Showing posts with label deutschland. Show all posts
Showing posts with label deutschland. Show all posts

Thursday, February 19, 2015

Biaya hidup di Bremen tahun 2014

Sudah lama, aku tidak menulis tentang biaya hidup di Jerman. Tahun 2013, aku mengurus kepindahanku dari Nürnberg ke Bremen. Saat itu, aku sempat membayar sewa dua apartemen di dua kota. Aku juga sempat menumpang sementara di kawan. Jadi tahun 2013, bukanlah masa yang betul-betul stabil dalam mencatat biaya hidup. Sepertinya aku lebih mudah menggambarkan seperti apa biaya hidupku di tahun 2014, walau sedikit terkontaminasi dengan biaya hidup tahun 2015.

***

Biaya Bulanan:
  1. Bayar sewa Wohnung (apartemen) = 544 EUR 
  2. Air: Wasser als Nebenkosten = 23 EUR
  3. Listrik SWB = 85 EUR
  4. Iuran GEZ = 18 EUR 
  5. Iuran RT = 10 EUR 
  6. Internet + Telpon Rumah = 38 EUR 
  7. Internet + Telpon Genggam = 40 EUR 
  8. Asuransi kesehatan publik = 261 EUR 
  9. Langganan McFit = 20 EUR 
  10. Makan di Rumah = 80 EUR s.d. 100 EUR
  11. Makan di Luar = 80 EUR s.d. 150 EUR 
  12. Kebersihan = 40 EUR 
  13. Sandang = 20 EUR 

Per bulan, aku harus menyediakan 1259 EUR s.d. 1349 EUR

***

Biaya Semesteran:
  1. Semesterbeitrag = 315 EUR

Per semester, aku harus menyediakan 315 EUR.
Kalau dibulatkan jadi per bulan, jadinya 52 EUR.

***

Biaya Tahunan:
  1. Perpanjangan visa = 90 EUR 
  2. Perabotan = 50 EUR s.d. 250 EUR 
  3. Jalan-jalan dengan kereta DB = 300 s.d. 500 EUR
  4. Bahncard 50 = 255 EUR 
  5. Jalan-jalan dengan pesawat = 0 EUR s.d. 1000 EUR 

Per tahun, aku harus menyediakan 695 EUR s.d. 2095 EUR
Kalau dibulatkan jadi per bulan, jadinya 58 EUR s.d. 175 EUR

***

Oh, ya, ada biaya lagi, yaitu asuransi waspada alias Haftpflichtversicherung. Sementara ini, aku membayar 80 EUR per tahun.
Kalau dibulatkan per bulan, jadinya 7 EUR.

Aku ingin mengganti asuransi ini dengan perusahaan lain yang lebih melindungiku, terutama dari kehilangan kunci. Per bulan kira-kira 27 EUR.

Pada masa transisi, aku harus membayar keduanya. Jadi per bulan, aku harus menyediakan 34 EUR.

***

Setelah dihitung-hitung, semua biaya di atas, per bulan aku harus menyiapkan 1403 EUR s.d. 1610 EUR.

