Saturday, February 25, 2012

Biaya hidup seorang dukun di Bremen

Selain tentang biaya hidupku tahun 2011 di Bremen, aku ingin menulis tentang biaya hidup seorang dukun di Bremen. Baca tulisan sampai bawah kalau ingin tahu dukun ini lebih lanjut.

***

Biaya bulanan

  1. Bayar kos = 70 EUR
  2. Asuransi kesehatan privat = 40 EUR
  3. Makan di rumah = 45 EUR
  4. Telpon = 5 EUR
  5. Kebersihan = 5 EUR

TOTAL bulanan = 165 EUR

***

Biaya Semester

  1. Semesterticket = 190 EUR
  2. Pakaian = 5 EUR

Biaya semester dibagi 6 = 32,5 EUR

Jadi tiap bulan dia butuh 197,5 EUR.

Ditambah biaya darurat 25% (49,38 EUR) menjadi 246,88 EUR per bulan.

***

Biaya di atas hanyalah ramalan alias prediksi dari dukun lain di Bremen yang pindah ke Nürnberg. Penjelasannya sebagai berikut.

  1. Dukun ini tinggal di Kuburan 24. Kos di sana khusus buat dukun ini murah. Selain itu, dia tinggal bersama (Wohnungsgemeinschaft/WG/apartment sharing) dengan banyak kawan, sehingga biaya makan di rumah bisa ditekan.
  2. Asuransi kesehatan privat juga sebetulnya tak lebih dari 40 EUR.
  3. Dukun ini jarang nelpon, nampaknya juga takkan sampai 5 EUR per bulan.
  4. Dukun ini jarang bersihin rumah/kamar, hehehe. Nampaknya biaya kebersihan hanya dipakai untuk beli sabun mandi, pasta gigi, dan shampoo.
  5. Semesterticket Uni Bremen dibeli dukun ini supaya bisa naik angkot sampai Hamburg dan Hannover.
  6. Tidak diketahui berapa besar anggaran dukun ini untuk beli pakaian tiap semester atau tiap tahun. Dukun ini biasanya senang sekali dengan baju pemberian orang. Anggap saja 5 EUR per semester.
  7. Sekarang aku tahu kenapa kiriman 200 EUR per bulan cukup untuk menghidupi dukun ini.

***

Dukun ini disebutkan dalam kisahku di Bremen ketika makan-makan bersama Mba Rina dan legenda Bremen. Tempat tinggal dukun kuncen ini, yaitu Kuburan 24, pernah kuceritakan ketika meninggalkan Bremen. Dukun ini sangat sakti. Dia pernah kuliah di kampus Gajah Tapa di Bandung. Seperti logo kampus perguruan tinggi negeri di Bandung tersebut yang duduk di atas buku, dukun ini pernah tidur di atas puluhan buku yang dipinjam dari Uni Bremen dan HS Bremen.

Cerita ini kudapat dari teman kosnya di Kuburan 24. Puluhan buku ditumpuk rapi, lalu di atasnya ditumpuk pakaian-pakaian kemudian sprei. Tidurlah dukun ini dengan tenang di atas buku-buku tersebut.

Ketika dukun kuncen ini pergi dari Bremen dan terbang ke Indonesia untuk selamanya, kosmologi Bremen berubah drastis. Kemudian gunung Eyjafjallajökull meletus di Islandia yang abunya mematikan penerbangan di Eropa. Kesaktiannya betul-betul mengguncangkan Eropa. Dukun-dukun lain di Bremen pun terguncang dan mereka melakukan tapa thesis bersama-sama secara serius untuk menghormati kepergian dukun dari Kuburan 24 ini.

Nürnberg, 25 Februari 2012

iscab.saptocondro

Friday, February 17, 2012

Biaya Hidupku di Bremen tahun 2011

Teringat masa-masa tinggal di Bremen. Biaya hidup di sana lebih murah daripada di Bayern, tempat tinggalku sekarang. Di bawah ini, perhitungan kasar biaya hidupku di Bremen di tahun 2011, pada masa-masa paska kuliah (bahasa halus dari masa pengangguran atau pencarian kerja).
***
Biaya Bulanan
  1. Bayar kos =  220 EUR
  2. Asuransi kesehatan privat = 70 EUR
  3. Makan di rumah = 70 EUR
  4. Makan di luar = 80 EUR
  5. Telpon = 20 EUR
  6. Kebersihan = 25 EUR
  7. Tiket transportasi = 50 EUR
TOTAL Bulanan = 535 EUR

