Showing posts with label bremerhaven. Show all posts
Showing posts with label bremerhaven. Show all posts

Saturday, May 26, 2012

Kuliah di Bremen

Jaman dahulu, aku kuliah di Bremen. Di sini ada Bremens Brise atau Bremen's breeze, yang artinya angin sepoi-sepoi Bremen. Tingkat sepoi-sepoinya betul-betul sesuai dengan kenyamanan mesin pembangkit listrik, bukan kenyamanan manusia yang mudah masuk angin.

Seperti di kota-kota Jerman Utara lainnya, orang sini tidak menggemari payung. Pepatah "sedia payung sebelum hujan" tidak berlaku di sini. Jas hujan lebih berguna daripada payung 5 euro yang tak bakal berbentuk lagi kalau terkena angin dari Laut Utara. 

Di negara bagian Bremen, terdapat dua kota: Bremen dan Bremerhaven. Orang yang senang dengan hujan dan angin, cocok tinggal di Bremerhaven. Orang yang senang naik sepeda di jalan yang relatif datar-datar saja cocok tinggal di kedua kota tersebut. Rem sepeda tidak terlalu dibutuhkan di kota Bremen, berdasarkan pengalamanku yang selalu punya sepeda murahan tanpa rem yang jelas.

Sungai Weser melalui kota Bremen hingga Bremerhaven di Laut Utara. Pelaut-pelaut hanseatik jaman dahulu melalui sungai ini dengan Hansa Cog ketika mereka berlabuh di Bremen. Dengan kapal yang lebih besar dari Hansa Kogge, mereka membawa tembakau dari seluruh dunia untuk diperdagangkan di Tabak Börse (bursa tembakau Eropa) di Bremen.

Di Bremen dan Bremerhaven ada mahasiswa-mahasiswi Indonesia yang membentuk PPI Bremen dan KKOB. PPI Bremen itu singkatan dari Perhimpunan Pelajar Indonesia di Bremen, bagian dari PPI Jerman. KKOB itu Kita-kita Orang Bremen, yang kerjaannya ngumpul buat masak-masak, makan-makan, nonton film, dan membantu menghabiskan makanan kalau ada kegiatan orang Indonesia di Bremen. Semboyan KKOB adalah "Hajar dan Habisi!" (kalau ketemu makanan).

Universitas apa saja yang ada di Bremen-Bremerhaven?

  • Universität Bremen (uni), kampusku dulu tempat aku kuliah sastra
  • Hochschule Bremen (HS)
  • Hochschule Bremerhaven (HS)
  • Hochschule für Künste Bremen (HfK)
  • Hochschule für Öffentliche Verwaltung Bremen (HfÖV)
  • Hochschule für Internationale Wirtschaft und Logistik (HIWL), kaga gratis
  • Jacobs University Bremen (Jacobs), universitas swasta, kuliah Bachelor dan Master di sini kaga gratis, ada uang kuliah 10000 euro per semester.

Kampusnya kaga sebanyak kampus di kota Bandung, apalagi Jakarta. Tapi aliran dana penelitiannya kencang. Uni Bremen selalu masuk 5 besar dalam menyerap dana penelitian dari Pemerintah Jerman.

Kuliah di perguruan tinggi negeri di sini tidak dipungut uang kuliah 500 euro (tuition) kalau belum lewat batas 7 tahun kuliah dan kalau kamu putra daerah (Landeskinder). Putra daerah maksudnya orang yang tinggal dan terdaftar (angemeldet) di Bremen. Jadi kalau mau kuliah gratis, jangan tinggal melewati perbatasan kota Bremen atau Bremerhaven. Jangan terima apartemen di Delmenhorst karena itu udah negara bagian Niedersachsen (Lower Saxony), sudah bukan Freie Hansestadt Bremen.

Walau tidak ada uang kuliah, tapi tiap semester ada biaya sekitar 200 euro untuk status mahasiswa, administrasi, perpustakaan, fasilitas olahraga murah, dan yang paling penting buat jalan-jalan: Semesterticket. Dengan tiket ini, mahasiswa-mahasiswi Bremen bisa "studi banding" ke Hannover, Hamburg, Osnabrück, Cuxhaven, Emden, dll.

