Thursday, December 22, 2011

Meninggalkan Bremen

Bremen adalah rumah ketigaku. Di sana aku pernah kuliah dan bertemu kawan-kawan baru. Kalau kuhitung, aku datang April 2006 dan pergi Agustus 2011. Ternyata aku di sana 5 tahun, 4 bulan. Kawan datang dan pergi. Dari kawan diskusi hingga kawan dugem. Oh, ya, di sana aku kuliah otomasi (Automation Engineering/Automatissierungstechnik). Aku kuliah 2 tahun. Dua tahun efektif, sisanya hura-hura, :-).

Tempat nongkrong berubah-ubah. Kuburan 24 Woltmershausen, Haferkampung, Perempatan Subway Neustadt, Jambie, Wisma Ten Ten One, Tabak Börse, dll. Beberapa telah tutup. Sekarang mungkin bakal ada tempat nongkrong lain.

Tempat belanja makanan Asia yang kuingat adalah Vina Store di dekat Am Brill dan Wing Wa di dekat Schuesselkorb. Keduanya memiliki kecap dan sambal Indonesia. Di tempat baruku, belum kutemukan kecap dan sambal Indonesia.

Dukun di Bremen juga berubah-ubah. Dukun adalah orang yang kalau membuka mulutnya bakal keluar kata-kata yang tidak dimengerti oleh orang banyak. Kayak komat-kamit. Di Kuburan 24 dulu pernah ada dukun. Di tempat lain, mungkin juga ada dukun. Mungkin aku juga dukun.

Di Bremen ini kurasakan dua kali mati lampu dan satu kali banjir yang menenggelamkan beberapa mobil. Mati lampu pertama terjadi karena ganti sekring dan meteran di rumah. Mati lampu kedua terjadi karena tetangga sebelah terkena masalah listrik yang menyebabkan satu jalan harus dimatikan untuk perbaikan kabel. Banjir di Bremen terjadi tahun ini karena saluran air bawah tanah dan reservoir buatan tidak mampu menampung air. Mungkin ini efek perubahan iklim.

Bremen bagiku seperti kawah Candradimuka bagi Gatotkaca. Di sana aku belajar menjadi mandiri. Juga mengasah ilmu mata hatiku dalam mengenal manusia. Di sana, aku belajar melawan kesepian. Ternyata jumlah teman tidak akan mengobati kesepian. Yang bisa mengobati kesepian adalah diri sendiri. Aku belajar menggunakan jeruk. Ketika kesepian sudah akut dan tak punya uang untuk bayar pulsa telpon, juga tiada teman chatting, aku mengobrol dengan jeruk. Akhirnya kusadari bahwa tapa jeruk ini membuahkan hasil. Kesepian menjadi tak bermakna lagi bagiku. Secara mandiri, aku bisa melawan kesepian. Tapi ada efek samping tapa ini, yaitu nampaknya aku menjadi dukun di Bremen.

Walau aku sulit lepas dari Bremen, tapi naluri dukunku berkata bahwa di luar sana ada sesuatu yang besar menantiku. Keluar dari Bremen adalah cara untuk menuju langit. Bremen bagai kepompong dan aku sekarang menjadi kupu-kupu yang telah keluar dari kepompong. Sekarang aku akan terbang ke langit tinggi menggapai cita-citaku yaitu jadi Engineer. Darah Juang!

***

Ing ngarso Signal Processing.

Ing madyo Matematiko.

Tut wuri Control Engineering.

 

Tuesday, August 2, 2011

Pertemuan dengan Wakil Rektor III Universität Bremen 7 Juli 2011

Pada tanggal 7 Juli 2011 jam 14.30 aku bertemu Wakil Rektor III Universität Bremen di ruang VWG 2060. Wakil Rektor III disebut sebagai Kon3, singkatan dari Konrektor 3, dengan bidang "Interkulturalität und Internationalität" (urusan interkultural dan internasional). VWG adalah Verwaltungsgebäude (Gedung administrasi). Di gedung ini terdapat kantor rektor, konrektor, dan juga International Office serta tempat pendaftaran mahasiswa baru.

Yang menjadi Kon3 adalah Frau Prof. Dr. Yasemin Karakaşoğlu (wiki). Beliau bekerja di Fachbereich 12, yaitu Fakultas Pendidikan di Uni Bremen (uni). Keahliannya adalah bidang pendidikan interkultural.

Yang hadir pada acara pertemuan 7 Juli ini bersama Kon3 adalah





  • International Office (en & de), dua orang: Jens Kemper dan Nurten Kurnaz


  • INU (Indie Network of Universität Bremen), satu orang


  • Mahasiswa/i Iran, dua orang


  • Kamerun, satu orang


  • PPI Bremen (Persatuan Pelajar Indonesia), satu orang yaitu saya.


Pada pertemuan ini dibicarakan mengenai program kerja Kon3 tahun 2011-2013 (bisa dilihat di sini dan akan kujelaskan di blog post lain). Selain itu, Kon3 ingin berkenalan dengan komunitas mahasiswa-mahasiswi internasional di Universitas Bremen. Yang datang tidak banyak, seperti yang ditulis di atas, karena ini baru pertemuan pertama. Pada pertemuan selanjutnya Kon3 mengijinkan tiap komunitas mahasiswa diwakili oleh 4 orang.


Hasil perkenalan sebagai berikut



  • Kon3 ingin supaya dirinya bersama International Office (IO), Kompass, dan ASTA lebih terstruktur dan saling terhubung untuk memudahkan komunitas mahasiswa internasional dalam mengenalkan diri atau membuat kegiatan. Kon3 juga menginginkan pertemuan rutin dengan komunitas mahasiswa-mahasiswi internasional di Uni Bremen.

  • PPI Bremen (Indonesia) selama aku di Bremen, sudah mengadakan dua kegiatan yang menggunakan dana Uni Bremen. Pertama tahun 2009 di Theatersaal Uni Bremen bekerjasama dengan ASTA dan kedua tahun 2011 bekerjasama dengan ESG Bremen.

  • INU (India) sudah berdiri tahun 2008 dan sering mengadakan kegiatan di Glashalle Uni Bremen. Mayoritas mahasiswi India kuliah Biologi dan mahasiswanya kuliah bermacam-macam (teknik, informatik, dll).