Biaya Tahunan
  1. Pakaian = 60 EUR
Biaya tahunan dibagi 12 = 5 EUR
Tiap bulan intinya butuh 540 EUR
Darurat 25% = 135 EUR
TOTAL Semua = 675 EUR / bulan
***
Kira-kira penjelasannya sebagai berikut:
  • Bayar kos itu wajib kalau tidak mau diusir. Mencari Wohnung/apartemen itu tidak mudah. Yang penting bisa dapat tempat tinggal. Kadang kita bisa dapat Wohnung murah dan kadang tidak.
  • Asuransi privat tahun pertama mungkin bisa didapat seharga 35 - 40 EUR. Tahun kedua 70 EUR kira-kira.
  • Sebaiknya menggunakan asuransi kesehatan yang gesetzliche Krankenversicherung. Untuk student berusia di atas 30 tahun, biayanya memang 130-140 EUR per bulan, tapi tidak perlu bayar uang di muka untuk di-reimburse kemudian.
  • Makan di rumah lumayan menekan biaya kantong. Apalagi kalau tinggal bersama (WG/Wohnungsgemeinschaft)
  • Makan di luar buatku penting untuk bersosialisasi dan untuk variasi gizi. Serta untuk mendapat ide, masak apa. Makan di Mensa/kantin universitas termasuk makan di luar.
  • Biaya kebersihan adalah biaya membeli sabun mandi, shampoo, deodoran, deterjen, alat pembersih kaca, cairan buat ngepel lantai, cairan pembersih, sabun cuci piring, kantong debu vacuum cleaner, dll. Selain itu, biaya mencuci pakaian juga termasuk di sini. Biaya kebersihan penting buat sosialisasi. Pasti kamu ingin tampil bersih dan wangi serta tidak pakai pakaian penuh bercak kalau keluar rumah. Juga kamu ingin punya rumah yang ramah tamu (rapi dan bersih). Kamu juga kaga mungkin menyediakan piring yang jamuran kepada tamu.
  • Tiket bus per bulan kubayar 50 EUR. Sewaktu masih student, aku beli tiket 200 EUR per semester (lebih murah).
  • Biaya pakaian bagiku tak terlalu banyak. Kalau kamu wanita atau pria metroseksual, biaya pakaian per bulan itu pasti per bulannya besar.
  • Biaya tak terduga harus selalu diperhitungkan karena banyak hal yang tak pasti di dunia ini. Untuk contoh di atas, kupakai 25% dan ini mungkin lebay.

Nürnberg, 17 Februari 2012
iscab.saptocondro

Thursday, December 22, 2011

Meninggalkan Bremen

Bremen adalah rumah ketigaku. Di sana aku pernah kuliah dan bertemu kawan-kawan baru. Kalau kuhitung, aku datang April 2006 dan pergi Agustus 2011. Ternyata aku di sana 5 tahun, 4 bulan. Kawan datang dan pergi. Dari kawan diskusi hingga kawan dugem. Oh, ya, di sana aku kuliah otomasi (Automation Engineering/Automatissierungstechnik). Aku kuliah 2 tahun. Dua tahun efektif, sisanya hura-hura, :-).

Tempat nongkrong berubah-ubah. Kuburan 24 Woltmershausen, Haferkampung, Perempatan Subway Neustadt, Jambie, Wisma Ten Ten One, Tabak Börse, dll. Beberapa telah tutup. Sekarang mungkin bakal ada tempat nongkrong lain.

Tempat belanja makanan Asia yang kuingat adalah Vina Store di dekat Am Brill dan Wing Wa di dekat Schuesselkorb. Keduanya memiliki kecap dan sambal Indonesia. Di tempat baruku, belum kutemukan kecap dan sambal Indonesia.

Dukun di Bremen juga berubah-ubah. Dukun adalah orang yang kalau membuka mulutnya bakal keluar kata-kata yang tidak dimengerti oleh orang banyak. Kayak komat-kamit. Di Kuburan 24 dulu pernah ada dukun. Di tempat lain, mungkin juga ada dukun. Mungkin aku juga dukun.

Di Bremen ini kurasakan dua kali mati lampu dan satu kali banjir yang menenggelamkan beberapa mobil. Mati lampu pertama terjadi karena ganti sekring dan meteran di rumah. Mati lampu kedua terjadi karena tetangga sebelah terkena masalah listrik yang menyebabkan satu jalan harus dimatikan untuk perbaikan kabel. Banjir di Bremen terjadi tahun ini karena saluran air bawah tanah dan reservoir buatan tidak mampu menampung air. Mungkin ini efek perubahan iklim.

Bremen bagiku seperti kawah Candradimuka bagi Gatotkaca. Di sana aku belajar menjadi mandiri. Juga mengasah ilmu mata hatiku dalam mengenal manusia. Di sana, aku belajar melawan kesepian. Ternyata jumlah teman tidak akan mengobati kesepian. Yang bisa mengobati kesepian adalah diri sendiri. Aku belajar menggunakan jeruk. Ketika kesepian sudah akut dan tak punya uang untuk bayar pulsa telpon, juga tiada teman chatting, aku mengobrol dengan jeruk. Akhirnya kusadari bahwa tapa jeruk ini membuahkan hasil. Kesepian menjadi tak bermakna lagi bagiku. Secara mandiri, aku bisa melawan kesepian. Tapi ada efek samping tapa ini, yaitu nampaknya aku menjadi dukun di Bremen.