Orang Indonesia jaman Orde Soeharto senang mengambil jurusan teknik, kelautan, dan ilmu alam di Bremen. Kalau mengambil jurusan ekonomi, politik, dan sosial, bisa dicurigai sebagai komunis karena Uni Bremen adalah kampus kiri (Linke). Tapi jaman sekarang beda. Orang Indonesia kini banyak mengambil International Studies of Global Management (ISGM) di HS Bremen, supaya bisa ikut pertukaran pelajar ke Jogja atau Bandung.

Kalau ingin kuliah di 4 kampus sekaligus di Bremen, bisa memilih jurusan Digital Media, baik bachelor maupun master. Jurusan ini kerja sama kampus Uni Bremen, HS Bremen, HS Bremerhaven, dan HfK Bremen. Kalau ingin meneliti laut di Indonesia bisa mengambil S3 di Uni Bremen dan berkantor di Leibniz-Zentrum für Marine Tropenökologie (ZMT) kalau suka sosio-ekologi tropis atau Max Planck Institute (MPI) kalau suka mikrobiologi laut. Bisa dimulai dari jurusan master International Studies in Aquatic Tropical Ecology (ISATEC), yang di atas 90% mahasiswanya didanai oleh DAAD.

Apa kegiatan mahasiswa-mahasiswi Indonesia di Bremen?

  • PPI Bremen, yang kegiatan utamanya makan-makan dan olahraga bareng kalau cuaca mendukung. Setelah olahraga bareng, ada makan-makan.
  • Pengajian Bremen, yang tidak dipengaruhi oleh partai politik atau aliran tertentu, berbeda dengan beberapa kota lain di Jerman.
  • KMKI Bremen, baru dibentuk oleh Dewangga dan Pau Pau.
  • Perki Bremen, yang mengadakan kebaktian setiap minggu III dan pendalaman kitab suci tiap minggu I tiap bulan
  • Gracioso Chamber Choir, buat yang suka paduan suara. Dilatih oleh Robin yang murah senyum dan penuh dedikasi.
  • Gamelan, ada dua klub tempat belajar gamelan 
  • Temu Tantuni, bertemu di warung Tantuni untuk makan Dürüm.
  • Temu Hauptbahnhof, bertemu di stasiun, biasanya ini kegiatan insidental dalam rangka ganti angkot atau janjian sama teman.
  • Temu Vina, bertemu di Vina Store, toko Asia tempa beli beras Asia Tenggara, indomie, dan bumbu-bumbu favorit orang Indonesia. Ini juga biasanya kebetulan.
  • KKOB (Kita-kita Orang Bremen), ini perkumpulan misterius di Bremen. Tokoh utamanya para dukun pemegang pusaka. Semakin sakti seorang dukun, semakin kuat hidungnya dalam mengendus informasi acara makan-makan.
  • Pergi ke danau universitas (Uni See) dan bergabung telanjang dengan kaum nudis di FKK Strand. OK, yang ini, tidak dilakukan oleh kebanyakan mahasiswa-mahasiswi Indonesia di Bremen. Biasanya kita cuma bakar-bakar (Grillen), bermusik, main bola santai, atau main kartu di pantai danau ini.

Nürnberg, 26 Mei 2012

iscab.saptocondro

Tuesday, February 9, 2010

Haferkampung

Haferkampung adalah sebuah film seri. (Film? Ini kisah nyata, lho)

Serial ini tidak bercerita tentang kehidupan orang di Melrose Place (dan seri barunya), melainkan di sebuah rumah dekat halte Haferkamp di Bremen. Jadi kaga ada Heather Locklear atau Alyssa Milano di serial ini. Haferkampung adalah wisma mahasiswa Indonesia plus-plus, maksudnya plus Singapura, Malaysia, dan Rusia.

Haferkampung adalah rumah dekat halte Haferkamp dan di atas sebuah kafe bernama Legend. Halte Haferkamp ada tiga:
  • dekat Penny, tempat beli kebutuhan sehari-hari. Penny ini adalah sumber logistik warga Haferkampung. Halte ini adalah akses ke stasiun utama Bremen (Hauptbahnhof), dilalui angkot no. 10 dan N10 (Strassenbahn).
  • dekat taman, tempat Grillen (bakar-bakar daging, sate, dll) dan olahraga warga Haferkampung beserta teman-teman mereka. Halte ini adalah akses ke pusat kota Bremen, yaitu Domsheide. Halte ini dilalui angkot no. 2 (Strassenbahn).
  • depan kafe Legend, artinya depan rumah mereka langsung. Halte ini adalah akses ke Gropelingen Ghetto, tempat membeli paha ayam ukuran maha agung. Halte ini dilalui angkot no. 2, 10, dan N10 (Strassenbahn).
Serial ini sudah melewati banyak "season" atau "Staffel". Pemainnya banyak berganti. Namun kisah di Haferkampung selalu menggemaskan, hangat, dan penuh kenangan.