***

Penjelasan biaya hidup:
  1. Aku menyewa apartemen 2 kamar, yang "furnished" atau "mobiliert" (ada perabotan), di daerah yang "convenient" (dekat toserba dan halte angkot), jadi harga sewa lumayan mahal. Tapi bagaimana pun juga sewa kamar di Bremen juga mengalami peningkatan harga. Untuk meredakan kegalauan biaya sewa, aku pun menyewakan satu kamar kepada student lain.
  2. Menambah satu orang di apartemen ternyata membuatku harus menambah bayar iuran air per bulan.
  3. Seperti kata Bang Rhoma Irama tentang begadang, tagihan listrik per bulan jadinya 80-an EUR, bukan 50-an EUR. 
  4. GEZ adalah iuran yang harus dibayarkan setiap kepala rumah tangga untuk setiap peralatan komunikasi yang mengeluarkan gelombang elektromagnet: TV, radio, WiFi, Bluetooth, walkie talkie, dll (web Rundfunkbeitrag, wiki: en,de). Di Indonesia dulu pernah ada iuran TV, untuk menghidupi TVRI yang tanpa iklan. Di Jerman, GEZ dipakai untuk membiayai stasiun TV publik (ARD dan ZDF), dan radio publik. Jadi orang Jerman bisa menikmati Piala Eropa dan Piala Dunia di televisi milik publik.
  5. Iuran RT adalah iuran bersama untuk beli tissue toilet, alat kebersihan, sabun cuci piring, beras, telur, dll untuk dipakai bersama roomie (Mitbewohner/-In).
  6. Internet dan telpon rumah: aku menggunakan kabel DSL dari Telekom. Ada tetangga yang ikut sharing biaya ini, jadi sedikit ringan bebanku untuk sementara.
  7. Internet dan telpon genggam: aku menggunakan smartphone sejak 2012, dan aku berlangganan Telefonica O2 hingga HSPA plus. Waktu itu, di Jerman, LTE belum ada di semua kota. Jika smartphone milikku sudah rusak parah setewas-tewasnya, mungkin aku bakal ganti kontrak dan ganti smartphone untuk LTE, LTE-Advanced (4G), atau bahkan 5G.
  8. Asuransi kesehatan publik (gesetzliche Krankenversicherung) lumayan mahal, kalau lajang dan tidak bekerja. Aku mendapat beasiswa, bukan kontrak kerja, jadinya aku harus membayar penuh. Kalau bekerja, setengah dibayar pemberi kerja dan setengahnya kubayar sebagai penerima kerja, dan langsung motong gaji. Jadi take-home pay, sudah bisa kunikmati tanpa harus mikir askes. Kalau menikah, dengan iuran askes yang kira-kira sama, seluruh anggota keluarga dilindungi. Kalau lajang tanpa anak, dengan iuran tersebut hanya satu saja yang terlindungi, yaitu aku. Keuntungan askes publik adalah tinggal gesek kartu, bisa dapat layanan kesehatan. Dulu sewaktu menggunakan askes swasta, aku harus membayar dulu dan menunggu reimbursement bulan berikutnya. Kena flu saja habis 120 EUR. Teman yang cabut gigi kena 300 EUR. Oh, ya, kalau ibu hamil dan melahirkan itu biaya totalnya ribuan EUR.
  9. McFit itu tempat fitness murah. Aku berlangganan beginian karena ulah kawanku yang impulsif. Aku menemaninya fitness untuk kemudian ditinggalkannya. Kini aku kesepian jika harus pergi fitness sendiri. Tapi aku harus memotivasi diriku di tahun 2015, tahun olahraga. Kalau seminggu sekali fitness, berarti aku keluar 5 EUR per minggu. Kalau tidak, aku cuma buang-buang uang.
  10. Kalau melihat kuitansi belanja untuk mengisi kulkas, sebetulnya per minggu, biayanya sekitar 16 s.d. 18 EUR. Kubulatkan jadi 80 EUR per minggu minimal. Kata orang logistik, kurangi residu untuk menjadi efisien. Aku hanya belanja barang yang kukonsumsi rutin dan sebisa mungkin tidak membiarkan barang kadaluarsa. Jadi "marginal utility" kumanfaatkan dengan optimal. Sebetulnya biaya makan di rumah bisa dihemat lagi, tapi buat apa. Nikmati makanan bergizi selagi masih ada kesempatan. Kesehatan itu penting. Barulah saat masa-masa gawat, dihemat secara ekstrem.
  11. Aku juga makan di luar rumah: kantin, Mensa, kopi, dan kadang untuk ikut acara ngumpul bersama rekan PhD di Oldenburg maupun di Bremen. Bisa saja aku menghemat makan di luar tapi untuk saat ini, waktu jauh lebih berharga daripada uang. Mungkin di masa-masa gawat keadaan ini berbalik. Selain itu, menikmati kebersamaan bersama kawan-kawan juga perlu untuk keseimbangan jiwa. Sekali makan siang di Mensa (kantin universitas), kukeluarkan antara 2 EUR hingga 4 EUR. Segelas kopi seharga 90 sen. Makan hura-hura bersama kawan di restoran bisa menghabiskan 4 EUR hingga 12 EUR. Nonton di bioskop butuh 7 EUR hingga 12 EUR.
  12. Biaya kebersihan adalah biaya membeli sabun mandi, pasta gigi, shampoo, deterjen untuk pakaian, dll, serta biaya mencuci pakaian di Wasch-Center. Kuperkirakan ini menghabiskan 40 EUR per bulan.
  13. Biaya sandang adalah biaya membeli baju, celana, pakaian dalam, asesori, sepatu, dll. Walau aku berasal dari Bandung, kota fashion dan kota tekstil, aku termasuk orang yang jarang belanja sandang. Bahkan beberapa pakaianku pemberian orang atau perusahaan atau organisasi. Tapi bagaimana pun juga aku harus menganggarkan belanja sandang tiap bulan. Untuk sementara, 20 EUR termasuk realistis.
  14. Semesterbeitrag itu uang yang harus kubayar kepada universitas untuk Semesterticket (tiket transportasi untuk mahasiswa), jaringan internet kampus, iuran organisasi mahasiswa, perpustakaan, fasilitas olahraga, bengkel kampus, dll. Sebetulnya aku membayar lebih murah daripada yang kusebut di atas, karena ada potongan.
  15. Tiap tahun kadang orang membayar biaya untuk perpanjangan visa. Kadang tiap dua tahun, tergantung kondisi. 
  16. Tiap tahun kadang aku membeli perabotan: alat masak, keset, alat tulis, dll.
  17. Karena aku sudah berlangganan Bahncard 50, aku harus jalan-jalan dengan kereta. Jadi aku menganggarkan biaya jalan-jalan keliling Jerman dengan kereta Deutsche Bahn.
  18. Ada kalanya aku harus pergi ke Indonesia untuk mudik atau pergi ke negara tetangga di Eropa untuk tapa mlaku, seperti pepatah "Travelling tresno jalaran soko kulino". Jadi aku menganggarkan biaya perjalanan pesawat.
  19. Jerman punya banyak skema asuransi, yang sulit kusebutkan satu per satu. Bahkan aku pun masih pusing dengan beda-bedanya, karena harus membaca kontraknya dan juga baca wikipedia serta kamus untuk mengerti. 