  • Komunitas Iran terdiri dari dua grup, yaitu Iranische Frauengruppe (Wanita Iran) dan komunitas campur.

  • Satu orang dari Kamerun, terlibat dalam ASTA, AISA (Autonome International Studierende), dan grup mahasiswa/i Afrika.

  • International Office (IO) menanyakan apakah komunitas mahasiswa/i internasional sudah mengisi ASTA-Anerkennungsantrag, yaitu formulir dari ASTA bahwa suatu komunitas/organisasi terdaftar di ASTA. IO juga mengajak mahasiswa/i untuk ikut Kompass, yaitu program membimbing mahasiswa internasional.

Hal-hal yang ditawarkan oleh Kon3 tercantum dalam selebaran yang dibagikan. Kira-kira bagian pentingnya adalah



  • Pertemuan rutin dengan mahasiswa/i internasional, baik di ruang rapat maupun program minum kopi bersama Wakil Rektor di kafetaria GW2

  • Mengajak komunitas internasional terlibat dalam penyambutan mahasiswa baru (Orienterungswoche, dalam Bahasa Indonesia disebut sebagai OSPEK, hehehe)

  • Perbaikan sistem administrasi dan web serta kerjasama untuk saling memudahkan semua pihak untuk saling berhubungan dan memperkenalkan diri: Kon3, ASTA, IO, mahasiswa/i internasional, Career Center, Goethe Institute, Sprachzentrum, dll

  • Gerakan multilingual Uni Bremen, contohnya penunjuk jalan multi-bahasa di dalam kampus.

***

Tuesday, April 6, 2010

Hari pertama kuliah Semester ke-9

Bremen, 6 April 2010, tepatnya hari Selasa,

Hari yang indah dengan udara cerah. Angin sejuk bertiup sepoi-sepoi mengikuti alunan musim semi. Bersama hangatnya mentari, Sang Bayu membelai wajahku yang berpelembab.

Oh, ya, kumulai hari ini dengan ritual sederhana: sarapan roti, pisang, dan jus apel. Sarapanku kubarengkan dengan membaca email. Seperti hari biasa yang tidak terlalu istimewa. Entah kenapa, aku ingin mandi. Biasanya aku malas melakukan ini. Namun, keinginan untuk membasuh diriku dengan air hangat membuatku menikmati mandi. Semburan shower memijat punggungku laksana belaian hangat wanita yang kurindukan. Sedikit obat untuk pria kesepian ini. Butiran air yang memantul dari badanku berkilauan bagai permata mengingatkanku akan kemilau mata wanita itu. Seusai mandi, kupakai pelembab wajah murahan dari ALDI. Yang tak mempan menjaga wajahku dari kekeringan. Nampaknya aku perlu beli pelembab baru.

Aku pun pergi ke kampus Uni Bremen naik angkot tercinta. Teringat aku belum membeli rantai sepeda. Ah, mungkin minggu depan saja, aku sibuk dengan thesis hari ini. Bus 25 berisi banyak gadis belia cantik. Mereka terlalu muda ditambah pikiranku dan perasaanku tertuju pada seorang wanita yang telah mengucapkan mantra yang tepat untuk menggerakkan hatiku. Dua halte dan sampailah di stasiun utama. Kutunggu sebentar, Strassenbahn 6 membawaku ke Uni. Tak terlalu penuh. Kusadar bahwa sekarang sudah semester ke-9, kulalui jalur ini. Sedangkan aku belum juga lulus master yang cukup ditempuh 4 semester. Plus, belum terlalu sukses dalam mencari jodoh.

***

Aku menuju Uni untuk berkumpul bersama Elektro Ceria Bremen: Meity, Natasha, Yonathan tanpa Kuncen Sakti Kuburan 24. Di Strassenbahn, bertemu Meity. Beliau baru pulang liburan ke Indonesia dan membawa segudang cerita asyik pengalamannya. Kemudian sesampainya di Mensa, kami berdua secara tak terduga bertemu Novi (Bu Dalang). Bertiga menunggu Natasha dan Yonathan. Akhirnya mereka datang. Yonathan dan aku membeli Essen I yang murah. Yang lain nampaknya membeli salat. Kami juga bertemu Tim, teman Jerman yang mengelola yayasan di Indonesia. Tapi Tim tidak duduk bersama kami berlima.

Di meja tersebut, kami mengobrol ceria tentang banyak hal. Topik pernikahan 10 milyar Nia Ramadhani. Liburan Meity ke Bali dan Manado. Kupernya Yonathan. Profesor yang résé. Jurusan baru Meity. Beratnya ujian. Dan banyak hal lainnya. (Buat Widha, kami juga ngobrolin tentang dikau, hehehe). Ternyata ada dua warga Haferkampung yang menghampiri kami: Ucup dan Lia. Keduanya mendengar obrolan khas Indonesia yang ekspresif, keras, penuh tawa ngakak, dan tak penting. Basa-basi sejenak, keduanya lalu memilih tempat lain.

Seusai makan siang bersama, kami berpencar. Mba Novi pergi bersepeda menuju sebuah tempat perjanjian. Yonathan dan aku pergi ke kafetaria GW2 untuk mengerjakan thesis masing-masing. Natasha mengambil tas di NW1 sebelum bergabung bersama kami berdua di GW2. Meity pergi bekerja.

***

Di kafetaria GW2, kumulai thesis dengan membaca paper dan membuka source code program demi mencari rumus sakti. Ternyata paper tak kubawa, namun aku punya versi digitalnya. Yonathan nampaknya membaca paper juga. Tapi mengapa layar monitorku berisi berita "Susno"? Baru 5 paragraf berita tentang Indonesia, aku langsung ilfil. Aku sudah memutuskan ikatanku dengan Indonesia, jadinya aku sudah merasa "I don't belong to Indonesia anymore". Thesis jauh lebih penting.

