Showing posts with label kuliah. Show all posts
Showing posts with label kuliah. Show all posts

Thursday, March 31, 2016

Kuliah di Bremen, part 2

Jaman dulu, aku menulis tentang kuliah di Bremen, ketika aku masih bekerja di Nürnberg, Bayern. Tulisanku dulu adalah tentang kampus di Bremen dan kegiatan orang-orang Bremen. Kini aku kembali tinggal di Bremen, namun aku studi doktoral di Oldenburg, Niedersachsen. Banyak hal yang berubah di Bremen: orang-orangnya, aturan kuliah, dll.

***

Jurusan kuliahku dulu di Universität Bremen berganti nama, dari Information and Automation Engineering (IAE) menjadi  Control, Microelectronics, Microsystems (CMM), mulai 1 April besok (web resmi). Aku pun teringat kalau aku belum melakukan penyetaraan ijazah di Dikti. Kini jurusanku sudah "bubar".



Selain itu, lulusan Teknik Elektro ITB tidak bisa lagi mendaftar di jurusan tersebut: CMM Uni Bremen. Masalahnya karena Teknik Elektro ITB tidak terakreditasi di Anabin, suatu lembaga penyetaraan ijazah milik Pemerintah Jerman (web Anabin). Aku beruntung karena lulus ITB dan mendaftar ke Uni Bremen di waktu yang tepat. Adik kelasku terkena masalah akreditasi Anabin ini, jadi pendaftaran ke Uni Bremen ditolak tahun 2015 lalu. Masalah ini terjadi karena Dikti dan atase pendidikan Indonesia di Berlin tidak sistematis melakukan reakreditasi perguruan tinggi di Indonesia ke Anabin. Berat juga jadi Dikti, harus mengurus ribuan perguruan tinggi di Indonesia dan harus mengirim dokumen ke Anabin Jerman, supaya antar universitas bisa mudah pertukaran pelajar, studi lanjut, dll.

Aku hanya bisa berkomentar bahwa suatu sistem yang berhasil hanya karena keberuntungan, bukanlah suatu sistem yang kokoh. Makanya ilmuwan menghitung p-value dan chance level, dalam pekerjaan mereka untuk yakin apakah kerjaan mereka bermakna atau tidak.

***

Satu hal yang perlu kukoreksi dari tulisanku sebelumnya ialah kuliah di Bremen adalah kebijakan putra daerah (Landeskinder). Kini kebijakan ini dihapuskan. Jadinya kini tiada lagi uang kuliah (tuition fee / Studiengebühren) bagi mahasiswa/i yang kuliah di perguruan tinggi negeri di Bremen kalau mereka tinggal di luar negara bagian Bremen, seperti Hamburg atau Niedersachsen. Dulu kawanku yang tinggal di Hamburg harus meminjam nama alamatku di Bremen, supaya tidak bayar uang kuliah Uni Bremen. Kini, ada kawan yang tinggal di Achim, Niedersachsen, lalu kuliah di Hochschule Bremen, tanpa kena aturan uang kuliah non-putra daerah. Jadi kuliah gratis itu menjadi semakin nyata

