Akhir pekan lalu di Bremen, aku ingin pergi ke gereja St. Johann di Bremen lalu makan-makan bersama kawan-kawan Perki Bremen. Akan tetapi bukan itu yang terjadi di akhir pekan lalu.
Selain ingin makan enak di Perki Bremen di hari Minggu, aku juga ingin ikut rapat Natal Perki Bremen. Aku kebagian seksi konsumsi. Akan tetapi bukan itu yang terjadi di akhir pekan lalu.
Pada hari Sabtu, aku ingin makan-makan bersama beberapa mahasiswi doktoral. Aku ingin merasakan menu all-you-can-eat, di suatu warung bakso di Bremen. Sekalian berkenalan dan berdiskusi. Akan tetapi bukan itu yang terjadi di akhir pekan lalu.
Pada hari Jumat malam, aku pergi ke acara Indian Culture Night di ESG Bremen. Makanannya enak, bahkan sampai nambah. Aku berkenalan dengan mahasiswi cantik tinggi dari Toulouse Perancis yang belajar ekologi dan mahasiswi cantik keriting Bremen yang belajar psikologi. Ingin bisa melanjutkan party bersama salah satu dari mereka. Good boys go to heaven but I wanna be taken anywhere. Akan tetapi bukan itu yang terjadi di akhir pekan lalu.
Pada acara kebudayaan India tersebut, seperti biasa di akhir acara ada World Party. Lagu-lagu dugem Punjabi yang memiliki "beat" yang sesuai jiwaku. Loncat-loncat, tarian Bangra, dll. Aku pun bergembira bersama mahasiswa-mahasiswi India. Beberapa mahasiswi India bergoyang dengan temperamen energik. Sebagai seorang "dance aficionado", aku suka klepek-klepek sama cewek yang menari energik dan sporty. Buatku tarian Punjabi, Afrika, maupun Amerika Latin memiliki temperamen yang asyik dan penuh gairah. Aku berharap bisa dugem lama bersama mereka, menikmati musik Punjabi. Akan tetapi bukan itu yang terjadi di akhir pekan lalu.
Yang terjadi di akhir pekan lalu adalah seorang Dukun Kuncen kehilangan kuncinya. Akhir pekan yang indah, dan penuh rencana, menjadi rusak. Ketika aku merogoh isi celanaku, bukan dalam rangka hal-hal mesum dan maksiat, aku menemukan sesuatu yang hampa atau nihil. Inilah awal dari kisah Dukun Kuncen kehilangan kunci.
Bremen, 18 November 2013
iscab.saptocondro
Hidup di Bremen. My life in Bremen, Germany. Mein Leben in Bremen, Deutschland. Studi di Uni Bremen. My study in the University of Bremen. Ignatius Sapto Condro A.B. (iscab.saptocondro)
Showing posts with label ESG. Show all posts
Showing posts with label ESG. Show all posts
Monday, November 18, 2013
Wednesday, February 3, 2010
Sabtu akhir Januari 2010
Sabtu lalu, 30 Januari 2010...
...ada apa?
***
Kisah ini bermula Kamis lalu, ketika Si Cantik tidak membalas telponku. Sehari kemudian, aku mendengar suara merdunya melalui telpon dari Mas Dalang. Mereka mengajakku jalan-jalan ke Bremerhaven pada hari Sabtu. Aku memberi sinyal positif kepada mereka.
Sabtu pagi (lebih tepatnya siang), kami berlima:
- Aku (punya keahlian memprediksi kenyataan dari gosip menggunakan Kalman Filter)
- Si Cantik (punya keahlian bikin orang tampil ganteng atau cantik di foto)
- Mbak Sapu Jagad (punya keahlian bersih2: nyapu, ngepel)
- Mas Dalang (Dalang Java Script)
- Mba Dalang (istri Mas Dalang, jago main gamelan, lho)
kumpul di HBf Bremen
(urutan di atas ditulis berdasarkan orang2 yg kutemui pertama kali)
Kami pun naik kereta RE jam 10.56 tidak terlambat. Dari Bremen menuju Bremerhaven butuh sekitar 30 menit. Sesampainya kami di sana, kami berjumpa dengan Mbau Pau. Kami naik bus cinta di Bremerhaven menuju Pondok Indah Mbau Pau.
Di rumah beliau kami disuguhi dengan makanan spesial mahasiswa, yaitu Pizza. Di rumah tersebut ada bola sakti buat olahraga. Semua mencoba bola ini untuk mencoba-coba latihan pengencangan perut.
