncen ini pergi dari Bremen dan terbang ke Indonesia untuk selamanya, kosmologi Bremen berubah drastis. Kemudian gunung Eyjafjallajökull meletus di Islandia yang abunya mematikan penerbangan di Eropa. Kesaktiannya betul-betul mengguncangkan Eropa. Dukun-dukun lain di Bremen pun terguncang dan mereka melakukan tapa thesis bersama-sama secara serius untuk menghormati kepergian dukun dari Kuburan 24 ini.
Nürnberg, 25 Februari 2012
Bremen adalah rumah ketigaku. Di sana aku pernah kuliah dan bertemu kawan-kawan baru. Kalau kuhitung, aku datang April 2006 dan pergi Agustus 2011. Ternyata aku di sana 5 tahun, 4 bulan. Kawan datang dan pergi. Dari kawan diskusi hingga kawan dugem. Oh, ya, di sana aku kuliah otomasi (Automation Engineering/Automatissierungstechnik). Aku kuliah 2 tahun. Dua tahun efektif, sisanya hura-hura, :-).
Tempat nongkrong berubah-ubah. Kuburan 24 Woltmershausen, Haferkampung, Perempatan Subway Neustadt, Jambie, Wisma Ten Ten One, Tabak Börse, dll. Beberapa telah tutup. Sekarang mungkin bakal ada tempat nongkrong lain.
Tempat belanja makanan Asia yang kuingat adalah Vina Store di dekat Am Brill dan Wing Wa di dekat Schuesselkorb. Keduanya memiliki kecap dan sambal Indonesia. Di tempat baruku, belum kutemukan kecap dan sambal Indonesia.
Dukun di Bremen juga berubah-ubah. Dukun adalah orang yang kalau membuka mulutnya bakal keluar kata-kata yang tidak dimengerti oleh orang banyak. Kayak komat-kamit. Di Kuburan 24 dulu pernah ada dukun. Di tempat lain, mungkin juga ada dukun. Mungkin aku juga dukun.
Di Bremen ini kurasakan dua kali mati lampu dan satu kali banjir yang menenggelamkan beberapa mobil. Mati lampu pertama terjadi karena ganti sekring dan meteran di rumah. Mati lampu kedua terjadi karena tetangga sebelah terkena masalah listrik yang menyebabkan satu jalan harus dimatikan untuk perbaikan kabel. Banjir di Bremen terjadi tahun ini karena saluran air bawah tanah dan reservoir buatan tidak mampu menampung air. Mungkin ini efek perubahan iklim.
Bremen bagiku seperti kawah Candradimuka bagi Gatotkaca. Di sana aku belajar menjadi mandiri. Juga mengasah ilmu mata hatiku dalam mengenal manusia. Di sana, aku belajar melawan kesepian. Ternyata jumlah teman tidak akan mengobati kesepian. Yang bisa mengobati kesepian adalah diri sendiri. Aku belajar menggunakan jeruk. Ketika kesepian sudah akut dan tak punya uang untuk bayar pulsa telpon, juga tiada teman chatting, aku mengobrol dengan jeruk. Akhirnya kusadari bahwa tapa jeruk ini membuahkan hasil. Kesepian menjadi tak bermakna lagi bagiku. Secara mandiri, aku bisa melawan kesepian. Tapi ada efek samping tapa ini, yaitu nampaknya aku menjadi dukun di Bremen.
Walau aku sulit lepas dari Bremen, tapi naluri dukunku berkata bahwa di luar sana ada sesuatu yang besar menantiku. Keluar dari Bremen adalah cara untuk menuju langit. Bremen bagai kepompong dan aku sekarang menjadi kupu-kupu yang telah keluar dari kepompong. Sekarang aku akan terbang ke langit tinggi menggapai cita-citaku yaitu jadi Engineer. Darah Juang!
***
Ing ngarso Signal Processing.
Ing madyo Matematiko.
Tut wuri Control Engineering.
Pada pertemuan ini dibicarakan mengenai program kerja Kon3 tahun 2011-2013 (bisa dilihat di sini dan akan kujelaskan di blog post lain). Selain itu, Kon3 ingin berkenalan dengan komunitas mahasiswa-mahasiswi internasional di Universitas Bremen. Yang datang tidak banyak, seperti yang ditulis di atas, karena ini baru pertemuan pertama. Pada pertemuan selanjutnya Kon3 mengijinkan tiap komunitas mahasiswa diwakili oleh 4 orang.
Hasil perkenalan sebagai berikut
Hal-hal yang ditawarkan oleh Kon3 tercantum dalam selebaran yang dibagikan. Kira-kira bagian pentingnya adalah