***

Semakin banyak mahasiswa-mahasiswi di Bremen. Grup-grup masyarakat Indonesia di Bremen juga semakin kompleks:
  • Persatuan Pelajar Indonesia (PPI), di Bremen, yang lebih banyak orang, jadi tiap tahun bisa bikin acara kebudayaan yang penuh warna dan massal secara swasembada. Dulu harus nambah penari dan pemain musik tradisional dari kota lain: Hannover atau Hamburg. Kini PPI Bremen sudah jadi organisasi rapi dan lincah serta mandiri.
  • Keluarga Muslim Indonesia Bremen e.V., dulu kusebut Pengajian Bremen. Kini sudah jadi organisasi terdaftar di Jerman (eingetragene Verein, disingkat e.V.). Kalau bayar amal, zakat, infaq, dan sedekah ke sini, bisa mendapat pengurangan pajak, karena sudah e.V.
    Kini, ada "Ngaji Ibu-ibu Bremen" dan Pengajian Remaja Bremen (PRB) untuk mengisi kebutuhan yang lebih spesifik.
  • Persatuan Kristen Indonesia (Perki) Bremen. Kegiatannya adalah kebaktian oikoumene dan pendalaman Alkitab.
  • Keluarga Mahasiswa Katolik Indonesia (KMKI) Bremen. Yang kini sudah bubar lagi. Tulisanku sebelumnya menyebutkan kalau mereka baru dibentuk. Usianya pendek juga. KMKI Bremen belum mandiri secara organisasi, masih tergantung KKI Bremen.
  • Keluarga Katolik Indonesia (KKI) Bremen. Tiap bulan Mei dan Oktober mengadakan Doa Rosario. Beruntunglah di Bremen, kalau lagi berdoa bersama di rumah keluarga tidak ada FPI dan organisasi semiripnya yang menggerebek.
  • Calon Doktor (Cator) Bremen. Kegiatannya adalah kumpul-kumpul mahasiswa doktoral dan kawan-kawan selingkaran.
  • Persatuan Wanita Indonesia (PWI) Bremen. Kegiatannya adalah arisan, dll.
  • Gowes Bareng Yuk, kelompok bersepeda bareng di Bremen. Kegiatannya tur sepeda antar kota di Bremen dan sekitarnya.
  • Gracioso Chamber Choir (GCC), yaitu kelompok paduan suara Indonesia di Bremen. 
  • Studenten-Bibelkreis Bremen, yaitu klub pendalaman Alkitab mahasiswa/i Bremen (dan sekitarnya) yang merasa Pendalaman Alkitab di Perki Bremen kurang intensif atau kurang greget.
  • Klub gamelan kini tinggal satu, yaitu di Übersee museum Bremen (web museum). Kalau tidak salah, nama klub ini adalah Arum Sih (web). Aku dulu ikut klub lain di Bremen jadi tidak terlalu tahu klub ini.
  • Ada grup mama baru Indonesia di Bremen. Lebih tepatnya grup untuk ibu yang memiliki anak bayi dan balita.
  • Juga ada grup Tempat Penitipan Anak.
  • Masih banyak grup lain di Bremen yang tidak berada dalam radarku.
Aku tidak tahu, cocoknya bergaul di grup mana. Aku sudah sulit bergaul dengan PPI Bremen karena mereka sangat muda, sedangkan aku si tua bangka. Aku masih bergaul dengan Perki Bremen, demi alasan historis romantis dan makanan enak. Sejak tiada Tabak Börse Bremen, aku tidak gabung lagi ke acara Idul Fitri dan Idul Adha bersama Pengajian Bremen, kini bernama Keluarga Muslim Indonesia Bremen e.V.. Aku juga mencoba bergaul dengan Cator Bremen, karena identitasku sebagai mahasiswa doktoral. Beberapa Cator Bremen adalah orang-orang yang kukenal sejak Bremen 1.0. Jadi kini lingkaran gaulku terbatas oleh alasan historis romantis saja. Aku sudah sulit berkenalan dengan orang baru dan mulai susah mengingat nama orang. Aku betul-betul sudah menua.

Tidak berapa lama lagi, angin Bremen bertiup. Akan ada kerjasama lebih erat antara Pemerintah daerah Bremen, Volkhochschule (VHS) Bremen, dan masyarakat Indonesia di Bremen. Semoga kerjasama ini bisa menyatukan orang Indonesia di Bremen lagi, paska "hilangnya" Tabak Börse.


***

Kini ada tiga toko Indonesia di Bremen. Sedangkan aku semenjak mengalami Bremen 2.0 belum pernah belanja di salah satu toko tersebut. Jadinya lokasi pasti ketiga toko tersebut tidak bisa kutulis di posting kali ini.

Vina Store di Am Brill sudah tidak menjadi toko Asia pilihan favorit di Bremen. Kini dekat Hauptbahnhof Bremen juga ada toko Asia lainnya. Aku jarang belanja di toko Asia, karena lidah dan perutku relatif sudah pasrah ter-jerman-kan.