***

Selain biaya di atas, aku juga membayar pensiun dan reksa dana. Akan tetapi, karena ini tidak bisa disebut sebagai biaya hidup, tetapi lebih cocok disebut sebagai menabung atau investasi, jadinya tidak kumasukkan ke perhitungan ini. Ada kemungkinan pula, aku harus menarik dana ini di masa-masa sulit yang mungkin datang tahun depan, ketika beasiswa dari Niedersachsen berhenti.

***

Seri biaya hidup di Jerman, bisa dibaca dari tulisanku yang lainnya:
Dari semua biaya hidupku, yang terasa mahal itu biaya tempat tinggal dan biaya (jaminan) kesehatan. Sebetulnya baik Jerman maupun Indonesia, komponen biaya tempat tinggal dan kesehatan itu yang paling mencekik, apalagi kalau kamu rakyat miskin.


Bremen, 19 Februari 2015

iscab.saptocondro

Friday, February 17, 2012

Biaya Hidupku di Bremen tahun 2011

Teringat masa-masa tinggal di Bremen. Biaya hidup di sana lebih murah daripada di Bayern, tempat tinggalku sekarang. Di bawah ini, perhitungan kasar biaya hidupku di Bremen di tahun 2011, pada masa-masa paska kuliah (bahasa halus dari masa pengangguran atau pencarian kerja).
***
Biaya Bulanan
  1. Bayar kos =  220 EUR
  2. Asuransi kesehatan privat = 70 EUR
  3. Makan di rumah = 70 EUR
  4. Makan di luar = 80 EUR
  5. Telpon = 20 EUR
  6. Kebersihan = 25 EUR
  7. Tiket transportasi = 50 EUR
TOTAL Bulanan = 535 EUR