Tak berapa lama kemudian Natasha singset datang membawa gosip. Cerita tentang seorang kawan Pakistan yang mendua (atau mentiga?). Orang ini memiliki teman "tandem with benefit", walau sudah punya pacar. Minggu lalu, kulihat dia berciuman di Kafetaria ini. Kali ini, Natasha dan Meity melihat dia berciuman di halte. Moto hidupku adalah "Tanpa gosip, dunia runtuh". Jadinya aku selalu tertarik mendengar gosip. Ujung dari gosip ini adalah mengapa aku tetap jomblo sedangkan teman Pakistan tadi bisa "menikmati masakan Jerman" walau udah punya pacar, hehehe. Selain itu, Natasha pun kamiceritakan tentang fans beratnya, yaitu teman kosku yang sekarang. Teman kosku lagi bertapa di kamarnya demi ujian yang sama dengan Natasha pada keesokan hari.

Bertiga di meja kafetaria, kami membangun mimpi kami. Yonathan menuntaskan project sembari memulai thesis. Natasha belajar Speech Processing II demi ujian esoknya. Aku berkutat dengan analisis data EEG dari kepalaku sendiri. Semuanya membawa harapan akan masa depan cerah seperti cuaca Bremen hari ini.

Memang asyik belajar bersama. Ketika satu ingin pergi, kawan lain menjaga laptop dari tangan jahil. Aku bisa ke toilet dengan tenang. Bisa membeli kopi. Berdiskusi mengenai signal processing atau beberapa aturan universitas. Kadang sedikit bergosip, karena tanpa gosip dunia runtuh. Juga break curhat.

Ada saat berjumpa, ada saat berpisah. Yonathan pergi duluan demi penuntasan project dan urusan administratif. Tinggal Natasha dan aku berdua. Kutumpahkan kegalauan hatiku dalam sepotong curhat padanya. Dia memberiku beberapa nasihat mengenai cinta. Aku memberinya sedikit (sangat sedikit) semangat untuk ujian besok. Dia mendukung kebulatan tekadku untuk menurunkan kartu truf dalam suatu permainan cinta. Kartu truf jangan ditahan-tahan. Setelah itu, kami berpisah di halte.

***

Strassenbahn 6 menderu menjauhi Uni. Indahnya musim semi. Hangatnya kawan-kawan. Semuanya menghanyutkanku bersama seluruh rasa syukur dalam jiwa. Aliran energi positif ini seirama dengan tekad bulatku untuk menyelesaikan permainan cinta yang nampaknya semakin buruk. Harus kubuka kartu itu segera sebelum terjadi bencana. Bukan masalah sukses atau gagal melainkan demi pembersihan jiwaku. Kira-kira tujuh bulan kuselami hatiku untuk menjawab pertanyaan benarkah dia wanita itu. Aku memang orang yang sulit jatuh cinta. Pintu hatiku terlalu kokoh. Mantra wanita ini berhasil membukanya. Perjalanan Strassenbahn membawku beberapa ingatan masa lalu yang ceria bersama wanita ini. Halte demi halte, memori demi memori.

Sampailah aku di halte tujuan. Kupergi ke bank mengambil uang. Tak lupa mengecek rekeningku yang menyedihkan. Bulan April bulan prihatin. Kutunggu gajiku yang datang di pertengahan bulan. Kemudian kupergi belanja pangan seminggu lalu pulang.

***

Semester ke-9, aku masih berstatus mahasiswa. Terlalu lama aku kuliah. Sedikit sesal memilih topik project yang salah. Berjuta syukur karena seluruh pengalaman dan segenap persahabatan. Ini hari pertama kuliah bagi mereka yang kuliah, sedangkan aku sudah cukup kuliah. Aku turut merasa solider bersama mereka yang membangun mimpi mereka menjadi sarjana. Hari pertama adalah hari indah untuk memeluk harapan dan mendendangkan impian.

Hari ini, seusai Paskah, perayaan penciptaan dunia, pembebasan orang Israel dari Mesir oleh Musa, dan kebangkitan Yesus Kristus, aku merasa tercipta menjadi Condro yang baru, terbebaskan dari rasa kuatir dan takut, serta penuh kebangkitan semangat untuk menggapai mimpi. Hari pertama kuliah Sommersemester 2010, kurasakan penuh energi positif mengalir
di badanku dan jiwaku.

Kutemukan jalanku sebagai seorang mahasiswa dan seorang pencinta. Thesis sebentar lagi kelar. Aku pun sudah siap menerima kenyataan yang harus dihadapi oleh setiap pencinta. Hari yang indah ketika seorang anak manusia menemukan tujuan hidupnya dan menjalankan Dharmanya.

Tunggulah Condro baru yang akan muncul di Uni Bremen. Dia akan semakin dahsyat. Gelegar semangatnya akan terdengar hingga ke seluruh dunia. Dia akan segera menjadi 100% manusia dan 100% sarjana.

Sunday, April 4, 2010

Paskah & 4 Tahun di Bremen

Hari ini, 3 April 2010,

Aku memeringati dua hal:
  • 4 tahun di Bremen, dan sayangnya belum lulus master
  • Malam Paskah 2010, yang berarti Paskah kelima di Jerman.
***

Hari dimulai dengan bangun pagi (Pagi? Siang kaleeee). OK, bangun siang tepat jam 12. Aku bangun seperti biasa selalu ingat dia. Oh, aku lupa bilang, sudah 6-8 bulan ini (kaga bisa ngitung, euy), aku sulit melupakan cewe ini. Tiap bangun pagi yang terlintas dalam pikiranku adalah dia. Tapi cewe ini terlalu cerdas dan berpengalaman dalam membangun tembok yang sulit kutembus. Semua kungfu dan jutsu sudah kucoba, baik jurus lama maupun jurus mendadak baru. Namun cewe ini sepertinya adaptif dan resilient. OK, mungkin orang optimis seperti Naruto akan bilang bahwa aku perlu menciptakan jutsu baru.

Empat tahun di Bremen, kisah cintaku naik turun, kadang seiring dengan irama naik-turunnya percaya diriku. Terkadang ingat mantan. Lain waktu, berkenalan dengan wanita baru. Yang tidak mudah juga karena aku kurang berpengalaman. Dalam dunia percintaan, aku memang harus belajar banyak. Kali ini, aku berharap bisa belajar bersama cewe yang bikin aku selalu ingat dia setiap bangun pagi.