Tempat makan legendaris di Bremen:
  • Tantuni, seperti sudah kusebut di tulisan sebelumnya.
  • Mommy, rumah makan Ibu Afrika, di daerah Bremen-Neustadt. Sambalnya enak tapi berbahaya (nikmat bibir yang bisa membawa pada siksa dubur). Sop kambing serasa gulai Indonesia. 
  • Ali Baba, tempat makan Dürum di Bremen-Neustadt. Tidak bisa dipakai nongkrong, karena kursi terbatas.
  • Sea Moon, rumah makan Asia di Bremen-Viertel. Makanannya variatif. Ada menu babat di sini.
  • Rumah Makan Surabaya, mengandung makanan Indonesia. 
  • dan masih banyak tempat makan lainnya, sesuai selera masing-masing.
Tempat makan di atas, adalah tempat di mana aku bisa berpapasan dengan orang Indonesia, secara kebetulan.

***

Tulisanku sebelumya (part 1), bisa dibaca di "Kuliah di Bremen" (wp) atau "Kuliah di Bremen" (blogger). Terima kasih, telah membaca.


Oldenburg dan Bremen, 31 Maret 2016

iscab.saptocondro

Saturday, May 26, 2012

Kuliah di Bremen

Jaman dahulu, aku kuliah di Bremen. Di sini ada Bremens Brise atau Bremen's breeze, yang artinya angin sepoi-sepoi Bremen. Tingkat sepoi-sepoinya betul-betul sesuai dengan kenyamanan mesin pembangkit listrik, bukan kenyamanan manusia yang mudah masuk angin.

Seperti di kota-kota Jerman Utara lainnya, orang sini tidak menggemari payung. Pepatah "sedia payung sebelum hujan" tidak berlaku di sini. Jas hujan lebih berguna daripada payung 5 euro yang tak bakal berbentuk lagi kalau terkena angin dari Laut Utara. 

Di negara bagian Bremen, terdapat dua kota: Bremen dan Bremerhaven. Orang yang senang dengan hujan dan angin, cocok tinggal di Bremerhaven. Orang yang senang naik sepeda di jalan yang relatif datar-datar saja cocok tinggal di kedua kota tersebut. Rem sepeda tidak terlalu dibutuhkan di kota Bremen, berdasarkan pengalamanku yang selalu punya sepeda murahan tanpa rem yang jelas.

Sungai Weser melalui kota Bremen hingga Bremerhaven di Laut Utara. Pelaut-pelaut hanseatik jaman dahulu melalui sungai ini dengan Hansa Cog ketika mereka berlabuh di Bremen. Dengan kapal yang lebih besar dari Hansa Kogge, mereka membawa tembakau dari seluruh dunia untuk diperdagangkan di Tabak Börse (bursa tembakau Eropa) di Bremen.

Di Bremen dan Bremerhaven ada mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang membentuk PPI Bremen dan KKOB. PPI Bremen itu singkatan dari Perhimpunan Pelajar Indonesia di Bremen, bagian dari PPI Jerman. KKOB itu Kita-kita Orang Bremen, yang kerjaannya ngumpul buat masak-masak, makan-makan, nonton film, dan membantu menghabiskan makanan kalau ada kegiatan orang Indonesia di Bremen. Semboyan KKOB adalah "Hajar dan Habisi!" (kalau ketemu makanan).

Universitas apa saja yang ada di Bremen-Bremerhaven?

  • Universität Bremen (uni), kampusku dulu tempat aku kuliah sastra
  • Hochschule Bremen (HS)
  • Hochschule Bremerhaven (HS)
  • Hochschule für Künste Bremen (HfK)
  • Hochschule für Öffentliche Verwaltung Bremen (HfÖV)
  • Hochschule für Internationale Wirtschaft und Logistik (HIWL), kaga gratis
  • Jacobs University Bremen (Jacobs), universitas swasta, kuliah Bachelor dan Master di sini kaga gratis, ada uang kuliah 10000 euro per semester.

Kampusnya kaga sebanyak kampus di kota Bandung, apalagi Jakarta. Tapi aliran dana penelitiannya kencang. Uni Bremen selalu masuk 5 besar dalam menyerap dana penelitian dari Pemerintah Jerman.