Biaya Tahunan
  1. Pakaian = 60 EUR
Biaya tahunan dibagi 12 = 5 EUR
Tiap bulan intinya butuh 540 EUR
Darurat 25% = 135 EUR
TOTAL Semua = 675 EUR / bulan
***
Kira-kira penjelasannya sebagai berikut:
  • Bayar kos itu wajib kalau tidak mau diusir. Mencari Wohnung/apartemen itu tidak mudah. Yang penting bisa dapat tempat tinggal. Kadang kita bisa dapat Wohnung murah dan kadang tidak.
  • Asuransi privat tahun pertama mungkin bisa didapat seharga 35 - 40 EUR. Tahun kedua 70 EUR kira-kira.
  • Sebaiknya menggunakan asuransi kesehatan yang gesetzliche Krankenversicherung. Untuk student berusia di atas 30 tahun, biayanya memang 130-140 EUR per bulan, tapi tidak perlu bayar uang di muka untuk di-reimburse kemudian.
  • Makan di rumah lumayan menekan biaya kantong. Apalagi kalau tinggal bersama (WG/Wohnungsgemeinschaft)
  • Makan di luar buatku penting untuk bersosialisasi dan untuk variasi gizi. Serta untuk mendapat ide, masak apa. Makan di Mensa/kantin universitas termasuk makan di luar.
  • Biaya kebersihan adalah biaya membeli sabun mandi, shampoo, deodoran, deterjen, alat pembersih kaca, cairan buat ngepel lantai, cairan pembersih, sabun cuci piring, kantong debu vacuum cleaner, dll. Selain itu, biaya mencuci pakaian juga termasuk di sini. Biaya kebersihan penting buat sosialisasi. Pasti kamu ingin tampil bersih dan wangi serta tidak pakai pakaian penuh bercak kalau keluar rumah. Juga kamu ingin punya rumah yang ramah tamu (rapi dan bersih). Kamu juga kaga mungkin menyediakan piring yang jamuran kepada tamu.
  • Tiket bus per bulan kubayar 50 EUR. Sewaktu masih student, aku beli tiket 200 EUR per semester (lebih murah).
  • Biaya pakaian bagiku tak terlalu banyak. Kalau kamu wanita atau pria metroseksual, biaya pakaian per bulan itu pasti per bulannya besar.
  • Biaya tak terduga harus selalu diperhitungkan karena banyak hal yang tak pasti di dunia ini. Untuk contoh di atas, kupakai 25% dan ini mungkin lebay.

Nürnberg, 17 Februari 2012
iscab.saptocondro

Saturday, April 4, 2009

3 Tahun di Bremen

Kemarin, tepatnya Jumat, 3 April 2009,

Aku merayakan 3 tahun di Bremen. Selama 3 tahun ini, aku merasakan lika-liku kehidupan dan naik-turunnya motivasi studi.

Aku merayakan dengan mencukur rambut. Lebih tepatnya sih pergi ke tukang cukur depan stasiun utama (Hauptbahnhof Bremen). Kalau aku mencukur sendiri rambutku, pasti kacau balau, deh. Lebih baik aku serahkan urusan rambut kepada profesional. Kata Hadits, "serahkan kepada ahlinya". Bilangnya sih "Ab 7 euro", yang artinya "mulai 7 euro", tetapi dia minta 10 euro.

Kata-kata penting saat cukur:
- "kurz", artinya pendek
- "normal"
- "nach hinten", disisir ke belakang

Yang mencukurku juga bukan orang Jerman, nampaknya ibu-ibu Turki. Aku teringat masa lalu di Bandung. Tukang cukur langgananku orang Garut. Aku sudah berlangganan sejak kelas 1 SMP. Mungkin kembali ke Bandung, aku akan dicukurnya lagi.