Oh, ya, belum cerita tentang cewe ini. Dia cerdas, baik intelektual maupun finansial. Cantik? Hmmm... Dari pandangan pertama kulihat biasa saja. Akan tetapi setelah melihat matanya yang berkilauan, aku terpesona. Dengan kata lain, matanya indah. Pertama aku pikir itu karena contact lens. Sayang sekali, akhir-akhir ini mata indahnya tertutup rambut. OK, dia juga imut alias "cute". Sexy? hmmm... No comment, yang jelas sih masih jomblo (kok, kaga nyambung, ya?).

Awalnya cewe ini tidak membuatku tertarik, akan tetapi ada satu mantra yang diucapkannya yang bisa menggerakkan hatiku yang nampaknya sudah kokoh membatu. Selain itu, dia membuat sesajen yang cocok dengan lidahku dan perutku. Mantra dan sesajen tersebut bikin aku suka. Tapi yang paling utama adalah mantra itu. Kadang kuberharap dia tidak pernah menyebut mantra itu, supaya aku tidak menderita seperti ini setiap bertemu dengan dirinya. Dia kabur dalam benteng kokohnya setelah mengucap mantra, inilah yang membuatku kesal. Betul-betul wanita tak bertanggungjawab!

Pasti pembaca penasaran, mantra apa yang diucapkan wanita ini.
(Ini adalah mantra rahasia, yang cuma diketahui sedikit orang)

***

Setelah bangun pagi, aku memasak "Sayur Cinta yang Hilang namun telah Terganti". Sayur ini kehilangan bawang bombai namun digantikan bawang putih yang ekstra alias berlebih. Sayur ini berasal dari Kitab Suci Vegetarian. Isi sayur adalah kacang merah (?), kacang panjang (?), dan jagung. Rasanya seperti masakanku yang biasa.
(Tanda tanya di atas, karena aku tak tahu sayur apa yang masuk ke dalam wajan. Anak kos tidak perlu tahu masak apa, yang penting enak dan bergizi)

Setelah makan, aku memeringati 4 tahun di Bremen dengan mencukur rambut. Lebih tepatnya, aku membayar orang mencukur rambutku. Aku pergi ke salon langganan. Kuntunjukkan fotoku jaman dahulu dengan rambut terbaik, lebih tepatnya tata rambut paling suboptimal. Ibu Iran tersebut mengangguk sanggup untuk menata seperti itu. Dawai musik yang tercipta dari mesin cukur dan gunting mengalun hingga telingaku. Telingaku aman, tidak terpotong gunting. Hasilnya lumayan. Lumayan pendek, bukan lumayan mirip foto yang kutunjukkan tadi. Ini adalah aplikasi suboptimal control dalam mencukur rambut. Tukang cukur tidak bisa merealisasi bentuk cukuran optimal, mengingat jumlah rambut masa mudaku di foto dan masa tuaku sekarang berbeda.

Seorang cewe manis bilang rambutku bagus dan rapi, lebih asyik dilihat. Seorang cewe cantik bilang rambutku mirip orang Turki. hahaha. Salam selalu buat Si Manis dan Si Cantik.

***

Setelah cukur, aku pulang ke rumah untuk mengisi perut lagi supaya tak kelaparan di malam hari. Kemudian aku Pesta Toilet lalu mandi, serta tidak lupa menggosok gigi. Pergilah aku ke gereja setelah tuntas urusan kamar mandi.

Hujan membasuh tubuhku, lebih tepatnya jaketku dan celanaku. Jaketku basah kuyup. Celanaku basah sedikit meresap. Kutunggu kereta angkot (Strassenbahn) yang mengantarku ke gereja. Aku sampai 10 menit sebelum acara mulai. Aku tahu aku takkan dapat kursi jadi aku berdiri. Aku melihat Flavia, cewe Brazil-Venezuela-Italia-Spanyol (campurannya kaga jelas, euy, saking banyaknya), juga berdiri. Berpandangan mata, senyum sedikit, dan melambaikan tangan. Tapi kok, malah Bapak India di depan Flavia juga ikutan? India ge-er kali.

Akupun mengikuti misa Malam Paskah. Seperti biasa, festival Kristus Cahaya Dunia bersama lilin, dengan ayat dari Kitab Kejadian tentang Penciptaan, Kitab Keluaran tentang pembebasan Israel dari Mesir, sisanya aku tak tahu, yang jelas ada Injil tentang kebangkitan Yesus dari kematian. Kemudian diikuti Litani Santo dan Santa lalu pembaharuan janji babtis dengan percikan air. Setelah itu, misa berjalan dengan urutan seperti biasa, Perjamuan Kudus, lalu pemberkatan kemudian pulang.

Seusai gereja, aku bertemu peserta misa lain yang lumayan dekat di hatiku
Mereka adalah keluarga "bahagia" walau mereka terkadang menggunakan bahasa yang tak kumengerti. Untungnya, Mas Dalang bisa berbicara denganku jika aku mulai "get lost in translation". Sebetulnya aku sebal sekali kalau mereka berkumpul lalu berbicara menggunakan bahasa yang tak kumengerti. Mas Dalang selalu menjadi penyelamatku.

Bahagia pakai kutip di atas maksudnya adalah ada dinamika yang aneh dari keluarga ini. Ada suatu hal yang menakutkan di balik semua keceriaan dan kehangatan. Semoga saja, firasatku ini salah. Aku bukan ahli mengenai dinamika keluarga. Jadi semoga aku salah.

***

Bersama "Keluarga Wayang" tersebut, aku pergi ke acara ramah-tamah Paskah. Aku dapat anggur merah dan sebutir telur. Satu mengandung alkohol, satunya lagi kolesterol. Kombinasi asyik. Kami merencanakan menu Paskah bersama di rumah Mas Dalang esoknya. Awalnya aku kesulitan untuk ikut acara ini karena kemampuan bahasaku terbatas untuk berbicara dengan mereka. Untungnya, Mas Dalang membantuku. Semoga aku bisa senang di acara ini besok. Semoga oh semoga. (Antara optimis dan pesimis)

Setelah itu, kami pulang ke rumah masing-masing. Kemudian aku menulis blog ini. Setelah itu, aku mau tidur menyambut pagi Paskah lalu bertemu mereka kembali. Oh, Tuhan lindungi aku!