Kuliah di perguruan tinggi negeri di sini tidak dipungut uang kuliah 500 euro (tuition) kalau belum lewat batas 7 tahun kuliah dan kalau kamu putra daerah (Landeskinder). Putra daerah maksudnya orang yang tinggal dan terdaftar (angemeldet) di Bremen. Jadi kalau mau kuliah gratis, jangan tinggal melewati perbatasan kota Bremen atau Bremerhaven. Jangan terima apartemen di Delmenhorst karena itu udah negara bagian Niedersachsen (Lower Saxony), sudah bukan Freie Hansestadt Bremen.

Walau tidak ada uang kuliah, tapi tiap semester ada biaya sekitar 200 euro untuk status mahasiswa, administrasi, perpustakaan, fasilitas olahraga murah, dan yang paling penting buat jalan-jalan: Semesterticket. Dengan tiket ini, mahasiswa-mahasiswi Bremen bisa "studi banding" ke Hannover, Hamburg, Osnabrück, Cuxhaven, Emden, dll.

Orang Indonesia jaman Orde Soeharto senang mengambil jurusan teknik, kelautan, dan ilmu alam di Bremen. Kalau mengambil jurusan ekonomi, politik, dan sosial, bisa dicurigai sebagai komunis karena Uni Bremen adalah kampus kiri (Linke). Tapi jaman sekarang beda. Orang Indonesia kini banyak mengambil International Studies of Global Management (ISGM) di HS Bremen, supaya bisa ikut pertukaran pelajar ke Jogja atau Bandung.

Kalau ingin kuliah di 4 kampus sekaligus di Bremen, bisa memilih jurusan Digital Media, baik bachelor maupun master. Jurusan ini kerja sama kampus Uni Bremen, HS Bremen, HS Bremerhaven, dan HfK Bremen. Kalau ingin meneliti laut di Indonesia bisa mengambil S3 di Uni Bremen dan berkantor di Leibniz-Zentrum für Marine Tropenökologie (ZMT) kalau suka sosio-ekologi tropis atau Max Planck Institute (MPI) kalau suka mikrobiologi laut. Bisa dimulai dari jurusan master International Studies in Aquatic Tropical Ecology (ISATEC), yang di atas 90% mahasiswanya didanai oleh DAAD.

Apa kegiatan mahasiswa-mahasiswi Indonesia di Bremen?

  • PPI Bremen, yang kegiatan utamanya makan-makan dan olahraga bareng kalau cuaca mendukung. Setelah olahraga bareng, ada makan-makan.
  • Pengajian Bremen, yang tidak dipengaruhi oleh partai politik atau aliran tertentu, berbeda dengan beberapa kota lain di Jerman.
  • KMKI Bremen, baru dibentuk oleh Dewangga dan Pau Pau.
  • Perki Bremen, yang mengadakan kebaktian setiap minggu III dan pendalaman kitab suci tiap minggu I tiap bulan
  • Gracioso Chamber Choir, buat yang suka paduan suara. Dilatih oleh Robin yang murah senyum dan penuh dedikasi.
  • Gamelan, ada dua klub tempat belajar gamelan 
  • Temu Tantuni, bertemu di warung Tantuni untuk makan Dürüm.
  • Temu Hauptbahnhof, bertemu di stasiun, biasanya ini kegiatan insidental dalam rangka ganti angkot atau janjian sama teman.
  • Temu Vina, bertemu di Vina Store, toko Asia tempa beli beras Asia Tenggara, indomie, dan bumbu-bumbu favorit orang Indonesia. Ini juga biasanya kebetulan.
  • KKOB (Kita-kita Orang Bremen), ini perkumpulan misterius di Bremen. Tokoh utamanya para dukun pemegang pusaka. Semakin sakti seorang dukun, semakin kuat hidungnya dalam mengendus informasi acara makan-makan.
  • Pergi ke danau universitas (Uni See) dan bergabung telanjang dengan kaum nudis di FKK Strand. OK, yang ini, tidak dilakukan oleh kebanyakan mahasiswa-mahasiswi Indonesia di Bremen. Biasanya kita cuma bakar-bakar (Grillen), bermusik, main bola santai, atau main kartu di pantai danau ini.

Nürnberg, 26 Mei 2012

iscab.saptocondro