***

Aku merenungi masa 3 tahun di Bremen, Jerman, dengan hal-hal penting maupun tak penting. Ada senang dan sesal berbaur menjadi satu.

Aku senang bisa berkenalan dengan banyak teman baru, baik Indonesia maupun Jerman, tak lupa beberapa kawan bangsa lain yang kutemui. Juga senang akhirnya niatku pergi ke Oktoberfest di München bisa kesampaian, tepatnya di tahun 2008 lalu.

Sesalku adalah aku belum selesai dengan studi masterku. Aku menghabiskan 1 tahun (atau 1,5 tahun) dengan hal tak produktif: melamun, berkhayal, melarikan diri dari kewajiban dengan berbagai cara.

Ada masa, aku terombang-ambing dengan tujuan hidupku. Pada masa itu, aku seperti tidak tahu apa sesungguhnya tujuan hidupku, apa mauku, mau jadi apa aku ini, masa depan apa yang ingin kubentuk. Masa itulah ketika aku tidak produktif dengan studiku. Aku lalu melarikan diri dari masalah studi dan krisis tujuan hidupku dengan cara jalan-jalan, pergi makan-makan, dll.

Namun aku yakin 3 tahun ini bukanlah suatu hal yang tak bermakna. Dalam senang dan sesal terdapat anugerah Tuhan. Aku percaya bahwa ada didikan Tuhan di sini. Aku yakin pengalaman 3 tahun di Bremen ini berguna bagiku.

***

Selama 3 tahun di Bremen, aku belum pernah kembali ke Indonesia.
Bapakku datang ke Eropa, Oktober 2007, lalu menemuiku.
Ibuku datang ke Eropa, Oktober 2008, lalu berjumpa denganku.
Aku belum balik ke Indonesia karena berkomitmen untuk pantang balik ke Indonesia sebelum lulus master.

***

Sekarang aku mendengar panggilan ibu pertiwi. Aku sudah tidak takut akan masa depanku. Aku sudah kangen negeriku. Aku harus menyelesaikan studiku dengan segera. Motivasi studiku sudah naik kembali dan kepercayaan diriku sudah kembali. Aku sudah siap mengerjakan tesis. Lalu menjemput kelulusanku di ujung akhir dari studi masterku.

Setelah itu, aku tahu apa yang aku mau, yaitu lanjut doktoral.
Aku sekarang sudah kembali menjadi pejuang.
Sekarang aku tidak melihat kabut gelap lagi ketika mataku memandang cakrawala masa depan.

Condro yang penuh semangat telah kembali.
Condro baru telah lahir seiring penantian Paskah. Minggu depan Paskah, lho.
Kebangkitan Yesus kurayakan dengan kebangkitan Condro dari rasa malas dan rasa takut.

Sekarang saatnya merengkuh hari-hariku. Carpe Diem!

Bremen, 4 April 2009

Tuesday, January 27, 2009

Satu hal yang bikin aku suka Jerman

Satu hal yang bikin aku suka Jerman



Hari ini, aku pergi belanja. Aku harus belanja, karena aku sedang krisis pangan.
Dua hari kemarin aku malas keluar rumah, karena lagi keayikan di depan komputer.
Chatting, baca milis, dan mengatur strategi keuangan dengan Excel serta mengatur study plan.
Intinya sih, kalau di depan komputer sering lupa waktu, hingga lupa belanja.


Nah, lupakan basa-basi di atas. Aku keluar rumah, nih, pergi ke ALDI.
Ada seorang nenek (bule tentu saja) juga berjalan dengan arah yang sama.
Mula-mula, aku berjalan santai di belakang nenek itu.
Tiba-tiba dia berhenti. Aku juga ikut berhenti.


Apa yang terjadi?


Tuuuuttttt...
Preeeetttt...


Ternyata dia berhenti, cuma untuk KENTUT.


Lalu dia melanjutkan jalannya, meninggalkan aku yang bengong di belakangnya.


Ada juga hal kaya gini di Jerman.



Bremen, 5 Juli 2007



hari Kamis, woy...