***

Semoga setelah tidur, aku dapat bangkit menjadi Condro baru, seperti Yesus bangkit dari kematian. Aku merasakan bahwa kepercayaan diriku yang mati telah bangkit (perlahan-lahan). Paskah ini menjadi peringatan kebangkitan ini. Dua atau tiga tahun kuhabiskan waktu di Bremen memulihkan rasa percaya diri yang remuk redam, akibat pergumulan diri dalam studi dan cinta. Aku sudah menemukan diriku yang jernih tahun lalu saat kuberulangtahun ke-29. Kini dengan mata jernih aku melihat semuanya. Aku bisa melihat cahaya terang, yang bisa membantuku berjalan menyusuri tujuan hidupku. Aku bisa melihat diriku dan orang lain seperti dulu lagi. Kemampuanku pulih. Kemanusiaanku telah kembali. Aku sudah sembuh. Rasa takut sepertinya sirna dari diriku. Tinggal satu lagi lawanku, yaitu rasa malas. Semoga Paskah ini menjadi pertanda bangkitnya perlawanan terhadap kemalasan. Seperti moto Himpunan Mahasiswa Elektroteknik ITB, "We can fight!", aku akan berjuang melawan rasa malas.

Tidak kusesali 4 tahun di Bremen, Jerman.
Aku akan lulus menjadi Master of Science, yang 100% sarjana dan 100% manusia.
Aku juga akan menyatakan cintaku kepadanya, tunggu tanggal mainnya.


Selamat Paskah 2010!


Sunday, March 14, 2010

Makan-makan bareng Mba Rina dan legenda Bremen

Hari Kamis aku merasakan Baso Tahu Cinta dan Siomay Senandung Rindu. Ceritanya ada di sini.
Lalu hari Sabtu, aku makan-makan bareng mahasiswa RRC dalam rangka Tahun Baru Cina, tepatnya tahun Macan.

Nah, hari Minggu siang, tanggal 14 Februari 2010, aku datang lagi ke acara makan-makan Mba Rina. Beliau sangat dekat di hati anak-anak PPI Bremen. Beliau sudah mengundang kami seminggu (atau 2 minggu?) sebelumnya.

Makan-makan adalah hal yang biasa. Tapi kali ini, ada kesan mendalam dalam acara ini. Peserta yang datang adalah pendekar-pendekar Legenda Bremen. Jarang sekali, ada orang-orang sakti berkumpul di satu tempat. Ini adalah pertanda bahwa tahun 2010 ini akan terjadi peristiwa yang mengguncang Bremen.

Para legenda Bremen yang hadir adalah
  • Aa Teguh, kuncen sakti penunggu Kuburan 24. Ilmu sakti Pancasona membuat Beliau abadi sehingga merasakan suka-duka menggunakan uang DM. Dia punya tip manjur buat mahasiswa baru yang ingin kurus. Yang perlu diwaspadai adalah kalau Beliau tertawa.
  • Sefa, pembunuh bayaran sakti di Mafia Wars (Facebook). Setelah tujuh tahun penantian, Beliau mendapatkan ilmu mahadahsyat untuk membuat kitab sakti thesis. Namun kini sedikit tertunda karena lahir Sang Buah Hati.
  • Sisfairy, pejalan sakti di Bremen. Dengan ilmu Langkah Sutera, dia cukup melangkah sedikit dan sampai di pusat kota Bremen dalam sekejap. Kemampuan lain adalah dia punya penciuman dan pendengaran yang tajam terhadap gosip yang beredar di Bremen dan Bremerhaven.
  • Ilham Nirwan, tabib sakti cinta dan karir. Beliau memiliki kesaktian untuk mengerti kata-kata Aa Teguh kalau lagi komat-kamit. Selain itu, info pekerjaan di Bremen bisa didapatkan dari Beliau. Tips-tips perjuangan cinta bisa dikonsultasikan kepada dokter cinta ini. Dia menguasai kesatuan teori dan praksis dalam bercinta. Lima tahun di Jerman dan tinggal di 3 kota membuat Beliau memiliki ilmu kebal sehingga tahan banting.
  • ISCAB, murid sakti. Beliau memiliki kecerdasan tinggi untuk mempelajari kesaktian para legenda di atas. Tapi Beliau tak pernah serius belajar, jadinya hanya sedikit kesaktian yang diturunkan dari para legenda sebelumnya. Kesaktian paling murni dari Beliau adalah Tsunami Internet. Dengan ilmu ini, Beliau membanjiri milis PPI Bremen dengan informasi yang kaga penting-penting amat.
Kesaktian para Legenda Bremen terletak pada kemampuannya bercerita. Cerita hanya diperoleh dari pengalaman hidup. Kesaktian mereka diuji di tempat ini. Mereka yang mampu memberikan cerita berkesan dan nasihat survival di Jerman adalah yang paling sakti. Biasanya semakin lama di Jerman, orang akan semakin sakti dan kesaktian ini bakal melegenda.

Cukup sulit memanggil Legenda Bremen. Mereka harus didatangkan menggunakan sesajen. Mba Rina memiliki sesajen kolak manis yang ampuh untuk mendatangkan mereka. Selain Mba Rina, cuma Haferkampung yang memiliki tempat keramat untuk memanggil para Legenda Bremen. Tapi untuk mengumpulkan semuanya dalam satu tempat, sesajen lengkap sangat dibutuhkan, misalnya ayam, sayur asem, kolak manis, sambal hijau, sambal merah, sambal terasi, dll.

Kembali ke acara makan-makan Mba Rina. Selain para legenda Bremen, hadir pula Ulfa, Atra, Veny, Mustafa (suami Sefa), dll. Pada sore hari, hadir salah satu selebriti muda Indonesia, yaitu Chacha Frederica. Dia mau magang di Bremen untuk menjalankan Dharma Mahasiswi SGU.