Walau aku sulit lepas dari Bremen, tapi naluri dukunku berkata bahwa di luar sana ada sesuatu yang besar menantiku. Keluar dari Bremen adalah cara untuk menuju langit. Bremen bagai kepompong dan aku sekarang menjadi kupu-kupu yang telah keluar dari kepompong. Sekarang aku akan terbang ke langit tinggi menggapai cita-citaku yaitu jadi Engineer. Darah Juang!

***

Ing ngarso Signal Processing.

Ing madyo Matematiko.

Tut wuri Control Engineering.

 

Tuesday, August 2, 2011

Pertemuan dengan Wakil Rektor III Universität Bremen 7 Juli 2011

Pada tanggal 7 Juli 2011 jam 14.30 aku bertemu Wakil Rektor III Universität Bremen di ruang VWG 2060. Wakil Rektor III disebut sebagai Kon3, singkatan dari Konrektor 3, dengan bidang "Interkulturalität und Internationalität" (urusan interkultural dan internasional). VWG adalah Verwaltungsgebäude (Gedung administrasi). Di gedung ini terdapat kantor rektor, konrektor, dan juga International Office serta tempat pendaftaran mahasiswa baru.

Yang menjadi Kon3 adalah Frau Prof. Dr. Yasemin Karakaşoğlu (wiki). Beliau bekerja di Fachbereich 12, yaitu Fakultas Pendidikan di Uni Bremen (uni). Keahliannya adalah bidang pendidikan interkultural.

Yang hadir pada acara pertemuan 7 Juli ini bersama Kon3 adalah





  • International Office (en & de), dua orang: Jens Kemper dan Nurten Kurnaz


  • INU (Indie Network of Universität Bremen), satu orang


  • Mahasiswa/i Iran, dua orang


  • Kamerun, satu orang


  • PPI Bremen (Persatuan Pelajar Indonesia), satu orang yaitu saya.


Pada pertemuan ini dibicarakan mengenai program kerja Kon3 tahun 2011-2013 (bisa dilihat di sini dan akan kujelaskan di blog post lain). Selain itu, Kon3 ingin berkenalan dengan komunitas mahasiswa-mahasiswi internasional di Universitas Bremen. Yang datang tidak banyak, seperti yang ditulis di atas, karena ini baru pertemuan pertama. Pada pertemuan selanjutnya Kon3 mengijinkan tiap komunitas mahasiswa diwakili oleh 4 orang.


Hasil perkenalan sebagai berikut



  • Kon3 ingin supaya dirinya bersama International Office (IO), Kompass, dan ASTA lebih terstruktur dan saling terhubung untuk memudahkan komunitas mahasiswa internasional dalam mengenalkan diri atau membuat kegiatan. Kon3 juga menginginkan pertemuan rutin dengan komunitas mahasiswa-mahasiswi internasional di Uni Bremen.

  • PPI Bremen (Indonesia) selama aku di Bremen, sudah mengadakan dua kegiatan yang menggunakan dana Uni Bremen. Pertama tahun 2009 di Theatersaal Uni Bremen bekerjasama dengan ASTA dan kedua tahun 2011 bekerjasama dengan ESG Bremen.

  • INU (India) sudah berdiri tahun 2008 dan sering mengadakan kegiatan di Glashalle Uni Bremen. Mayoritas mahasiswi India kuliah Biologi dan mahasiswanya kuliah bermacam-macam (teknik, informatik, dll).

  • Komunitas Iran terdiri dari dua grup, yaitu Iranische Frauengruppe (Wanita Iran) dan komunitas campur.

  • Satu orang dari Kamerun, terlibat dalam ASTA, AISA (Autonome International Studierende), dan grup mahasiswa/i Afrika.

  • International Office (IO) menanyakan apakah komunitas mahasiswa/i internasional sudah mengisi ASTA-Anerkennungsantrag, yaitu formulir dari ASTA bahwa suatu komunitas/organisasi terdaftar di ASTA. IO juga mengajak mahasiswa/i untuk ikut Kompass, yaitu program membimbing mahasiswa internasional.