Season 1 : Haferkampung
Pemain utama:
Suatu hari di musim gugur 2007, tepatnya 30 Oktober 2007, asap keluar dari suatu dapur di rumah yang sudah berlumut dekat Wallering, Bremen. Rumah tersebut sebelumnya kebanjiran akibat pipa yang bocor. Selain banjir, lumut kerak, jamur, dan makhluk hidup lainnya mulai mengganggu penghuni rumah. Vita pun marah, dia membakar rumah. Rumahpun penuh asap bagai kisah Ramayana ketika Hanoman membakar Alenka (ada soundtrack lagu dangdut Hanoman Kobong, lho). Saat itulah hari kepindahan Vita dan Ucup ke Haferkampung.

Suatu hari di musim sebelumnya, di suatu pertapaan yang jauh, yang hanya bisa dilewati melalui hutan gelap Hueckelriede, seorang bernama Dendy gundah. Dia gundah karena Fortress of Solitude yang dimilikinya terlalu kecil untuk istrinya (Eva) yang akan datang ke Bremen. Dendy pun memikirkan untuk pindah dari tempat gelap tersebut. Habis gelap terbitlah terang! Dendy berencana pindah ke Haferkampung.

Haferkampung...
...rumah impian...
Berempat bersatu dalam cinta dan persahabatan...
...yang hangatnya bagai pelukan ibunda bagi banyak orang Indonesia di Bremen

Serial inipun dimulai dengan intrik internal warga Haferkampung dan eksternal pengunjung rumah ini.

***

OK, prolog sebelumnya perlu lebih dijelaskan lagi. Vita dan Ucup pindah karena rumah lamanya kebanjiran akibat pipa bocor. Asap tersebut karena Vita lupa mematikan kompor listrik dan ada bahan mudah terbakar yang ditaruh di atas kompor. Tidak ada api, tapi ada asap akibat kayu tatakan yang terbakar. Namun bencana itu berhasil diatasi oleh Pahlawan Pembela Kebetulan dari Sabang (tidak sampai Merauke), sehingga kebakaran tidak bereskalasi secara luas.


Season 2 : New Haferkampung
Pemain utama:
Suatu hari di akhir musim semi 2008, Dendy dan Eva pindah ke Hamburg karena Dendy sudah lulus kuliah dan memiliki pekerjaan baru. Di tempat lain, Yean Sin, seorang mahasiswi asal Singapura, terusir dari sebuah rumah di asrama mahasiswa Findorff dekat halte Weidedamm dekat taman kota Bürgerpark. Dia terusir karena rayuan seorang Casanova (maksudnya Nathaniova). Yean Sin harus menemukan rumah baru dan hatinya tertambat di Haferkampung. Dia mulai menebarkan keceriaan baru di rumah tersebut menggantikan Dendy dan Eva.

Haferkampung...
...All good things go by three.


Season 3 : Summer of Joy (Kerinduan)
Pemain utama:
Suatu musim panas 2008, Ucup harus menjalankan Dharma Mahasiswa di Pulau Dewata. Untuk waktu yang singkat tersebut, Faris, seorang mahasiswa asal Malaysia, menggantikan Ucup. Saat inilah keahlian memasak warga Haferkampung terasah semakin dalam karena ada Faris yang menjadi tester masakan tersebut. OK, kemampuan bersih-bersih juga meningkat karena biasanya selain rajin masak, Ucup yang paling rajin bersih-bersih.

Season ini singkat bukan karena ada demo penulis di Amerika Serikat melainkan karena kerja praktek Ucup di Bali emang singkat.

Diduga SBY (Presiden Indonesia) membuat album "Kerinduanku" terinspirasi dari ide season 3 Haferkampung ini.