Aku senang dengan acara ini karena tahun ini para legenda Bremen bernasib cerah. Rata-rata mereka sedang menjalankan Dharmanya dengan baik sebagai seorang mahasiswa dan seorang manusia. Ada yang menjadi ibu, ada yang sedang menunaikan thesis, ada yang mulai semangat kuliah, ada yang sedang merencanakan pernikahan, dll. Semoga aku, ISCAB, sebagai salah satu legenda Bremen menyelesaikan thesis dengan baik tahun ini.


Macan

Kenapa judul blog ini Macan?

Ini bukan karena Trio Macan yang bisa nyanyi "Kucing Garong" sambil akrobat. Ini karena tahun ini adalah tahun Macan, menurut kalender Cina. Bulan lalu, aku merayakan Tahun Baru Cina sekaligus hari Valentine dengan makan-makan. Bagi orang Cina, Imlek lebih tepat disebut festival musim semi daripada tahun baru. Mirip dengan kebudayaan Yunani Kuno dan Romawi yang memperingati musim semi sebagai awal tahun.

Semalam sebelum Tahun Macan dimulai, aku merayakan bersama kawan-kawan Cina di Bremen. Alasanku adalah aku belum pernah merasakan kebudayaan asli Cina (maksudnya yang asli dari RRC). Aku ingin tahu bagaimana mahasiswa-mahasiswi perantauan dari RRC merayakan hari ini di negeri seberang, yaitu Jerman.

Kebetulan seorang kawan bernama Zuo Lin mengadakan acara ini. Akupun mengontak dia sebelumnya lewat Facebook. Perjuanganku untuk mengikuti acara ini cukup berat karena aku tidak memiliki nomor telponnya. Selain itu, dia tidak membalas pesanku. OK, sebetulnya aku tidak diundang untuk bergabung dalam acara ini. Akan tetapi, di mana ada kemauan, di situ ada jalan.

Pada hari H, aku mencoba menelpon Si Cantik untuk bertanya tentang acara ini. Karena dia adalah nyokap Zuo Lin, hehehe. Just kidding! Dia adalah teman kuliah Zuo Lin dan juga teman jalan-jalannya. OK, telpon berkali-kali tidak dibalas.

Napasku tiba-tiba sesak dan mataku pun berkunang-kunang. Penyakitku kambuh. Aku terkena memory flash. Semua pengalaman buruk di Bandung ketika menelpon melintas di mataku dan telingaku. Mustinya aku pergi ke psikolog untuk menghadapi semua trauma masa lalu ini.

Setelah aku sadar kembali. Aku menelpon Jie Hui, salah satu rekan kuliahku, yang juga teman dekat Zuo Lin. Tidak diangkat. Mungkin dia sibuk bekerja.

Lalu aku menelpon Jessie, salah satu rekan kuliahku dan Jie Hui. Diangkat. Ngobrol dan suara kresek-kresek lalu dia habis batere. Arggghhhhh. Aku tidak bisa bertanya kapan acara ini dimulai.

Air mata mengalir dari mataku. Akupun bertanya dalam diriku, apakah takdirku begini? Apakah kosmos tak mengijinkanku ikut acara ini. Aku melamun dalam kamarku. Apakah ini suatu karma akibat perbuatan buruk di masa lalu? Ataukah ini dosa turunan yang dilakukan bokap-nyokap atau eyang-eyangku?

Kata orang Jawa, "Gusti ora sare", yang artinya Tuhan tidak tidur. Aku teringat bahwa Zuo Lin memiliki pacar, yaitu Chanaka, rekan kuliahku. Aku juga mengikuti blognya. Aku harus mengontak Chanaka. Aku tidak punya nomor Chanaka. Tapi aku tak kehabisan akal. Kukontak Yonathan, rekan kuliahku dan Chanaka.

Aku bisa mengontak Yonathan. Aku juga bisa mendapat nomor telpon Chanaka. Hatiku berdebar-debar ketika menelpon Chanaka. Akankah dia mengangkat telponku. Pikiranku pun kalut karena aku menelpon sambil terkena penyakit memory flash. Bayang-bayang masa remaja ketika jantung berdebar menelpon cewe yang kutaksir tiba-tiba muncul. Woy, Chanaka itu cowo dan aku bukan homoseksual. Bayang-bayang menelpon dosen pembimbing meminta tanda-tangan ketika aku berniat mengumpulkan laporan TA di saat-saat injury time ketika di ITB juga tiba-tiba muncul. Kenapa jantungku berdegup kencang sekali?

Keluarlah suara Chanaka. Akupun terharu. Suaranya bagai Sri Rama, titisan Bhatara Wisnu, walaupun Chanaka berasal dari Srilanka, negeri Rahwana yang menculik Sinta, istri Sri Rama. Akupun teringat masa-masa kuliah tingkat 2 di ITB ketika berhasil menelpon seorang wanita untuk bikin janji pergi bareng.

Akan tetapi, penyakit ayan harus dikendalikan. Memory flash pun hilang dari mataku. Aku kembali ke alam sadar lagi. Aku meminta maaf kepada Chanaka karena meminta Yonathan memberitahu nomor telponnya. Ini bentuk rasa hormatku terhadap privasi kepada Chanaka dan Yonathan. Aku bertanya jam berapa acara dimulai. Chanaka menjawab jam 19.30. Tiba-tiba kresek-kresek dan hilang suaranya lalu putus. Akupun bengong.

Aku bersyukur kepada Tuhan karena tujuanku tercapai. Aku tahu kapan acara dimulai. Akupun mengontak Yonathan untuk berterimakasih sekaligus mengajaknya untuk ikut acara ini. Sayang sekali, dia lagi ingin di rumah dan sungkan untuk keluar rumah.

Apakah perjuangan telah mencapai kemenangan?
Ternyata belum!

Aku berangkat dengan gembira sambil bernyanyi-nyanyi. Aku merasa ceria karena bisa makan-makan bareng di rumah Zuo Lin bersama Si Cantik dan Chanaka serta rekan-rekan Cina yang lain. Aku membeli anggur merah sebagai pertanda bahwa aku tidak cuma bawa perut kosong ke acara yang aku tidak diundang. Sesampainya di kasir, aku membayar dan tersadar bahwa aku lupa bawa ponsel. Arrrghhh.