Hal-hal yang ditawarkan oleh Kon3 tercantum dalam selebaran yang dibagikan. Kira-kira bagian pentingnya adalah



  • Pertemuan rutin dengan mahasiswa/i internasional, baik di ruang rapat maupun program minum kopi bersama Wakil Rektor di kafetaria GW2

  • Mengajak komunitas internasional terlibat dalam penyambutan mahasiswa baru (Orienterungswoche, dalam Bahasa Indonesia disebut sebagai OSPEK, hehehe)

  • Perbaikan sistem administrasi dan web serta kerjasama untuk saling memudahkan semua pihak untuk saling berhubungan dan memperkenalkan diri: Kon3, ASTA, IO, mahasiswa/i internasional, Career Center, Goethe Institute, Sprachzentrum, dll

  • Gerakan multilingual Uni Bremen, contohnya penunjuk jalan multi-bahasa di dalam kampus.

***

Tuesday, April 6, 2010

Hari pertama kuliah Semester ke-9

Bremen, 6 April 2010, tepatnya hari Selasa,

Hari yang indah dengan udara cerah. Angin sejuk bertiup sepoi-sepoi mengikuti alunan musim semi. Bersama hangatnya mentari, Sang Bayu membelai wajahku yang berpelembab.

Oh, ya, kumulai hari ini dengan ritual sederhana: sarapan roti, pisang, dan jus apel. Sarapanku kubarengkan dengan membaca email. Seperti hari biasa yang tidak terlalu istimewa. Entah kenapa, aku ingin mandi. Biasanya aku malas melakukan ini. Namun, keinginan untuk membasuh diriku dengan air hangat membuatku menikmati mandi. Semburan shower memijat punggungku laksana belaian hangat wanita yang kurindukan. Sedikit obat untuk pria kesepian ini. Butiran air yang memantul dari badanku berkilauan bagai permata mengingatkanku akan kemilau mata wanita itu. Seusai mandi, kupakai pelembab wajah murahan dari ALDI. Yang tak mempan menjaga wajahku dari kekeringan. Nampaknya aku perlu beli pelembab baru.

Aku pun pergi ke kampus Uni Bremen naik angkot tercinta. Teringat aku belum membeli rantai sepeda. Ah, mungkin minggu depan saja, aku sibuk dengan thesis hari ini. Bus 25 berisi banyak gadis belia cantik. Mereka terlalu muda ditambah pikiranku dan perasaanku tertuju pada seorang wanita yang telah mengucapkan mantra yang tepat untuk menggerakkan hatiku. Dua halte dan sampailah di stasiun utama. Kutunggu sebentar, Strassenbahn 6 membawaku ke Uni. Tak terlalu penuh. Kusadar bahwa sekarang sudah semester ke-9, kulalui jalur ini. Sedangkan aku belum juga lulus master yang cukup ditempuh 4 semester. Plus, belum terlalu sukses dalam mencari jodoh.

***

Aku menuju Uni untuk berkumpul bersama Elektro Ceria Bremen: Meity, Natasha, Yonathan tanpa Kuncen Sakti Kuburan 24. Di Strassenbahn, bertemu Meity. Beliau baru pulang liburan ke Indonesia dan membawa segudang cerita asyik pengalamannya. Kemudian sesampainya di Mensa, kami berdua secara tak terduga bertemu Novi (Bu Dalang). Bertiga menunggu Natasha dan Yonathan. Akhirnya mereka datang. Yonathan dan aku membeli Essen I yang murah. Yang lain nampaknya membeli salat. Kami juga bertemu Tim, teman Jerman yang mengelola yayasan di Indonesia. Tapi Tim tidak duduk bersama kami berlima.

Di meja tersebut, kami mengobrol ceria tentang banyak hal. Topik pernikahan 10 milyar Nia Ramadhani. Liburan Meity ke Bali dan Manado. Kupernya Yonathan. Profesor yang résé. Jurusan baru Meity. Beratnya ujian. Dan banyak hal lainnya. (Buat Widha, kami juga ngobrolin tentang dikau, hehehe). Ternyata ada dua warga Haferkampung yang menghampiri kami: Ucup dan Lia. Keduanya mendengar obrolan khas Indonesia yang ekspresif, keras, penuh tawa ngakak, dan tak penting. Basa-basi sejenak, keduanya lalu memilih tempat lain.

Seusai makan siang bersama, kami berpencar. Mba Novi pergi bersepeda menuju sebuah tempat perjanjian. Yonathan dan aku pergi ke kafetaria GW2 untuk mengerjakan thesis masing-masing. Natasha mengambil tas di NW1 sebelum bergabung bersama kami berdua di GW2. Meity pergi bekerja.

***

Di kafetaria GW2, kumulai thesis dengan membaca paper dan membuka source code program demi mencari rumus sakti. Ternyata paper tak kubawa, namun aku punya versi digitalnya. Yonathan nampaknya membaca paper juga. Tapi mengapa layar monitorku berisi berita "Susno"? Baru 5 paragraf berita tentang Indonesia, aku langsung ilfil. Aku sudah memutuskan ikatanku dengan Indonesia, jadinya aku sudah merasa "I don't belong to Indonesia anymore". Thesis jauh lebih penting.