Sesudah itu, kami berenam pergi keliling kota. Kami menuju Klimahaus. Aku satu-satunya yang belum pernah melihat dan masuk gedung tersebut. Para cantik melakukan window shopping, Mas Dalang foto2, sedangkan aku bolak-balik kaga ada kerjaan. Mas Dalang dan Si Cantik membawa DSLR sehingga aku dan kawan2 yang tidak bawa kamera jadi model.
Setelah window shopping dan foto-foto dalam Klimahaus, kami pun melihat Sonnenuntergang (alias sunset alias terbenam). Saat itu indah. Susah diungkapkan dengan kata-kata. Keindahan Rayleigh Scattering, diabadikan dengan kedua kamera. Tubuh kamipun memperindah siluet pada hasil jepretan kamera. Keindahan Mie Scattering ditambah acara loncat bersama menjadikan suatu foto profil baru kami di Facebook (Baru diganti Senin awal Februari kemarin hingga waktu yang tak ditentukan).
Udara Bremerhaven saat itu lembab dingin berangin. Tangan menggigil kemerahan. Tapi asyik bisa melihat keindahan matahari terbenam. Aku jadi ingat masa lalu diriku di Bandung yang suka memandang sunset dari atap rumahku. Lebih indah daripada sinetron di televisi.
Kamipun (minus Mbau Pau) kemudian naik kereta kembali ke Bremen. Kami lelah. Dari kereta tersebut aku melihat bulan purnama tampil dengan anggun, percaya diri dan tidak bersembunyi di balik awan. Sayang sekali keindahan purnama tidak bisa kusaksikan bersama Si Cantik. Beliau terlalu lelah hingga tidur bersenderkan jendela.
Aku teringat masa lalu diriku yang memuaskan dahaga jiwaku memandang keindahan bulan. Aku tak peduli apakah bulan menampilkan keanggunan purnama atau senyum manis bulan sabit. Kadang aku gemas ketika bulan malu-malu bersembunyi di balik awan. Bulan selalu setia menemani hari-hariku yang sepi. Sampai kini, aku belum menemukan wanita yang mau memuaskan jiwa dengan memandang bulan bersamaku.
Sesampainya di Bremen, kami berpisah. Yang lain pulang ke rumah masing-masing. Aku pergi ke acara ESG Bremen. Di sana ada acara perpisahan Pastorin dan ada makanan gratis. Dasar nasib anak kos, aku tak bisa bebas dari kecanduanku akan makanan gratis. Kali ini aku satu-satunya orang Indonesia sendirian di sana. Paha ayam besar khas Gropelingen hasil masakan Memo (Mohammed) tersaji di sana. Anggur (Wine/Wein) gratis ada juga. Tentu saja bir gratis. Aku hanya minum anggur supaya tidak hangover hari esoknya.
Acara perpisahan berisi persembahan acara dari setiap kegiatan di ESG. Karena aku telat datang, aku kehilangan 1 jam acara. Namun aku bisa menikmati kor ESG, yang kurang kompak dan kurang pria tapi lagunya bagus. Kemudian makan-makan tadi. Lalu mendengar Sawa, perempuan dari Togo, menyanyikan lagu "One Last Cry" dari Brian McKnight. Ada pula acara yang disajikan theater improvisasi "efKaKa". Juga ada acara tebak kopi, mengingat ESG terlibat dalam penjualan kopi Fair Trade. Kopi mana yang dijual ESG? Kemudian ada Tango bersama Pastorin. ESG juga punya kegiatan Tango Argentino. Malam hingga pagi, acaranya dilanjutkan dengan dugem.
Aku pulang jam setengah dua, karena aku kangen ranjang. Sialnya aku kebelet pipis. Sesampainya di rumah, WC dipakai oleh teman kosku. Ah Tidak! Kok dia belum tidur. Aku masuk kamar menunggunya selesai dengan urusannya. Ternyata lama sekali. Akhirnya aku mencari botol bekas. Tergesa-gesa, anuku tidak bisa masuk botol. Sebagian air seni muncrat membasahi celanaku. Untung tidak banyak, karena aku berhasil mengarahkan air seni ke dalam botol. Ternyata aku pipis hampir setengah liter. Botol nyaris terisi penuh. Setelah itu, aku mengelap daerah-daerah kamarku yang terpercik air seni dan membuang isi botol ke toilet. Tentu saja botol kubilas karena aku masih megang botol tersebut untuk Pfand di ALDI, sehingga bisa kutukar dengan uang.
***
Betul-betul Sabtu yang penuh pengalaman indah yang mengisi dahaga jiwaku akan hangatnya persahabatan dan kerinduanku akan pengalaman baru.
Apa lagi, ya, pengalaman berikutnya?