Akupun terhuyung-huyung. Mataku berkunang-kunang dan napasku sesak. Telpon genggam adalah satu-satunya cara untuk mengontak orang di sana. Karena nomor kamar dan bel tidak aku ketahui. Jadi telpon itu penting. Akupun merelakan diri ketinggalan bus menuju rumah Zuo Lin. Aku balik lagi ke rumah untuk mengambil ponsel. Sial! Aku harus menunggu bus 20 menit lagi.

Setelah itu, aku pergi ke halte dan menunggu bus berikutnya. Akupun murung dan duduk termenung di halte itu. Kepalaku pening. Udara dingin menusuk diriku namun tak setajam perasaan sedihku. Salju turun menemaniku kesedihanku. Aku tak bisa menelpon Si Cantik karena dia tak mau mengangkat. Aku juga tak mau mengganggu Yonathan yang lagi chatting sambil merayakan ulang tahun kekasihnya di Indonesia. Menelpon Chanaka juga kresek-kresek suaranya.

Kesepian seakan-akan menjalar bersama udara dingin dari kakiku menuju badanku lalu menghimpit dadaku hingga sesak. Kesadaranku melawan! Aku sadar bahwa aku tidak akan membiarkan kesepian membunuhku. Setidak-tidaknya bukan sekarang. Walau bayang-bayang masa lalu ketika aku berencana bunuh diri tiba-tiba muncul di halte itu, aku sadar bahwa aku tidak boleh menyerah.

Bus datang. Lampunya menyinariku bagai lidah api yang memberiku pencerahan Roh Kudus. Aku masuk bus dan hangatnya bagai belaian Tuhan kepada anak-Nya ini. Aku masih termenung. Semua rasa kesepian dari SD, SMP, SMA, kuliah S1, hingga kini kuliah S2 masih menyesakkan dadaku. Namun aku berjanji tidak akan menyerah kalah dari kesepian.

Aku sampai di Weidedamm. Perasaanku sedikit lega. Aku masih murung. Aku berjalan pelan. Tiba-tiba aku terpeleset. Lututku tertarik seakan-akan mau lepas. Aku biarkan diriku jatuh di jalan. Aku tak mau otot sobek dan lutut lepas. Akupun teringat cedera olahraga ketika kuliah S1. Dua kali lututku lepas (dislokasi) dan harus pergi ke dokter. Yang kedua, aku dioperasi. Saat dioperasi berbarengan dengan kejadian aku tertipu oleh seorang wanita. Akupun menangis di jalan memegangi lututku yang nyut-nyutan sambil kepalaku pening terbayang-bayang memori masa lalu.

Kemudian kesadaran memanggilku. Aku memegang lututku dan ternyata tidak lepas. Aku segera berdiri lalu berjalan tertatih-tatih menuju pintu asrama. Kucek botol wine juga tidak pecah. Kutelpon Chanaka karena aku sudah tak percaya Si Cantik lagi. Chanakapun turun. Kubersihkan badanku sambil kugerak-gerakkan kakiku untuk memulihkanku dari rasa sakit akibat jatuh. Aku juga memikirkan bagaimana caranya menyembunyikan muka bétéku. Tahun Baru Cina adalah hari bahagia jadi aku tidak ingin membawa "Schlechte Laune" alias "bad mood".

Chanaka datang dan membuka pintu. Akupun tersenyum bahagia. Ternyata senyum dan suara Chanaka menghapus sebagian besar kesedihanku. Namun sedikit murung masih nampak pada wajahku. Supaya Chanaka tidak banyak bertanya, aku bercerita bahwa aku terpeleset di depan.

Aku bertambah bahagia ketika bertemu kawan-kawan. Zuo Lin menendangku karena aku berkata "Gong Xi Fat Choy" namun entah kenapa dia mendengarnya "Gong Xi Fuck You". Aku membantu Si Cantik menggulung-gulung makanan: Dumpling rebus. Chanaka juga penuh cerita asyik, selain kemampuannya yang pas-pasan dalam membuat koktail. Tak berapa lama, Mas Dalang dan Mba Dalang datang. Semua kesedihanku terhapus. Aku tak perlu menyembunyikan kesedihanku dengan Poker Face di wajahku.

Aku makin terharu ketika makan dumpling rebus gotong royong. Walaupun aku memiliki shio Monyet, aku seperti anjing. Selalu setia kepada mereka yang memberi makan. Makanya sahabat selalu ada untukku, dari perut turun ke hati. Siapapun yang memberiku makanan enak tidak akan pernah hilang dari hatiku.

Di Tahun Macan ini aku diramalkan akan beruntung jika mengambil resiko. Aku mengambil resiko untuk datang ke acara ini, walau ada kemungkinan diusir karena tidak diundang dan kemungkinan telpon tidak diangkat oleh Chanaka. Ternyata aku tidak salah pilih. Acara ini menghiburku sebelum memasuki masa pantang seminggu berikutnya.

OK, berita buruknya adalah di tahun Macan, aku akan kehilangan seorang teman.
Tapi aku tak mau memikirkan siapa yang akan hilang. Toh, aku sudah kesepian. Hilang beberapa, tidak bakal banyak berbeda.

Tak berapa lama kemudian, datanglah Jie Hui, Jessie, dan Kevin. Wah, teman kuliah pada datang. Kamipun bercerita banyak. Lalu hari semakin malam, orang-orang Indonesia keluar dari kamar Zuo Lin dan pindah ke kamar Mas Dalang dan Mba Dalang. Si Cantik lagi punya urusan di sana. Setelah itu, Si Cantik dan aku pulang naik bus bersama lalu dia berganti bus dan kamipun pulang ke rumah masing-masing.

Hari berikutnya, aku juga punya acara makan-makan yang lain. Hehehe.

Sunday, March 7, 2010

CeBit 2010

Jumat, 5 Maret 2010 kemarin, aku pergi ke CeBit di Hannover. CeBit termasuk pameran elektronika besar di seluruh dunia. Banyak perusahaan dari berbagai negara datang ke Hannover Messe untuk pameran ini. Mereka terbagi dalam beberapa hall.