Season 4 : Ucup Strikes Back
Pemain utama:
Awal musim gugur 2008, Ucup kembali ke Haferkampung membawa segenggam rindu dan sepotong cerita. Yean Sin dan Vita menyambut Ucup dengan segenggam tepung. OK, kaga tahu berapa genggam, yang jelas Ucup penuh tepung. Karena tidak ada kanibalisme di Haferkampung, tidak mungkin ada Ucup Goreng Tepung atau Ucup Schnitzel.

Saat inilah, Ucup menjadi ketua PPI Bremen. Ucup membuat Haferkampung bagai mentari yang menerangi dan menghangatkan jiwa pemuda-pemudi Bremen (dan Bremerhaven serta Emden).

Di akhir season ini, Yean Sin disuguhi Stripper dadakan. Kenapa sampai begitu?


Season 5 : A Walk to Remember (Ingatlah Hari Ini)
Pemain utama:
Musim semi 2009, Yean Sin lulus kuliah dan diterima Ph.D di Frankfurt. Pesta perpisahan mengundang Stripper dadakan untuk Yean Sin. Sayang sekali strippernya gemuk (tapi lentur dan boleh dibilang lincah) jadi Yean Sin pun langsung eneg. Yean Sin diganti oleh Nora, mahasiswi SGU yang menjalankan Dharma di Bremen. Ini adalah perpisahan pertama pada season 5.

Awal musim panas 2009, PPI Bremen di bawah kepemimpinan Ucup von der Haferkampung berhasil membuat acara kesenian Indonesia di Bremen. Acara ini sudah direncanakan sebelum Haferkampung berdiri dan baru terjadi sekarang akibat angin cinta dari Utara menghembus hingga Bremen. Negeri Cinta tersebut adalah Bremerhaven. Tokoh-tokoh baru Bremerhaven menambah pemain dalam Indonesian Day di Bremen. Intrik cinta tokoh Bremerhaven inilah yang membuat serial ini semakin seru.

Awal musim gugur 2009, perpisahan pun terjadi. Satu pemain sampingan yaitu DJ Ipon lulus kuliah dan pindah ke Berlin. Hah, siapa itu DJ Ipon? Sorry, tadi lupa disebutkan. Pada season 1, DJ Ipon mengenalkan Yean Sin kepada Vita dan Ucup. Tanpa DJ Ipon, cerita season 2 dan season 4 bakal berbeda. DJ Ipon juga pernah jadi ketua PPI Bremen abad 21 dan selalu mengingatkan orang Indonesia untuk membuat acara Indonesian Day.

Perpisahan paling mengharukan pada season 5 adalah perpisahan Vita. Dia tokoh utama Haferkampung selama 5 season. Dia lulus kuliah dan pindah ke Jakarta yang jaraknya seperempat keliling bumi dari Bremen. Cowok-cowok fans berat Vita di Bremen terharu menyaksikan akhir season 5.

Haferkampung...
...pertemuan adalah awal dari perpisahan


Season 6 : Haferkampung Sunrise (Terbitnya Sang Surya)
Pemain utama:
Sepeninggal Vita, datanglah Surya yang menggantikan Vita. Surya adalah mahasiswa kimia asal Papua, yang sempat kuliah sebentar di UGM, Yogyakarta. Dia senang bercerita sehingga Haferkampung bagai negeri dongeng. Orang menjadi senang ke wisma tersebut mendengarkan cerita Negeri Sang Surya, yaitu Papua (dan Yogyakarta).

Pada season 1, ada Pahlawan Pembela Kebetulan dari Sabang (tapi tidak sampai Merauke) dan pada season 6 inilah kosmologi Haferkampung dilengkapi dengan mahasiswa asal Jayapura (lumayanlah masih satu pulau dengan Merauke, daripada tidak ada sama sekali). Soundtrack season ini adalah "Dari Sabang sampai Merauke", berjajar pulau-pulau. Aceh merdeka dan Papua merdeka!

Nora juga digantikan oleh Aneta, mahasiswi dari pegunungan Kaukasus di Rusia, rekan kuliah Vita. Sebetulnya Aneta sudah muncul dari season 1 tapi bukan sebagai pemain utama. Aneta juga lebih mencintai Kaukasus yang tak berhubungan dengan Rusia. Kaukasus merdeka!

Season ini berlangsung singkat karena Aneta pergi ke Lebanon. Dia pergi bukan untuk mendukung Palestina merdeka namun untuk senang-senang dan belajar hal baru.


