Showing posts with label demo. Show all posts
Showing posts with label demo. Show all posts

Monday, February 1, 2010

Kamis akhir Januari 2010

Kamis lalu, tanggal 28 Januari 2010, aku pergi ke Master Office dalam rangka mengurus surat thesis yang terdapat kesalahan nama Profesor. Aku sudah memulai thesis sejak 10 Desember 2009. Tetapi surat baru datang minggu kedua Januari. Surat thesis yang salah tersebut juga kupakai untuk memperpanjang visa 19 Januari 2010. Ternyata berhasil.

Setelah berhasil memperpanjang visa, aku mencoba mengurus ke Master Office yang bukanya hanya Selasa dan Kamis. Tapi karena kesibukanku dengan programming dan webinar IEEE, urusan ini tertunda. Yah, akhirnya kesampaian juga Kamis 28 Januari itu.

Kamis itu, dari rumah, jalan kaki lalu naik bis sampai HBf Bremen. Di depan stasiun pusat Bremen tersebut, terdapat demo pelajar. Tema demonya adalah pendidikan. Tentu saja karena mereka anak sekolah. Saya kurang tahu tuntutannya apa saja, tapi berhubungan juga dengan kekurangan guru untuk bidang tertentu, serta pendidikan yang makin tidak manusiawi (waktu pendek dan bahan ajar padat).

Demo pelajar tersebut diiringi suatu melodi musim dingin. Salju turun perlahan dengan angin semilir. Demo di bawah salju namun para pelajar tetap berdiri dan satu orang menggunakan pengeras suara meneriakkan tuntutan demo. Terkesan heroik juga, sih.

Di Indonesia, di berbagai tempat di kota besar, juga terdapat demo. Tentu saja tuntutannya berbeda dengan para pelajar Bremen. Di Indonesia, tema demo adalah 100 hari pemerintahan SBY. Sebagian berkata SBY gagal. Sebagian mengaitkan SBY dengan kasus Bak Century.

Seratus hari itu kira-kira 3 bulan. Sedangkan Pemerintahan punya periode 5 tahun. Kurang asyik kalau bilang gagal hanya dari 3 bulan di banding 60 bulan. Mungkin mental sebagian bangsa Indonesia mirip dengan kisah Bandung Bondowoso tentang membangun 1000 candi dalam semalam, yang ingin serba instan. Ternyata membangun 1000 candi tidak bisa sendirian, Bandung Bondowoso melakukan outsourcing, yang ternyata gagal karena kurang 1 candi. Ingat, ya, nak, sistem kebut semalam itu tidak baik buat kesehatan.

Kembali ke hari Kamis tersebut, selain ada dua demo (di Bremen dan di Indonesia), aku sukses mengurus nama Profesor di selembar kertas. Senangnya hatiku saat itu. Aku menikmati makan di Mensa Uni lalu aku kembali ke rumah. Kali ini aku mengurus bantuan finansial dari ESG Bremen. Fotokopi ini-itu dan print ini-itu. Aku juga menyerahkan dokumen kepada sekretaris urusan mahasiswa internasional di ESG Bremen. Semoga aku bisa mendapat bantuan finansial untuk menyelesaikan thesis. Aku senang karena urusan administrasi sudah beres.

Kemudian aku pergi lagi ke uni. Kali ini aku menonton presentasi Natasha. Beliau bercerita mengenai "Multipath Routing", tentu saja untuk perangkat bergerak (mobile devices). Sebelumnya ada presenter yang berbicara tentang LTE (Long Term Evolution). Kedua pembicara menceritakan hal-hal tentang telekomunikasi. Menarik! Semoga Jerman dan Indonesia dalam waktu dekat segera memasang jaringan LTE.

Sesudah itu, aku menelpon Stella untuk berbagi kebahagiaan hari Kamis tersebut. Ternyata gagal. Diduga beliau kuliah atau sedang sibuk dengan Dharma Mahasiswi lainnya. Akhirnya kusimpan kebahagiaan ini untuk diriku sendiri saja. Aku pun mengantar Natasha ke HBf Bremen sekalian mendengar ceritanya tentang flu dan antibiotik.

Karena kesepian dan tak bisa berbagi kebahagiaan, nampaknya sejak Kamis itulah aku menulis banyak pos mikroblogging yang memenuhi status di Plurk, Twitter, dan Facebook. Indahnya salju, beresnya urusan administratif, dan lain-lain kusimpan dalam hati saja. Tiada tempat untuk bercerita. Yah, mau apa lagi. Hidup di rantau memang harus selalu siap menghadapi kesepian.

Semoga tahun ini, aku sanggup "survive" menghadapi kesepian.

Friday, December 26, 2008

Beda ITB dengan Uni Bremen

Beda ITB dengan Uni Bremen

Bremen, 26 April 2007, Profesor, dosen, dan mahasiswa Uni Bremen mengadakan kuliah di depan gedung parlemen kota Bremen sebagai aksi protes pemotongan anggaran pendidikan.Banyak yang kuliah melantai. Beberapa jurusan yang beruntung (dekat kafe), kuliah duduk di kursi, sambil minum jus. Contohnya jurusanku Teknik Elektro.