Tak berapa lama kemudian Natasha singset datang membawa gosip. Cerita tentang seorang kawan Pakistan yang mendua (atau mentiga?). Orang ini memiliki teman "tandem with benefit", walau sudah punya pacar. Minggu lalu, kulihat dia berciuman di Kafetaria ini. Kali ini, Natasha dan Meity melihat dia berciuman di halte. Moto hidupku adalah "Tanpa gosip, dunia runtuh". Jadinya aku selalu tertarik mendengar gosip. Ujung dari gosip ini adalah mengapa aku tetap jomblo sedangkan teman Pakistan tadi bisa "menikmati masakan Jerman" walau udah punya pacar, hehehe. Selain itu, Natasha pun kamiceritakan tentang fans beratnya, yaitu teman kosku yang sekarang. Teman kosku lagi bertapa di kamarnya demi ujian yang sama dengan Natasha pada keesokan hari.

Bertiga di meja kafetaria, kami membangun mimpi kami. Yonathan menuntaskan project sembari memulai thesis. Natasha belajar Speech Processing II demi ujian esoknya. Aku berkutat dengan analisis data EEG dari kepalaku sendiri. Semuanya membawa harapan akan masa depan cerah seperti cuaca Bremen hari ini.

Memang asyik belajar bersama. Ketika satu ingin pergi, kawan lain menjaga laptop dari tangan jahil. Aku bisa ke toilet dengan tenang. Bisa membeli kopi. Berdiskusi mengenai signal processing atau beberapa aturan universitas. Kadang sedikit bergosip, karena tanpa gosip dunia runtuh. Juga break curhat.

Ada saat berjumpa, ada saat berpisah. Yonathan pergi duluan demi penuntasan project dan urusan administratif. Tinggal Natasha dan aku berdua. Kutumpahkan kegalauan hatiku dalam sepotong curhat padanya. Dia memberiku beberapa nasihat mengenai cinta. Aku memberinya sedikit (sangat sedikit) semangat untuk ujian besok. Dia mendukung kebulatan tekadku untuk menurunkan kartu truf dalam suatu permainan cinta. Kartu truf jangan ditahan-tahan. Setelah itu, kami berpisah di halte.

***

Strassenbahn 6 menderu menjauhi Uni. Indahnya musim semi. Hangatnya kawan-kawan. Semuanya menghanyutkanku bersama seluruh rasa syukur dalam jiwa. Aliran energi positif ini seirama dengan tekad bulatku untuk menyelesaikan permainan cinta yang nampaknya semakin buruk. Harus kubuka kartu itu segera sebelum terjadi bencana. Bukan masalah sukses atau gagal melainkan demi pembersihan jiwaku. Kira-kira tujuh bulan kuselami hatiku untuk menjawab pertanyaan benarkah dia wanita itu. Aku memang orang yang sulit jatuh cinta. Pintu hatiku terlalu kokoh. Mantra wanita ini berhasil membukanya. Perjalanan Strassenbahn membawku beberapa ingatan masa lalu yang ceria bersama wanita ini. Halte demi halte, memori demi memori.

Sampailah aku di halte tujuan. Kupergi ke bank mengambil uang. Tak lupa mengecek rekeningku yang menyedihkan. Bulan April bulan prihatin. Kutunggu gajiku yang datang di pertengahan bulan. Kemudian kupergi belanja pangan seminggu lalu pulang.

***

Semester ke-9, aku masih berstatus mahasiswa. Terlalu lama aku kuliah. Sedikit sesal memilih topik project yang salah. Berjuta syukur karena seluruh pengalaman dan segenap persahabatan. Ini hari pertama kuliah bagi mereka yang kuliah, sedangkan aku sudah cukup kuliah. Aku turut merasa solider bersama mereka yang membangun mimpi mereka menjadi sarjana. Hari pertama adalah hari indah untuk memeluk harapan dan mendendangkan impian.

Hari ini, seusai Paskah, perayaan penciptaan dunia, pembebasan orang Israel dari Mesir oleh Musa, dan kebangkitan Yesus Kristus, aku merasa tercipta menjadi Condro yang baru, terbebaskan dari rasa kuatir dan takut, serta penuh kebangkitan semangat untuk menggapai mimpi. Hari pertama kuliah Sommersemester 2010, kurasakan penuh energi positif mengalir
di badanku dan jiwaku.

Kutemukan jalanku sebagai seorang mahasiswa dan seorang pencinta. Thesis sebentar lagi kelar. Aku pun sudah siap menerima kenyataan yang harus dihadapi oleh setiap pencinta. Hari yang indah ketika seorang anak manusia menemukan tujuan hidupnya dan menjalankan Dharmanya.