Season 7 : Haferkampung Extreme (Karma dan Dharma)
Pemain utama:
Akhir musim gugur 2009, Lia menggantikan Aneta. Lia adalah mahasiswi psikologi Bremen. Dia sudah muncul sejak season 3. Pada season 5, kemunculannya semakin sering. Pada season 7 inilah, Lia menjadi tokoh utama. Dia salah satu orang yang membawa keceriaan Haferkampung selain Ucup.

Pada season 7 ini, kosmologi asap mengalami keseimbangannya. Ini adalah karma. Pada season 1, rumah lama diasapi oleh Vita karena kelalaian mematikan kompor. Kali ini Haferkampung diasapi secara sengaja dengan batang yang menyala. Batang yang membawa kebahagiaan sejenak. Nikotin memang enak.

Kosmologi air juga mengalami keseimbangannya. Karma kedua. Pada season 1, rumah lama kebanjiran akibat pipa yang bocor. Pada season 7 ini, kran dapur sempat lepas (atau patah). Surya dan Ucup harus mengembalikan kosmologi air bah. Banjir pun tidak terjadi karena keseimbangan antara yin dan yang tercapai. Surya dan Ucup menjalankan Dharmanya dengan sukses.

Season ini diakhiri dengan rencana Ucup menjalankan Dharma Mahasiswa di Berlin.

Haferkampung...
...What goes around comes around


Season 8: P2P (Haferkampuang nan jauah di Mato)
Pemain utama:
Akhir musim dingin, menuju musim semi 2010, Ucup pergi ke Berlin dan digantikan oleh Rio. Lia adalah orang Padang yang Malang (maksudnya keturunan Padang, tinggal di Malang) sedangkan Rio asli Padang. Selama waktu yang singkat Rio tinggal di Haferkampung.

Haferkampung P2P adalah Haferkampung Padang Padang Papua. Kayanya cuma Lia yang pake protokol P2P untuk download film (P2P = Point-to-point). Surya masih menggunakan protokol HTTP dan RTP untuk download film.

Surya dan Lia menghadapi Dharma masing-masing, yaitu ujian. Keduanya berjuang keras melawan rasa malas. Ujian inilah penentuan kelangsungan hidup keduanya di Bremen.

Bagaimanakah cara Surya dan Lia mengungkapkan kerinduan mereka akan Ucup?
Saksikanlah serial Haferkampung ini!

Wednesday, February 3, 2010

Sabtu akhir Januari 2010

Sabtu lalu, 30 Januari 2010...
...ada apa?

***

Kisah ini bermula Kamis lalu, ketika Si Cantik tidak membalas telponku. Sehari kemudian, aku mendengar suara merdunya melalui telpon dari Mas Dalang. Mereka mengajakku jalan-jalan ke Bremerhaven pada hari Sabtu. Aku memberi sinyal positif kepada mereka.

Sabtu pagi (lebih tepatnya siang), kami berlima:
  • Aku (punya keahlian memprediksi kenyataan dari gosip menggunakan Kalman Filter)
  • Si Cantik (punya keahlian bikin orang tampil ganteng atau cantik di foto)
  • Mbak Sapu Jagad (punya keahlian bersih2: nyapu, ngepel)
  • Mas Dalang (Dalang Java Script)
  • Mba Dalang (istri Mas Dalang, jago main gamelan, lho)
kumpul di HBf Bremen
(urutan di atas ditulis berdasarkan orang2 yg kutemui pertama kali)

Kami pun naik kereta RE jam 10.56 tidak terlambat. Dari Bremen menuju Bremerhaven butuh sekitar 30 menit. Sesampainya kami di sana, kami berjumpa dengan Mbau Pau. Kami naik bus cinta di Bremerhaven menuju Pondok Indah Mbau Pau.

Di rumah beliau kami disuguhi dengan makanan spesial mahasiswa, yaitu Pizza. Di rumah tersebut ada bola sakti buat olahraga. Semua mencoba bola ini untuk mencoba-coba latihan pengencangan perut.

Sesudah itu, kami berenam pergi keliling kota. Kami menuju Klimahaus. Aku satu-satunya yang belum pernah melihat dan masuk gedung tersebut. Para cantik melakukan window shopping, Mas Dalang foto2, sedangkan aku bolak-balik kaga ada kerjaan. Mas Dalang dan Si Cantik membawa DSLR sehingga aku dan kawan2 yang tidak bawa kamera jadi model.