Labels:
bremen,
bremerhaven,
bulan,
dugem,
ESG,
kebelet pipis,
purnama,
sonnenuntergang,
sunset
Monday, February 1, 2010
Kamis akhir Januari 2010
Kamis lalu, tanggal 28 Januari 2010, aku pergi ke Master Office dalam rangka mengurus surat thesis yang terdapat kesalahan nama Profesor. Aku sudah memulai thesis sejak 10 Desember 2009. Tetapi surat baru datang minggu kedua Januari. Surat thesis yang salah tersebut juga kupakai untuk memperpanjang visa 19 Januari 2010. Ternyata berhasil.
Setelah berhasil memperpanjang visa, aku mencoba mengurus ke Master Office yang bukanya hanya Selasa dan Kamis. Tapi karena kesibukanku dengan programming dan webinar IEEE, urusan ini tertunda. Yah, akhirnya kesampaian juga Kamis 28 Januari itu.
Kamis itu, dari rumah, jalan kaki lalu naik bis sampai HBf Bremen. Di depan stasiun pusat Bremen tersebut, terdapat demo pelajar. Tema demonya adalah pendidikan. Tentu saja karena mereka anak sekolah. Saya kurang tahu tuntutannya apa saja, tapi berhubungan juga dengan kekurangan guru untuk bidang tertentu, serta pendidikan yang makin tidak manusiawi (waktu pendek dan bahan ajar padat).
Demo pelajar tersebut diiringi suatu melodi musim dingin. Salju turun perlahan dengan angin semilir. Demo di bawah salju namun para pelajar tetap berdiri dan satu orang menggunakan pengeras suara meneriakkan tuntutan demo. Terkesan heroik juga, sih.
Di Indonesia, di berbagai tempat di kota besar, juga terdapat demo. Tentu saja tuntutannya berbeda dengan para pelajar Bremen. Di Indonesia, tema demo adalah 100 hari pemerintahan SBY. Sebagian berkata SBY gagal. Sebagian mengaitkan SBY dengan kasus Bak Century.
Seratus hari itu kira-kira 3 bulan. Sedangkan Pemerintahan punya periode 5 tahun. Kurang asyik kalau bilang gagal hanya dari 3 bulan di banding 60 bulan. Mungkin mental sebagian bangsa Indonesia mirip dengan kisah Bandung Bondowoso tentang membangun 1000 candi dalam semalam, yang ingin serba instan. Ternyata membangun 1000 candi tidak bisa sendirian, Bandung Bondowoso melakukan outsourcing, yang ternyata gagal karena kurang 1 candi. Ingat, ya, nak, sistem kebut semalam itu tidak baik buat kesehatan.
Kembali ke hari Kamis tersebut, selain ada dua demo (di Bremen dan di Indonesia), aku sukses mengurus nama Profesor di selembar kertas. Senangnya hatiku saat itu. Aku menikmati makan di Mensa Uni lalu aku kembali ke rumah. Kali ini aku mengurus bantuan finansial dari ESG Bremen. Fotokopi ini-itu dan print ini-itu. Aku juga menyerahkan dokumen kepada sekretaris urusan mahasiswa internasional di ESG Bremen. Semoga aku bisa mendapat bantuan finansial untuk menyelesaikan thesis. Aku senang karena urusan administrasi sudah beres.
Kemudian aku pergi lagi ke uni. Kali ini aku menonton presentasi Natasha. Beliau bercerita mengenai "Multipath Routing", tentu saja untuk perangkat bergerak (mobile devices). Sebelumnya ada presenter yang berbicara tentang LTE (Long Term Evolution). Kedua pembicara menceritakan hal-hal tentang telekomunikasi. Menarik! Semoga Jerman dan Indonesia dalam waktu dekat segera memasang jaringan LTE.
Sesudah itu, aku menelpon Stella untuk berbagi kebahagiaan hari Kamis tersebut. Ternyata gagal. Diduga beliau kuliah atau sedang sibuk dengan Dharma Mahasiswi lainnya. Akhirnya kusimpan kebahagiaan ini untuk diriku sendiri saja. Aku pun mengantar Natasha ke HBf Bremen sekalian mendengar ceritanya tentang flu dan antibiotik.
Karena kesepian dan tak bisa berbagi kebahagiaan, nampaknya sejak Kamis itulah aku menulis banyak pos mikroblogging yang memenuhi status di Plurk, Twitter, dan Facebook. Indahnya salju, beresnya urusan administratif, dan lain-lain kusimpan dalam hati saja. Tiada tempat untuk bercerita. Yah, mau apa lagi. Hidup di rantau memang harus selalu siap menghadapi kesepian.
Semoga tahun ini, aku sanggup "survive" menghadapi kesepian.
Subscribe to:
Posts (Atom)