Tunggulah Condro baru yang akan muncul di Uni Bremen. Dia akan semakin dahsyat. Gelegar semangatnya akan terdengar hingga ke seluruh dunia. Dia akan segera menjadi 100% manusia dan 100% sarjana.

Sunday, April 4, 2010

Paskah & 4 Tahun di Bremen

Hari ini, 3 April 2010,

Aku memeringati dua hal:
  • 4 tahun di Bremen, dan sayangnya belum lulus master
  • Malam Paskah 2010, yang berarti Paskah kelima di Jerman.
***

Hari dimulai dengan bangun pagi (Pagi? Siang kaleeee). OK, bangun siang tepat jam 12. Aku bangun seperti biasa selalu ingat dia. Oh, aku lupa bilang, sudah 6-8 bulan ini (kaga bisa ngitung, euy), aku sulit melupakan cewe ini. Tiap bangun pagi yang terlintas dalam pikiranku adalah dia. Tapi cewe ini terlalu cerdas dan berpengalaman dalam membangun tembok yang sulit kutembus. Semua kungfu dan jutsu sudah kucoba, baik jurus lama maupun jurus mendadak baru. Namun cewe ini sepertinya adaptif dan resilient. OK, mungkin orang optimis seperti Naruto akan bilang bahwa aku perlu menciptakan jutsu baru.

Empat tahun di Bremen, kisah cintaku naik turun, kadang seiring dengan irama naik-turunnya percaya diriku. Terkadang ingat mantan. Lain waktu, berkenalan dengan wanita baru. Yang tidak mudah juga karena aku kurang berpengalaman. Dalam dunia percintaan, aku memang harus belajar banyak. Kali ini, aku berharap bisa belajar bersama cewe yang bikin aku selalu ingat dia setiap bangun pagi.

Oh, ya, belum cerita tentang cewe ini. Dia cerdas, baik intelektual maupun finansial. Cantik? Hmmm... Dari pandangan pertama kulihat biasa saja. Akan tetapi setelah melihat matanya yang berkilauan, aku terpesona. Dengan kata lain, matanya indah. Pertama aku pikir itu karena contact lens. Sayang sekali, akhir-akhir ini mata indahnya tertutup rambut. OK, dia juga imut alias "cute". Sexy? hmmm... No comment, yang jelas sih masih jomblo (kok, kaga nyambung, ya?).

Awalnya cewe ini tidak membuatku tertarik, akan tetapi ada satu mantra yang diucapkannya yang bisa menggerakkan hatiku yang nampaknya sudah kokoh membatu. Selain itu, dia membuat sesajen yang cocok dengan lidahku dan perutku. Mantra dan sesajen tersebut bikin aku suka. Tapi yang paling utama adalah mantra itu. Kadang kuberharap dia tidak pernah menyebut mantra itu, supaya aku tidak menderita seperti ini setiap bertemu dengan dirinya. Dia kabur dalam benteng kokohnya setelah mengucap mantra, inilah yang membuatku kesal. Betul-betul wanita tak bertanggungjawab!

Pasti pembaca penasaran, mantra apa yang diucapkan wanita ini.
(Ini adalah mantra rahasia, yang cuma diketahui sedikit orang)

***

Setelah bangun pagi, aku memasak "Sayur Cinta yang Hilang namun telah Terganti". Sayur ini kehilangan bawang bombai namun digantikan bawang putih yang ekstra alias berlebih. Sayur ini berasal dari Kitab Suci Vegetarian. Isi sayur adalah kacang merah (?), kacang panjang (?), dan jagung. Rasanya seperti masakanku yang biasa.
(Tanda tanya di atas, karena aku tak tahu sayur apa yang masuk ke dalam wajan. Anak kos tidak perlu tahu masak apa, yang penting enak dan bergizi)

Setelah makan, aku memeringati 4 tahun di Bremen dengan mencukur rambut. Lebih tepatnya, aku membayar orang mencukur rambutku. Aku pergi ke salon langganan. Kuntunjukkan fotoku jaman dahulu dengan rambut terbaik, lebih tepatnya tata rambut paling suboptimal. Ibu Iran tersebut mengangguk sanggup untuk menata seperti itu. Dawai musik yang tercipta dari mesin cukur dan gunting mengalun hingga telingaku. Telingaku aman, tidak terpotong gunting. Hasilnya lumayan. Lumayan pendek, bukan lumayan mirip foto yang kutunjukkan tadi. Ini adalah aplikasi suboptimal control dalam mencukur rambut. Tukang cukur tidak bisa merealisasi bentuk cukuran optimal, mengingat jumlah rambut masa mudaku di foto dan masa tuaku sekarang berbeda.

Seorang cewe manis bilang rambutku bagus dan rapi, lebih asyik dilihat. Seorang cewe cantik bilang rambutku mirip orang Turki. hahaha. Salam selalu buat Si Manis dan Si Cantik.