Setelah window shopping dan foto-foto dalam Klimahaus, kami pun melihat Sonnenuntergang (alias sunset alias terbenam). Saat itu indah. Susah diungkapkan dengan kata-kata. Keindahan Rayleigh Scattering, diabadikan dengan kedua kamera. Tubuh kamipun memperindah siluet pada hasil jepretan kamera. Keindahan Mie Scattering ditambah acara loncat bersama menjadikan suatu foto profil baru kami di Facebook (Baru diganti Senin awal Februari kemarin hingga waktu yang tak ditentukan).

Udara Bremerhaven saat itu lembab dingin berangin. Tangan menggigil kemerahan. Tapi asyik bisa melihat keindahan matahari terbenam. Aku jadi ingat masa lalu diriku di Bandung yang suka memandang sunset dari atap rumahku. Lebih indah daripada sinetron di televisi.

Kamipun (minus Mbau Pau) kemudian naik kereta kembali ke Bremen. Kami lelah. Dari kereta tersebut aku melihat bulan purnama tampil dengan anggun, percaya diri dan tidak bersembunyi di balik awan. Sayang sekali keindahan purnama tidak bisa kusaksikan bersama Si Cantik. Beliau terlalu lelah hingga tidur bersenderkan jendela.

Aku teringat masa lalu diriku yang memuaskan dahaga jiwaku memandang keindahan bulan. Aku tak peduli apakah bulan menampilkan keanggunan purnama atau senyum manis bulan sabit. Kadang aku gemas ketika bulan malu-malu bersembunyi di balik awan. Bulan selalu setia menemani hari-hariku yang sepi. Sampai kini, aku belum menemukan wanita yang mau memuaskan jiwa dengan memandang bulan bersamaku.

Sesampainya di Bremen, kami berpisah. Yang lain pulang ke rumah masing-masing. Aku pergi ke acara ESG Bremen. Di sana ada acara perpisahan Pastorin dan ada makanan gratis. Dasar nasib anak kos, aku tak bisa bebas dari kecanduanku akan makanan gratis. Kali ini aku satu-satunya orang Indonesia sendirian di sana. Paha ayam besar khas Gropelingen hasil masakan Memo (Mohammed) tersaji di sana. Anggur (Wine/Wein) gratis ada juga. Tentu saja bir gratis. Aku hanya minum anggur supaya tidak hangover hari esoknya.

Acara perpisahan berisi persembahan acara dari setiap kegiatan di ESG. Karena aku telat datang, aku kehilangan 1 jam acara. Namun aku bisa menikmati kor ESG, yang kurang kompak dan kurang pria tapi lagunya bagus. Kemudian makan-makan tadi. Lalu mendengar Sawa, perempuan dari Togo, menyanyikan lagu "One Last Cry" dari Brian McKnight. Ada pula acara yang disajikan theater improvisasi "efKaKa". Juga ada acara tebak kopi, mengingat ESG terlibat dalam penjualan kopi Fair Trade. Kopi mana yang dijual ESG? Kemudian ada Tango bersama Pastorin. ESG juga punya kegiatan Tango Argentino. Malam hingga pagi, acaranya dilanjutkan dengan dugem.

Aku pulang jam setengah dua, karena aku kangen ranjang. Sialnya aku kebelet pipis. Sesampainya di rumah, WC dipakai oleh teman kosku. Ah Tidak! Kok dia belum tidur. Aku masuk kamar menunggunya selesai dengan urusannya. Ternyata lama sekali. Akhirnya aku mencari botol bekas. Tergesa-gesa, anuku tidak bisa masuk botol. Sebagian air seni muncrat membasahi celanaku. Untung tidak banyak, karena aku berhasil mengarahkan air seni ke dalam botol. Ternyata aku pipis hampir setengah liter. Botol nyaris terisi penuh. Setelah itu, aku mengelap daerah-daerah kamarku yang terpercik air seni dan membuang isi botol ke toilet. Tentu saja botol kubilas karena aku masih megang botol tersebut untuk Pfand di ALDI, sehingga bisa kutukar dengan uang.

***

Betul-betul Sabtu yang penuh pengalaman indah yang mengisi dahaga jiwaku akan hangatnya persahabatan dan kerinduanku akan pengalaman baru.

Apa lagi, ya, pengalaman berikutnya?