Aku pergi ke CeBit bersama Adip dan Kang Joko Teguh. Terjadi kecelakaan di stasiun Sebaldsbrück yang menyebabkan busku terlambat dan kereta ke Hannover memiliki jalur berbeda. Untung saja, aku dan kawan-kawan tidak ketinggalan kereta jam 8.18.

Di CeBit ini, aku tertarik dengan Green IT di Jerman. Letaknya di Hall 8. Karena kami sampai dari gerbang Utara, kami berjalan dari Hall 2 menuju Hall 8. Di sini, aku banyak mengambil brosur berisi grafik-grafik mengenai penggunaan energi dan pembuangan limbah elektronika.

Hal yang menarik di sana adalah ternyata pengolahan limbah di Jerman dikerjakan oleh perusahaan swasta. Di kotaku, Bremen, terdapat beberapa Recycling Center. Mereka bertanggungjawab dalam mengambil sampah. Recycling Center dibentuk oleh komunitas dan disponsori oleh negara, dalam hal ini Pemerintah kota (Bremen). Rumah tangga memilah-milah sampah dan sampah dibuang pada tempat masing-masing. Recycling Center mengutus truk sampah dan tukang sampah mengambil beberapa sampah (Gelbesack, Restemüll, Biomüll, dan Papier). Kita harus membuang botol ke kontainer. Sampah lain harus dibawa ke Recycling Center atau minta mereka mengirim truk (tentu harus bayar).

Penjelasan:
  • Gelbesäck, untuk bungkusan makanan dari plastik, kaleng, kertas alumunium (kotak susu dan jus), botol plastik, dll
  • Biomüll, untuk sampah bio atau organik, seperti daun-daunan dan sisa sayuran.
  • Papier, untuk kertas dan karton
  • Restemüll, untuk sampah lainnya yang bukan bahan beracun berbahaya (B3) dan bukan barang elektronika.
Recycling Center menyerahkan sampah-sampah yang sudah dipilah-pilah tersebut ke perusahaan swasta yang memiliki pengolahan sampah. Sampah yang bisa didaur-ulang dipotong kecil-kecil jadi granulat lalu dikirim ke perusahaan lain yang mendaur-ulang. Sampah organik yang bisa jadi kompos dibuat untuk campuran tanah dan pupuk.

Kembali ke CeBit, aku juga pergi ke Hall 9. Di sinilah tempat pameran penelitian universitas di Eropa. Sayang sekali, aku kurang lama di sini. Jadinya aku tidak dapat melihat perkembangan riset. Padahal aku ingin lanjut Ph.D. di Eropa. Lumayan, aku bisa melihat robot quadrotor yang bisa terbang dan hebatnya robot ini dikendalikan oleh iPhone dengan WiFi-nya. Sebelumnya aku melihat video di IEEE Spectrum. Kali ini, aku bersyukur bisa melihat dengan mata kepala sendiri.

Tiba-tiba Joko menghilang. Beliau memiliki kegemaran menghilang tiba-tiba. Tanpa telpon, sehingga sulit dikontak. Hanya orang yang memiliki kemampuan dukun saja yang bisa menemukan Beliau.

Adip dan aku menuju Hall 12 dan 13 untuk melihat Broadband World. Aku berharap untuk mendapatkan gambaran mengenai MIMO OFDM. Ternyata isinya adalah perusahaan-perusahaan yang menjual perangkat untuk broadband maupun menggunakan broadband. Tidak terlalu menarik.

Setelah itu, kami menuju Hall 14. Di sinilah aku bisa melihat CeBit Girls yang cuma pakai celana doang dan atasannya dicat (Body Painting). Sebagai pria heteroseksual yang jomblo, aku tertarik melihat yang kaya begini. Kemudian berlanjut Hall 15, 16, 17.

Yang menarik berikutnya adalah Hall 23 yaitu Intel Extreme Master. Di sini, aku bisa melihat wafer Intel Core i5. Adip dan aku didatangi oleh salah satu bos Intel Jerman. Beliau bercerita banyak mengenai chip Intel, SSD, dan Intel Nerd. Kami bisa melihat dan menyentuh chip Intel yang tidak di dalam package: Core Duo, Core i5, Core i7. Ternyata besarnya lebih kecil daripada ruas ujung jari telunjuk. Yang bikin besar adalah packaging.

Banyak orang yang mengobrol dengan Adip karena dia memiliki aura anak UI yang jago ngomong. Jadi teringat Mbah Mova. Nampaknya aku harus belajar banyak dari alumni UI bagaimana cara berkomunikasi yang baik dan menarik. UI di sini adalah Universitas Indonesia.

Sebetulnya banyak cerita CeBit lainnya yang tidak terlalu menarik bagiku. Waktu itu, Adip tertarik dengan Ubiquitous Computing. Dia tertarik dengan "meja" yang bisa menampilkan gambar bergerak dan bisa disentuh untuk mengendalikan gambar. Adip tertarik untuk bisnis alat ini di Indonesia. Kembali lagi, aku teringat Mbah Mova.

Setelah lelah, sekitar jam 4, Adip dan aku pergi ke Hannover HBf untuk mengambil kereta ke Bremen. Sesampainya di sana, kami membeli Berliner dingin yang murah. Di stasiunlah kesaktian teruji. Kami berhasil menemukan Joko Teguh di sana. Aku bilang Adip, hanya orang-orang yang bakal lama tinggal di Bremen yang bisa menemukan Joko. Hahaha! Adip pun berkata "Anjing! Sialan lu!". Nampaknya sih yang menemukan Joko adalah aku, bukan Adip. Sesama legenda Bremen memiliki kesaktian yang mendekati. Nampaknya aku bakal lama... sangat lama... lama sekali... tinggal di Bremen.

Kamipun kembali ke Bremen naik kereta membawa lelah dan suntuk, serta brosur tentu saja. Joko dengan kesaktiannya membuat kami bisa mendapatkan kursi di kereta yang penuh. Kamipun bisa tertidur dalam kereta dan tak harus berdiri.

Adip beruntung bisa berjalan bersama dua orang Legenda Bremen. Semoga dia tidak ikut menjadi legenda.

***


***