***

Setelah cukur, aku pulang ke rumah untuk mengisi perut lagi supaya tak kelaparan di malam hari. Kemudian aku Pesta Toilet lalu mandi, serta tidak lupa menggosok gigi. Pergilah aku ke gereja setelah tuntas urusan kamar mandi.

Hujan membasuh tubuhku, lebih tepatnya jaketku dan celanaku. Jaketku basah kuyup. Celanaku basah sedikit meresap. Kutunggu kereta angkot (Strassenbahn) yang mengantarku ke gereja. Aku sampai 10 menit sebelum acara mulai. Aku tahu aku takkan dapat kursi jadi aku berdiri. Aku melihat Flavia, cewe Brazil-Venezuela-Italia-Spanyol (campurannya kaga jelas, euy, saking banyaknya), juga berdiri. Berpandangan mata, senyum sedikit, dan melambaikan tangan. Tapi kok, malah Bapak India di depan Flavia juga ikutan? India ge-er kali.

Akupun mengikuti misa Malam Paskah. Seperti biasa, festival Kristus Cahaya Dunia bersama lilin, dengan ayat dari Kitab Kejadian tentang Penciptaan, Kitab Keluaran tentang pembebasan Israel dari Mesir, sisanya aku tak tahu, yang jelas ada Injil tentang kebangkitan Yesus dari kematian. Kemudian diikuti Litani Santo dan Santa lalu pembaharuan janji babtis dengan percikan air. Setelah itu, misa berjalan dengan urutan seperti biasa, Perjamuan Kudus, lalu pemberkatan kemudian pulang.

Seusai gereja, aku bertemu peserta misa lain yang lumayan dekat di hatiku
Mereka adalah keluarga "bahagia" walau mereka terkadang menggunakan bahasa yang tak kumengerti. Untungnya, Mas Dalang bisa berbicara denganku jika aku mulai "get lost in translation". Sebetulnya aku sebal sekali kalau mereka berkumpul lalu berbicara menggunakan bahasa yang tak kumengerti. Mas Dalang selalu menjadi penyelamatku.

Bahagia pakai kutip di atas maksudnya adalah ada dinamika yang aneh dari keluarga ini. Ada suatu hal yang menakutkan di balik semua keceriaan dan kehangatan. Semoga saja, firasatku ini salah. Aku bukan ahli mengenai dinamika keluarga. Jadi semoga aku salah.

***

Bersama "Keluarga Wayang" tersebut, aku pergi ke acara ramah-tamah Paskah. Aku dapat anggur merah dan sebutir telur. Satu mengandung alkohol, satunya lagi kolesterol. Kombinasi asyik. Kami merencanakan menu Paskah bersama di rumah Mas Dalang esoknya. Awalnya aku kesulitan untuk ikut acara ini karena kemampuan bahasaku terbatas untuk berbicara dengan mereka. Untungnya, Mas Dalang membantuku. Semoga aku bisa senang di acara ini besok. Semoga oh semoga. (Antara optimis dan pesimis)

Setelah itu, kami pulang ke rumah masing-masing. Kemudian aku menulis blog ini. Setelah itu, aku mau tidur menyambut pagi Paskah lalu bertemu mereka kembali. Oh, Tuhan lindungi aku!

***

Semoga setelah tidur, aku dapat bangkit menjadi Condro baru, seperti Yesus bangkit dari kematian. Aku merasakan bahwa kepercayaan diriku yang mati telah bangkit (perlahan-lahan). Paskah ini menjadi peringatan kebangkitan ini. Dua atau tiga tahun kuhabiskan waktu di Bremen memulihkan rasa percaya diri yang remuk redam, akibat pergumulan diri dalam studi dan cinta. Aku sudah menemukan diriku yang jernih tahun lalu saat kuberulangtahun ke-29. Kini dengan mata jernih aku melihat semuanya. Aku bisa melihat cahaya terang, yang bisa membantuku berjalan menyusuri tujuan hidupku. Aku bisa melihat diriku dan orang lain seperti dulu lagi. Kemampuanku pulih. Kemanusiaanku telah kembali. Aku sudah sembuh. Rasa takut sepertinya sirna dari diriku. Tinggal satu lagi lawanku, yaitu rasa malas. Semoga Paskah ini menjadi pertanda bangkitnya perlawanan terhadap kemalasan. Seperti moto Himpunan Mahasiswa Elektroteknik ITB, "We can fight!", aku akan berjuang melawan rasa malas.

Tidak kusesali 4 tahun di Bremen, Jerman.
Aku akan lulus menjadi Master of Science, yang 100% sarjana dan 100% manusia.
Aku juga akan menyatakan cintaku kepadanya, tunggu tanggal mainnya.


Selamat Paskah 2010!