JAdi ingat kejadian beberapa hari lalu di ITB. Beberapa mahasiswa ujian, sambil melantai di pelataran MAsjid Salman.Tapi ujian seperti ini, bukan aksi yang berhubungan dengan anggaran pendidikan.Semuanya gara-gara kedatangan Wapres JK, yang memakai satu ruang di kampus, lalu Dosen dan mahasiswa ITB tidak diijinkan memakai ruangan lain di seluruh kampus ITB untuk kegiatan mereka.Intinya sih seluruh kampus ITB ditutup karena ada satu orang VVIP ingin memakai satu ruangan di ITB.Beberapa ujian dibatalkan, kecuali jurusan biologi yang gelar tikar depan MAsjid Salman.Kegiatan perkuliahan dipindahtempatkan atau dibatalkan, kecuali kuliah umum bersama Wapres JK.

Ignatius Sapto Condro A.B.(iscab)

info tentang aksi di Bremen bisa dibaca di
http://www.weser-kurier.de/

Info tentang kejadian di ITB bisa dibaca di
http://www.itb.ac.id/

dan beberapa koran yang terbit di Jawa Barat
tepatnya
http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/04/tgl/07/time/095543/idnews/763927/idkanal/10
http://www.pikiran-rakyat.co.id/cetak/2007/042007/08/0105.htm
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0704/09/Jabar/11983.htm
http://www.itb.ac.id/news/1531
http://www.itb.ac.id/news/1533
http://www.itb.ac.id/news/1536
http://www.itb.ac.id/news/1537
http://www.itb.ac.id/news/1541
http://www.itb.ac.id/news/1561
http://geodesy.gd.itb.ac.id/bsetyadji/
http://geodesy.gd.itb.ac.id/bsetyadji/?p=139

Kuliah Hari Ini

Kuliah Hari ini


Bremen, Kamis, 26 April 2007 pukul 13.00 (Waktu Eropa Tengah), aku baca pengumuman depan pintu kelas.
Kuliah Antriebsregelung und Mechatronik dipindah ke Markplatz (semacam alun-alun depan gedung DPRD Bremen dan dekat tempat belanja).
Oh, ya, Antriebsregelung und Mechatronik artinya Control of Electrical Drives and Mechatronics.
Mmm... bahasa Indonesianya electrical drives itu apa, ya? Penggerak Elektrik?

Profesor, dosen, mahasiswa melakukan protes sejak minggu lalu.Kuliah dan seminar 24 jam dalam kampus diadakan minggu lalu.
Hari ini, kuliah diadakan di depan gedung parlemen Bremen.

Tema protesnya adalah penolakan terhadap pengurangan anggaran pendidikan di Bremen.
Anggaran pendidikan di negara bagian Bremen akan dikurangi sebesar 100 juta Euro,
dan untuk Uni Bremen, anggaran dikurangi 37 juta Euro.

Akibat pengurangan anggaran:
- 30% posisi Profesor akan hilang
- Beberapa jurusan hilang, contoh: Sport (olahraga), Behindertenpaedagogik (pendidikan untuk orang cacat)
- lowongan peneliti berkurang (aku berencana lanjut doktoral, ini bisa buruk buatku)

Wah, anggaran 100 juta Euro kira-kira 1200 milyar Rupiah untuk satu negara bagian dan 37 juta Euro = 444 milyar rupiah untuk satu universitas. Anggaran yang cukup besar untuk pendidikan.
Wah, andai waktu dulu kuliah di ITB, ada demo bertopik anggaran pendidikan di depan Gedung Sate (DPRD Jawa Barat) seperti ini, pasti asyik.

Nah, kembali ke kuliahku. Aku sampai Markplatz, jam 13.45, telat 1 halaman.
Sudah ada papan tulis portabel (beroda) dan seorang asisten dosen yang mengajar.
Profesorku sedang masuk ke ruang parlemen, untuk berbincang-bincang dengan wakil rakyat.
Mengisi daftar hadir, kemudian aku dikuliahi hal-hal tentang motor listrik, kendali (waktu) optimal, dll.
Karena dekat kafe, kami (mahasiswa Teknik Elektro) kuliah sambil mesan jus.
Orang-orang pun lalu lalang. Di musim semi yang terlalu panas ini, kami kuliah sambil cuci mata. Mahasiswa Teknik Elektro yang datang lelaki semua. Yang lalu lalang, banyak wanita cantik berpakaian musim panas (tank top, you can see, dll)

Jurusan lain juga mengadakan kuliah di Markplatz.
Ada yang kuliah ekonomi, dengan grafik-grafiknya.
Ada yang kuliah hukum, sosial, matematika, dll.
Profesor, dosen, dan mahasiswa menunjukkan solidaritasnya untuk menolak pemotongan anggaran pendidikan.

Jarang sekali, saya lihat di Indonesia, solidaritas seperti ini untuk memperjuangkan anggaran pendidikan 20% sesuai amanat konstitusi.


Ignatius Sapto Condro A.B.(iscab)

info lebih lanjut tentang aksi di Bremen ini bisa didapat di www.weser-kurier.de