Sunday, March 14, 2010

Makan-makan bareng Mba Rina dan legenda Bremen

Hari Kamis aku merasakan Baso Tahu Cinta dan Siomay Senandung Rindu. Ceritanya ada di sini.
Lalu hari Sabtu, aku makan-makan bareng mahasiswa RRC dalam rangka Tahun Baru Cina, tepatnya tahun Macan.

Nah, hari Minggu siang, tanggal 14 Februari 2010, aku datang lagi ke acara makan-makan Mba Rina. Beliau sangat dekat di hati anak-anak PPI Bremen. Beliau sudah mengundang kami seminggu (atau 2 minggu?) sebelumnya.

Makan-makan adalah hal yang biasa. Tapi kali ini, ada kesan mendalam dalam acara ini. Peserta yang datang adalah pendekar-pendekar Legenda Bremen. Jarang sekali, ada orang-orang sakti berkumpul di satu tempat. Ini adalah pertanda bahwa tahun 2010 ini akan terjadi peristiwa yang mengguncang Bremen.

Para legenda Bremen yang hadir adalah
  • Aa Teguh, kuncen sakti penunggu Kuburan 24. Ilmu sakti Pancasona membuat Beliau abadi sehingga merasakan suka-duka menggunakan uang DM. Dia punya tip manjur buat mahasiswa baru yang ingin kurus. Yang perlu diwaspadai adalah kalau Beliau tertawa.
  • Sefa, pembunuh bayaran sakti di Mafia Wars (Facebook). Setelah tujuh tahun penantian, Beliau mendapatkan ilmu mahadahsyat untuk membuat kitab sakti thesis. Namun kini sedikit tertunda karena lahir Sang Buah Hati.
  • Sisfairy, pejalan sakti di Bremen. Dengan ilmu Langkah Sutera, dia cukup melangkah sedikit dan sampai di pusat kota Bremen dalam sekejap. Kemampuan lain adalah dia punya penciuman dan pendengaran yang tajam terhadap gosip yang beredar di Bremen dan Bremerhaven.
  • Ilham Nirwan, tabib sakti cinta dan karir. Beliau memiliki kesaktian untuk mengerti kata-kata Aa Teguh kalau lagi komat-kamit. Selain itu, info pekerjaan di Bremen bisa didapatkan dari Beliau. Tips-tips perjuangan cinta bisa dikonsultasikan kepada dokter cinta ini. Dia menguasai kesatuan teori dan praksis dalam bercinta. Lima tahun di Jerman dan tinggal di 3 kota membuat Beliau memiliki ilmu kebal sehingga tahan banting.
  • ISCAB, murid sakti. Beliau memiliki kecerdasan tinggi untuk mempelajari kesaktian para legenda di atas. Tapi Beliau tak pernah serius belajar, jadinya hanya sedikit kesaktian yang diturunkan dari para legenda sebelumnya. Kesaktian paling murni dari Beliau adalah Tsunami Internet. Dengan ilmu ini, Beliau membanjiri milis PPI Bremen dengan informasi yang kaga penting-penting amat.
Kesaktian para Legenda Bremen terletak pada kemampuannya bercerita. Cerita hanya diperoleh dari pengalaman hidup. Kesaktian mereka diuji di tempat ini. Mereka yang mampu memberikan cerita berkesan dan nasihat survival di Jerman adalah yang paling sakti. Biasanya semakin lama di Jerman, orang akan semakin sakti dan kesaktian ini bakal melegenda.

Cukup sulit memanggil Legenda Bremen. Mereka harus didatangkan menggunakan sesajen. Mba Rina memiliki sesajen kolak manis yang ampuh untuk mendatangkan mereka. Selain Mba Rina, cuma Haferkampung yang memiliki tempat keramat untuk memanggil para Legenda Bremen. Tapi untuk mengumpulkan semuanya dalam satu tempat, sesajen lengkap sangat dibutuhkan, misalnya ayam, sayur asem, kolak manis, sambal hijau, sambal merah, sambal terasi, dll.

Kembali ke acara makan-makan Mba Rina. Selain para legenda Bremen, hadir pula Ulfa, Atra, Veny, Mustafa (suami Sefa), dll. Pada sore hari, hadir salah satu selebriti muda Indonesia, yaitu Chacha Frederica. Dia mau magang di Bremen untuk menjalankan Dharma Mahasiswi SGU.

Aku senang dengan acara ini karena tahun ini para legenda Bremen bernasib cerah. Rata-rata mereka sedang menjalankan Dharmanya dengan baik sebagai seorang mahasiswa dan seorang manusia. Ada yang menjadi ibu, ada yang sedang menunaikan thesis, ada yang mulai semangat kuliah, ada yang sedang merencanakan pernikahan, dll. Semoga aku, ISCAB, sebagai salah satu legenda Bremen menyelesaikan thesis dengan baik tahun ini.